
Oleh: Taufiq Hidayat
Diri ini kerap melantunkan namamu dalam bentuk paling sopan
dari kamus hidupku tak lain sebagai rindu, dan bahkan penyesalan, tetapi ikhlas.
Satu kata terus kurajut untuk menyelimuti hatiku yang tak henti menggigil oleh bayang senyummu.
Aku biarkan dunia menceritakan lantangnya tawaku
bahwa tapak kakimu telah lenyap dari Kompas hidupku
padahal sesungguhnya, aku hanya memindahkanmu ke ruang yang lebih dingin
lebih beku, tempat di mana tak satupun seseorang mampu memelukmu, kecuali aku.
Beribu gumam tak berujung ku terus lantunkan
di sela malam yang pura-pura lengang.
Ada satu nama yang selalu kunyanyikan dalam bisu
meski suaraku tak seindah kicauan burung kenari yang selalu kau dengar.
Setiap detik aku selalu tersenyum mengingatmu dalam benakku melintas sekedar bayang
padahal hatiku masih memungut serpihanmu dalam bayang-bayang yang tak mau pergi.
Aku berusaha menggapaimu dengan cara yang tak pernah orang lain tahu
melalui sunyi, melalui isyarat yang tak pernah dimengerti
dalam setiap detik yang aku genggam agar tak membawamu hilang.
Heh…
Bukan ikhlas seperti yang aku katakan
aku hanya sedang menyamar menjadi hampa.
Sekedar belajar menjalani hidup dengan kehilangan yang tak akan pernah aku terima.
Karena tak sejengkal pun ruang di hati ini yang rela melepaskan
setelah sekuat itu tali kau ikat, lalu tiba-tiba kau memutusnya tanpa ada sepatah kata.
Mengapa ikatan seerat itu, kini putus tak lagi dapat tersambung?
