Peta yang Hilang

Taufiq Hidayat, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kabut pagi masih menggantung malas dan matahari masih malu-malu menampakkan batang hidungnya, ketika itu Aini tertitih-tatih menyusuri jalan setapak menuju perpustakaan kampus. Tas ranselnya terasa lebih berat hari ini ketimbang sebelumya, bukan karena buku-buku teks filsafat Barat yang biasa ia rangkul kemana-mana, tapi karena tumpukan sebuah buku-buku tua bercover coklat yang dipinjamnya dari kakek sepekan yang lalu. Sampulnya sudah kusam tak enak dipandang, halamannya berbau apek menggelitik indra penciuman, tapi entah mengapa ia merasa ada banyak berlian berkilauan tersembunyi di dalam barisan-barisan kalimatnya.

“Aini, lagi baca harta karun apa nih?” tanya si Dimas, yang tiba-tiba muncul dari belakang dengan sebuah termos kopi dan buku Foucault di genggamannya yang seolah-olah telah menyatu dengan tangannya.

Aini menundukkan pandangan matanya pada buku tua di pangkuannya. “Ajaraning Diri, karya Ki Ageng Suryomentaram,” jawabnya seraya membelai halus sampul buku itu.

Dimas mengerenyitkan keningnya, lalu bertanya. “Lho, buat mata kuliah apa?”

“Buat mata kuliah jadi diri sendiri,” sahut Aini dengan senyum yang agak getir.


Empat bulan lalu, Aini merupakan primadona di lingkaran sarasehan filsafat kampus. Dengan tas hitam yang selalu iya sandang dan jaket denim yang selalu ia pakai, Aini dengan kelihaiannya bisa berdialektika berjam-jam tentang Derrida dan Heidegger tanpa jeda. Sampai suatu sore, di tengah membakarnya api semangat diskusi tentang “Fenomenologi Kesadaran”, salah seorang mahasiswa baru bertanya dengan muka polosnya: “Mas, mbak, apakah ada filsuf Indonesia yang membahas perihal kesadaran?”

Ruang diskusi mendadak hening tanpa secuil suarapun berbisik. Aini menatap wajah-wajah temannya satu persatu. Mereka semua, yah mereka semua – para “intelektual” kampus yang piawai berdebat tentang pemikiran Hegel dan Kant – ternyata sama bisunya. Saat itulah Aini merasa ada sentuhan di lubuk hati kecilnya seperti tersadar dari mimpi panjang yang meninabobokkan. Mereka tak lain seperti layaknya tamu di negerinya sendiri, fasih berbahasa orang lain tapi gagap ketika harus berbicara dalam bahasa ibunya.

Seketika malam itu, Ai menelepon kakeknya. Suara parau di seberang sana tertawa pelan.  Lalu kakeknya berkata “Kita punya banyak filsuf, Aini. Tapi mungkin kalian terlalu disibukan mengagum-ngagumi pemikiran orang lain sampai lupa melirik kekayaan sendiri.”

Keesokan harinya, tak lama setelah adzan ashar berkumandang sebuah paket berisi buku-buku tua tiba di depan kos-nya. Beberapa halamannya sudah terlihat rapuh, diselimuti debu yang berserakan, dan bahkan ada yang sampai dimakan rayap.


Menelusuri karya-karya Suryomentaram bagi Aini bagaikan menemukan sumber mata air di tengah dahaga berkepanjangan. Kalimat-kalimatnya sangat sederhana, mendayu layaknya obrolan seorang kakek pada cucu perempuannya, namun menyimpan kedalaman yang membuat Aini sering tertegun. Konsep “kawruh jiwa” tentang pengenalan diri ternyata tak kalah kompleks dengan “know thyself” dari Yunani kuno yang selama ini kita gaungkan. Ajaran “ngelimo roso” tentang memahami rasa ternyata juga tak kalah sophisticated dengan emotional intelligence ala Barat.

