Oleh: Maisaroh, Mahasiswa Manajemen Dakwah Universitas UIN Sunan Kalijaga

Kita sibuk memahat menara di langit Jakarta.
tapi lupa, sumur-sumur di timur mengering perlahan.
Hutan digadaikan untuk pesta devisa,
sementara anak-anak menelan asap sebagai sarapan.

Di layar kaca, para pembesar bersajak tentang kemajuan.
tapi di sudut gelap, rakyat masih mengeja lapar.
Kita terlena dalam angka pertumbuhan,
lupa bahwa kemiskinan bukan data—melainkan luka.

Yang tersisa…
hanya senyap yang bersajak miris,
dan api kecil harapan yang masih menari di antara puing.

Jangan biarkan negeri ini hanya menjadi puisi yang terpotong—tanpa makna, tanpa nyawa, tanpa perubahan.

Untuk Indonesia yang masih mencari puisinya kembali.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA