Permata Yang Hancur Di Kota

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda bernama Faisal, seorang santri yang dikenal alim di salah satu pondok pesantren di Desa Sumala. Karena keilmuannya yang cukup mendalam, para pengurus pesantren mempercayakan Faisal untuk mengajar santri-santri yang lebih muda agar ilmunya bermanfaat bagi orang lain.

Seiring berjalannya waktu, Faisal menyelesaikan pendidikan formalnya. Namun hatinya masih menyimpan keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Dengan penuh rasa hormat, ia memberanikan diri menghadap KH. Sahdan, pengasuh pondok pesantren tempat ia menimba ilmu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Kyai,” ucap Faisal sambil mengetuk pintu dengan nada penuh ta’dzim.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz,” jawab Kyai Sahdan sambil membuka pintu. “Monggo, Ustadz, silakan masuk,” lanjutnya, sembari menunjuk ke arah sofa di ruang tamu.

“Nggih, Pak Kyai,” jawab Faisal sambil melangkah pelan menuju sofa yang telah disediakan.

Setelah Faisal duduk, Kyai memanggil salah satu santri putri (kabhuleh) untuk membuatkan kopi. Kyai kemudian ikut duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Faisal.

“Monggo, Ustadz, silakan dicicipi snack-nya. Hanya ini yang kami punya,” ujar Kyai sambil membuka toples.

“Nggih, Kyai,” jawab Faisal sopan.

Setelah suasana hening sejenak, Kyai bertanya pelan, “Jadi, ada keperluan apa Ustaz kemari?”

Faisal menunduk hormat. “Begini, Pak Kyai… saya ingin izin boyong.”

“Oh begitu. Kenapa tiba-tiba ingin boyong?” tanya Kyai.

“Saya ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi, Pak Kyai.”

“Kira-kira Ustadz mau melanjutkan ke mana?”

“Insyaallah ke Yogyakarta, Pak Kyai.”

Kyai mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, Ustaz. Yang penting jangan lupakan nilai-nilai agama. Jaga shalat, jangan sampai bolong. Dan satu lagi, hati-hati dalam pergaulan. Jangan sampai tujuan Ustadz kuliah justru menjauh dari ilmu dan keberkahan.”

“Nggih, insyaallah, Pak Kyai,” jawab Faisal sambil menunduk khidmat.

Di tengah obrolan, santri putri yang tadi dipanggil datang membawa kopi.
“Ini kopinya, Kyai.”

“Taruh di sini,” kata Kyai sambil menunjuk meja.

“Monggo, Ustadz, silahkan kopinya diminum.”

“Nggih, Kyai.”

Setelah itu Kyai kembali bertanya,

“Kira-kira kapan berangkatnya ke Jogja?”

“Insyaallah dua hari lagi, Pak Kyai.”

“Ya sudah, Ustadz. Hati-hati di perjalanan. Jangan lupa sesekali silaturahmi ke sini kalau sudah pulang dari Jogja nanti.”

“Nggih, Pak Kyai,” jawab Faisal penuh hormat.

2 hari kemudian…..

Faisal menundukkan kepala, mencium tangan kedua orang tuanya. Suasana pagi itu terasa berat. Udara masih dingin, tapi hatinya lebih dingin oleh rasa haru. Ia hendak berangkat ke terminal—meninggalkan rumah, kampung, dan masa kecilnya untuk menjemput masa depan di kota orang.

“Assalamualaikum, Bu, Pak… Faisal pamit berangkat. Tolong doakan,” ucapnya lirih.

Ibunya menahan tangis, sementara ayahnya hanya mengusap pundaknya pelan. Adiknya, Rizki, sudah menunggu di atas motor, siap mengantar ke terminal.

Perjalanan ke terminal terasa sunyi. Hanya suara angin dan detak jantung yang terus berpacu karena rasa rindu yang mulai tumbuh bahkan sebelum pergi.

Sesampainya di terminal, Faisal turun dari motor. Di depannya, bus Mila jurusan Madura–Yogyakarta sudah terparkir, mesinnya menyala pelan.

Faisal menoleh pada Rizki, menatap adiknya itu lama-lama.

“Riz… kakak berangkat dulu, ya. Jaga Ibu dan Bapak. Kalau ada apa-apa, langsung telepon,” ucapnya, sambil mengulurkan tangan.

