Oleh: Geertz Joe
IMABA Yogyakarta selalu dipahami sebagai organisasi istimewa dari pecahan Dewan Penguruss Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Bata-bata (IMABA) di mana kta istimewa ini bukan hanya di akui dikalangan IMABA sendiri namun juga mendapat pengakuan dari salah satu pengasuh PP. Mambaul Ulum Bata-bata saat itu. Kita semua tahu sejarah pertama kali IMABA Yogyakarta dideklarasikan pada tanggal 25 januari 2005, tentang bagaimana taretan Syaifuddin, Ali Makki, Abdul Hamid, Asy’ari, Abdul Hannan dan kawan-kawannya di masa itu berdiri tegak menghadapi berbagai macam kendala yang mempersulit terbentuknya IMABA Yogyakarta saat itu; sebagaimana tempat/beascamp masih belum ada, para kader yang terpisah-pisah, teknologi informasi yang masih kita anggap suli, dan berbagai macam kendala lainnya, namun hal ini dapat mereka lewati dan dapat membawa IMABA terus bertahan hingga saat ini.
Tapi pertanyaan yang terus menggema yang sering kita abaikan adalah: apakah semangat itu masih ada di antara kita? Atau jangan-jangan kita hanya menjadi pewaris yang sekadar menikmati warisan tanpa benar-benar memahami nilainya?
Hari ini, IMABA menghadapi tantangan yang tidak lagi sama seperti masa lalu. Ancaman fisik, tekanan sarana dan prasarana yang tidak memadai, atau tidak efektifnya jaringan komunikasi antar kader yang menghambat langsung, kini telah berganti wujud. Tantangan kita hari ini lebih halus, tetapi jauh lebih berbahaya: krisis sensitivitas, malas membaca, dan pragmatisme yang menyesakkan.
Namun mari kita mulai terlebih dahulu dengan berbicara soal budaya membaca. Kita semua tahu, membaca adalah pintu dari segala pintu. Namun, berapa banyak dari kita yang masih benar-benar menjadikannya sebagai sandaran pengetahuan atau bahkan sandaran untuk menjajaki kehidupan? Sebagian besar kader hanya membaca jika itu untuk memenuhi tugas kuliah, sekedar menghilangkan kewajiban dalam kegiatan, dan yang paling parah – mohon maaf saya gak kuat nahan tawa..! – malah menjadi ulat yang menggrogoti apel hingga akhirnya membusuk.
Bahkan, seminar dan diskusi yang seharusnya menjadi ruang belajar sering kali berubah menjadi rutinitas kosong. Padahal, tanpa membaca, bagaimana mungkin kita memahami realitas secara mendalam? Bagaimana mungkin bisa membentuk diri kita sendiri sebagai insan ulil albab – manusia yang bijak dan berpikir kritis? Apalagi kita sebagai organisasi yang menyandang gelar dualisme – mahasiswa dan santri, yang tentunya hal ini lebih berat dari sekadar menjadi mahasiswa saja.
Malas membaca bukan hanya sekadar kebiasaan buruk, Ia menjadi tanda dari krisis yang lebih mendasar. Ini mencerminkan hilangnya rasa ingin tahu, hilangnya kepekaan terhadap pengetahuan, dan pada akhirnya hilangnya semangat intelektual. Yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak kader merasa tidak perlu lagi belajar. Seolah-olah menjadi kader IMABA sudah cukup untuk mendefinisikan siapa mereka.
Dan yang paling memalukan, saya kemaren mencoba berdialog dengan sebagian kader, menanyakan perihal krisis literasi membaca yang melanda ini. Lucunya sebagain kader tersebut memiliki alasan bahwa; “membaca buku bukanlah fashion saya” dan “membaca buku bukan kesukaan saya” yang tanpa rasa malu mereka bangga akan alasan yang mereka punya, sungguh hal ini mebuat perutku sakit saking parahnya aku tertawa.
Di sisi lain, pragmatisme semakin menancapkan cengkeramannya. Banyak para kader yang kini sibuk dengan kepentingan peribadinya saja, bahkan tanpa mengindahkan nama kebesaran IMABA. Orientasi nilai religius, akademis, dan transformatif yang sejak duhulu menjadi falsafah IMABA perlahan memudar. Kita lebih sering melihat kader sibuk hedonis semata, daripada benar-benar menghidupkan nilai-nilai organisasi.
Ironisnya, Banyak kader yang kehilangan fokus. Konflik internal semakin sering terjadi, sering kali karena benturan kepentingan. Nilai-nilai dasar seperti tiga falsafah IMABA yang seharusnya menjadi pegangan justru terpinggirkan. Kita jarang mendengar kader berbicara tentang keislaman secara mendalam, tentang keilmuan yang progresif, atau tentang bagaimana menerjemahkan nilai keislaman dalam konteks modern.
Padahal, tiga falsafah itu bukan sekadar slogan belaka. Ia adalah jiwa dari IMABA, panduan yang seharusnya membentuk karakter setiap kader. Tapi, bagaimana kita bisa bicara soal nilai jika kader sendiri enggan untuk belajar? Bagaimana kita bisa membangun dobrakan besar dan kemajuan jika refleksi mendalam saja dianggap tidak penting?
Situasi ini membuat kita merenung: apakah IMABA masih berjalan di jalur yang benar?. Atau, jangan-jangan, kita sudah tersesat jauh? Ketika organisasi lebih sibuk dengan seremonial daripada esensi, ketika diskusi lebih sering menjadi ajang pamer daripada berbagi ilmu, maka ada sesuatu yang salah dan hal ini berakibat fatal.
Tantangan terbesar kita bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Krisis identitas yang kita alami adalah hasil dari hilangnya fokus pada nilai-nilai dasar. Kita terlalu sibuk dengan urusan hedonis, terlalu sering terjebak dalam rutinitas saja, hingga lupa bahwa menjadi kader IMABA adalah soal tanggung jawab.
Lebih menyedihkan lagi, banyak kader yang merasa cukup hanya dengan membawa nama kebesaran IMABA Yogyakarta. Mereka bangga dengan label “kader IMABA yang katanya paling istimewa dari pada lainnya” tetapi lupa bahwa label itu membawa konsekuensi besar. Menjadi kader IMABA Yogyakarta berarti memikul amanah untuk menjadi agen perubahan, bukan sekadar pengikut arus, yang bahkan arusnya pun bagai banjir bandang yang kotor, wkwkwk..!
Namun, hari ini kita justru semakin jauh dari itu. Kita lebih sering berbicara soal teknis daripada ideologi, lebih sibuk mengurus kepentingan bersama daripada berbicara tentang keberlanjutan IMABA. Di tengah semua ini, nilai-nilai besar yang dulu menjadi alasan kokohnya IMABA perlahan terkikis.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menemukan solusi, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita lakukan? Apakah kita benar-benar memahami misi besar berdirinya IMABA, atau kita hanya berjalan tanpa arah dan tanpa kompas digenggaman kita?
IMABA Yogyakarya bukan sekadar organisasi mahasiswa santri. Ia adalah cerminan dari perjuangan dan mimpi besar para pendiri dan harapan para guru-guru kita bersama. Tapi, jika kita terus berjalan seperti ini, apa yang akan tersisa dari IMABA di masa depan? Mungkin hanya nama. Dan itu bukan warisan yang ingin kita tinggalkan bukan?