Di pojok-pojok kafe seberang kampus yang biasa mereka jadikan patilasan dalam siasatnya, Aini mencoba berbagi hasil telusurannya dengan Dimas. “Kamu tahu gak? konsep ‘nerimo ing pandum’ itu sebenarnya sangat dalam untuk kita jajaki. Bukan tentang pasrah begitu saja terhadap ketentuan takdir, tapi tentang penerimaan secara aktif – mirip amor fati-nya Nietzsche tapi lebih membumi rasanya dalam konteks kehidupan kita di negara tercinta ini.”

Dimas menggelengkan kepalanya sambil menyeruput pekatnya secangkir kopi. “Kau jadi terdengar seperti aktivis kebudayaan aja sih, Aini. Kita kan filsuf, harus objektif lah.”

“Justru dengan memandang sebelah mata akar identitas kita sendiri, kita sebenarnya sudah tidak objektif dari awal,” balas Aini lembut.

Percakapan mereka seketika terpotong di saat kelompok diskusi filsafat biasa mereka datang dengan wajah yang penuh gairah. Mereka sedang semangat-semangatnya membahas pemikiran Stoisme dan konsep pengendalian diri ala Marcus Aurelius.

“Aini, kau pasti setujukan bahwa kita perlu mengendalikan emosi sebagaimana ajaran Stoa?” tanya salah seorang dengan semangat.

Dengan tenang Aini menjawab: “Ki Ageng Suryomentaram juga mengajarkan kita hal serupa kok! Tapi dalam konsep ‘ngelimo roso’, artinya, konsep ini mengajarkan kita tidak hanya mengendalikan emosi saja, tapi juga upaya memahami asal-usulnya, merangkulnya, lalu mengolahnya menjadi energi positif.”

Seketika itu, keriuhan dialog seketika menjadi sunyi. Beberapa wajah tampak sinis, beberapa lainnya terlihat kebingungan, tapi beberapa lainnya, tak luput juga mata Dimas mulai menunjukkan kilat ketertarikan.


Pertemuan dengan Profesor Ari di ruang kerjanya yang berantakan menjadi semacam pencerahan di lorong-lorong sudut yang gelap. Dosen tua yang pernah belajar di Jerman dan Prancis itu justru paling mendukung perjalanan Aini.

“Di Eropa dahulu, aku justru salah satu mahasiswa yang paling dihargai ketika membawa perspektif Nusantara,” katanya suatu sore sambil menyeruput tehnya yang sedikit gula. “Mereka justru haus akan sesuatu yang berbeda, sementara kita di sini malah sibuk mengekor pada mereka.”

Dia menunjukkan tumpukan disertasinya tentang filsafat Nusantara yang ternyata lebih tebal dari yang Aini bayangkan sebelumnya. “Kita ini seperti punya mutiara yang sangat berharga tapi sayangnya kita malah menganggapnya sekedar bongkahan kerikil, sementara orang lain jauh di seberang sana justru bisa melihat nilai berharganya.”


Sedikit demi sedikit, perubahan sudah mulai terlihat. Si Dimas mulai sering kali terlihat mondar-mandir ke perpustakaan dengan gagahnya merangkul buku-buku fotokopian tentang pemikiran Nusantara. Bahkan di suatu hari, ia datang dengan mata yang berbinar-binar menemui Aini.

“Ai… Aini, ternyata selama ini kau benar! Aku baru membaca tentang konsep ‘andhap asor’ dalam budaya Jawa. Ternyata ini tidak sekadar rendah hati, tapi sebuah kesadaran filosofis yang dalam tentang relasi manusia yang setara!”

Lambat-laun mereka pun mulai mengadakan diskusi informal setiap sabtu malam. Dari awalnya yang cuma tiga orang, dalam waktu sebulan sudah ada lima belas mahasiswa yang rutin hadir menyumbangkan pemikirannya. Mereka membahas dari konsep “memayu hayuning bawono” dalam hubungannya dengan ekofilsafat modern, hingga pemikiran Tan Malaka tentang materialisme dialektis.