Rizki menggenggam tangan itu, lalu menunduk mencium punggungnya.
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan. Semangat kuliahnya. Jangan lupa kabarin Rizki kalau sudah sampai,” suaranya bergetar, tapi ia berusaha tersenyum.

Faisal mengusap kepala adiknya, lalu melangkah naik ke dalam bus. Dari jendela, ia melambaikan tangan kecilnya. Rizki membalas, berdiri diam hingga bus bergerak, membawa kakaknya menjauh dari pandangannya.

Perjalanan panjang akhirnya mengantarkan Faisal tiba di Yogyakarta. Hari pertama terasa asing, tapi juga menggetarkan. Ia diterima di kampus pendidikan Islam, jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Lingkungan kampus religius, teman-temannya ramah, dan kehidupannya tampak penuh harapan baru.

Hari-hari awal berjalan indah. Faisal rajin kuliah, sering ikut kajian, dan tetap menjaga amanah dari kyainya: sholat, adab, dan akhlak.

Namun, waktu berjalan, pergaulan semakin luas. Ia mulai ikut nongkrong bersama teman-teman kampus yang hidup lebih bebas. Awalnya hanya ngobrol, tertawa, bercanda.

Hingga suatu malam, seorang teman berkata,“Sal, coba sekali aja. Ini minuman biasa kok, cuma buat nyantai. Kamu kan di kota sekarang.”

Faisal menggeleng pelan.“Maaf, aku nggak biasa. Aku janji sama Kyai.”

Mereka tertawa kecil, tapi terus mengajak. Hari berikutnya, ajakan datang lagi. Begitu terus berulang, seperti ombak kecil yang perlahan mengikis karang.

Dan pada suatu titik, ketika iman menurun dan hati mulai lelah melawan, Faisal mengambil gelas itu.

Seteguk pertama membuatnya diam. Seteguk kedua membuatnya lupa pesan kampung halaman. Perlahan, dosa bukan lagi terasa sebagai dosa… melainkan kebiasaan.

Godaan tidak berhenti di situ. Dari minuman, Faisal mulai dekat dengan Dina teman perempuannya di kampus. Obrolan menjadi lebih pribadi, pertemuan lebih sering, hingga batas-batas syariat mulai dilanggar. Suatu malam, keduanya terseret dalam hubungan yang tidak seharusnya dilakukan oleh mereka berdua.

Setiap selesai berbuat, ada rasa bersalah. Tapi nafsu dan lingkungan terus menyeretnya. Ia mulai jarang shalat, jarang membaca Qur’an, bahkan jarang menghubungi orang tuanya. Kyai yang dulu ia hormati, hanya tinggal bayangan dalam ingatan.

Hingga suatu malam, Faisal pulang ke kos dalam keadaan mabuk. Ia menatap wajahnya di cermin. Matanya merah, wajahnya pucat.

“Aku sudah jadi apa?” batinnya berteriak.

Air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Malam itu ia sujud lama sekali—untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak melakukan sujud.

Keesokan paginya, tanpa pikir panjang, ia mengemas barang, membeli tiket, dan naik bus pulang ke kampung.

Sesampainya di pondok, ia langsung menemui Kyai. Dengan tubuh gemetar dan wajah penuh air mata, ia bersimpuh di hadapan Kyai Sahdan.

“Pak Kyai… saya… saya sudah hancur. Saya minum, saya berzina. Saya lupa semua nasihat Kyai. Saya khianati doa orang tua…”

Tangisnya pecah. Suaranya patah-patah. Ibunya yang datang belakangan hanya bisa menangis, menutup mulut dengan kerudungnya.

Kyai tidak menghardik, tidak marah. Beliau mendekat, menepuk bahu Faisal perlahan.
“Nak… Allah tidak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya. Yang penting sekarang, jangan ulangi. Bangkitlah. Bersihkan dirimu, perbaiki shalatmu, dekat lagi dengan Al-Qur’an.”

Faisal menangis keras di pangkuan Kyainya, seperti anak kecil yang ketakutan.
Hari itu bukan akhir bagi Faisal—melainkan awal. Awal dari perjalanan pulang… bukan hanya ke rumah, tapi kepada Allah.