Yang mengejutkan, beberapa mahasiswa asing dari program pertukaran pelajar satu-persatu mulai berdatangan juga ingin bergabung.

“Kami justru tertarik mempelajari filsafat lokal Nusantara,” kata seorang mahasiswa asal Jerman dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata. “Di kampus kami, perspektif non-Barat justru yang paling kita cari.”

Enam bulan kemudian, ruang diskusi mereka telah sampai pada tahap perubahan total. Dindingnya yang dulu polos dengan identitasnya sendiri kini dipenuhi warna kutipan-kutipan dari berbagai filsuf Nusantara. Meja yang membentang di tengah ruangan yang disinari lampu neon di atasnya kini selalu sesak dengan tumpukan buku-buku yang dulu diabaikan – dari karya Syekh Siti Jenar, pemikiran Nurcholish Madjid, esai-esai Sutan Sjahrir, hingga tulisan kontemporer tentang filsafat Indonesia modern.

Aini kini tidak lagi merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Setiap kali ia membuka lembar demi lembar karya Suryomentaram, ia merasa seperti sedang berdialog dengan leluhurnya sendiri, memahami cara berpikir yang selama ini telah terabaikan tapi ternyata sangat dekat dengan jiwanya.

Hingga sampai di akhir semester, mereka mengadakan seminar kecil-kecilan yang bertajuk “Merajut Kembali Pemikiran Nusantara”. Di mana ruangan yang mereka sewa penuh sesak hingga banyak yang harus berdiri, namun tak sedikitpun mengikis kesemangatannya untuk menyimak dan berdiskusi. Profesor Ari duduk di barisan depan, wajahnya berkerut senyum bangga.

“Saya ingin berbagi tentang perjalanan intelektual saya,” kata Aini dengan suara sedikit gemetar di atas panggung. “Kita tidak perlu menolak pemikiran Barat, tapi kita juga tidak perlu menjadi pengekor buta. Filsafat Nusantara bukan sekadar warisan usang, tapi living tradition yang bisa terus hidup dan berdialog dengan zaman.” Demikianlah sorak sorai dan tepuk tangan mengiringinya.

Saat turun dari panggung, Dimas menyambutnya dengan pelukan hangat. “Terima kasih, terima kasih telah menunjukkan peta yang hilang itu, Aini.”

Malam itu, sambil berjalan pulang di bawah sinar rembulan dan langit yang dihiasi bintang-bintang, Aini teringat kata-kata Profesor Ari sebelumnya: “Kecerdasan sejati bukan tentang seberapa banyak teori Barat yang kau hafal, tapi kemampuan untuk berdiri di banyak dunia tanpa kehilangan diri di salah satunya.”

Ia kini memahami bahwa perjalanannya baru benar-benar dimulai. Masih banyak yang harus digali, masih banyak yang perlu disirat ulang, masih banyak yang harus didialogkan. Tapi setidaknya, ia dan kawan-kawannya telah menemukan kembali peta yang hilang – peta yang akan menuntun mereka pulang ke khazanah intelektual negeri sendiri, sambil tetap membuka jendela lebar-lebar untuk berdialog dengan dunia.

Dan seperti yang ditulisnya dalam artikel pribadinya pada malam itu: “Kita tidak bisa membangun menara mercusuar yang dapat memberikan petunjuk kapal di lautan yang luas di atas fondasi yang rapuh. Tapi kita juga tidak perlu membongkar menara yang sudah berdiri – cukup perkuat fondasinya, rawat akarnya, maka kita akan bisa membangun menara yang lebih tinggi dan lebih terang sinarnya, yang kakinya tertancap kuat di tanah sendiri dan puncaknya menjangkau langit biru peradaban global.”