Oleh: Geertz Joe
Ngomong-ngomong perihal IMABA Yogyakarta, di satu masa kepengurusan yang semakin mengakui pentingnya penerapan literasi untuk kemajuan sebuah organisasi, saya sebagai anggota yang memiliki satu mata sering menjumpai fenomena menarik dan dapat membuat kita tertawa: individu atau deparetemen yang mengemban amanah sebagai penanggung jawab pengembangan literasi para anggota justru tidak menunjukkan sikap seorang literat sejati, bahkan dapat saya katakan dengan satu mata ini dengan jelas dapat melihat, bukan saja tidak tergambar sebagai seorang literat sejati. Tetapi lebih memilukan sebagai penanggung jawab “melarat literasi”. Paradoks ini tidak hanya ironis tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan budaya baca-tulis yang sesungguhnya.
Sikap literat yang dimaksud melampaui sekadar kemampuan membaca dan menulis. Seorang literat sejati (apalagi sebagai penanggung jawab pengembangan literasi) bukan hanya perlu, tetapi menjadi keharusan memiliki karakteristik seperti keingintahuan intelektual yang tinggi, keterbukaan pikiran, kemampuan berpikir kritis, kedalaman analisis, dan yang terpenting – Integritas antara pengetahuan yang dimiliki dengan tindakan nyata. Mereka sebagai figur yang seharusnya menjadi pembelajar sepanjang hayat yang menghargai proses dan substansi.
Namun, dalam praktiknya, dan ini perlu kita refleksikan kembali, banyak “penjaga gawang literasi” – lebih-lebih di IMABA Yogyakarta, justru terjebak dalam keadaan kontradiksi. Seorang yang diberi amanah di departemen RPKK (Riset Pengembangan Kajian dan Kepenulisan) yang pada seharusnya bangga dengan koleksi buku tetapi tidak pernah terlihat membaca dan lebih parahnya koleksi buku pun gak punya; individu yang menganjurkan anggota mencintai kebiasaan membaca dan menulis tetapi sendiri tidak pernah terbesit sedikit pun untuk membaca lebih jauh dari para anggota atau bahkan menulis karya yang lebih berkualitas daripada mereka; kerap kali disetiap momen, lebih-lebih didepan para anggota baru begitu gencar dan tanpa sedikitpun merasa gemetar berkampanye literasi tetapi tindakan realitasnya justru membunuh kreativitas literasi – semua ini sebagai contoh nyata paradoks ini.
Akar masalahnya tidak terlalu kompleks, mungkin lebih memalukan, dan mari kita lihat salah satu titik kritisnya justru berada pada level penanggung jawab. Seringkali, penunjukan “figur” penanggung jawab literasi di IMABA Yogyakarta lebih bersifat formalistik dan tidak menyentuh esensi sama sekali. Masalahnya menjadi makin parah ketika figur-figur ini (RPKK) justru tidak memberikan contoh yang seharusnya. Mereka mungkin hadir dalam struktur organisasi, tetapi absen dalam jiwa dan aksi. Yang lebih memperihatinkan, mereka tidak memiliki kesadaran sedikit pun akan tanggung jawab besar yang diembannya ini. Alih-alih menjadi motor penggerak, keberadaan mereka justru menjadi simbol dari sekadar pencatatan administratif belaka, karena literasi tidak lagi dilihat sebagai proses transformasi pikiran, melainkan sebagai beban administratif semata. Ah… entah, ini terlalu memalukan bagi kita sebagai organisasi yang selalu dibangga-banggakan.
Dampak dari paradoks ini sangatlah signifikan. Ketika teladan literasi tidak mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan, muncul sikap sinis dan hipokrisi yang justru merusak fondasi budaya literasi. Para anggota, terutama kader yang baru menjadi keluarga, akan melihat literasi sebagai beban administratif belaka, bukan sebagai jalan untuk memperkaya kehidupan yang seharusnya.
Oleh karena itu, di tengah kegelisahan ini, pantas kita merenung bersama: Bukankah tanggung jawab literasi sejatinya merupakan amanah untuk membangun keberlanjutan, bukan sekadar mengisi portofolio kepengurusan saja?
Lalu, sudah siapkah kita, sebagai keluarga besar IMABA Yogyakarta, untuk melakukan koreksi kolektif – tidak hanya menuntut perubahan di tingkat pengurus saja, tetapi juga memulai dari diri sendiri – agar tidak menjadi bagian dari lingkaran “kemelaratan literasi” ini?
Dan yang terpenting, kapankah momentum bagi organisasi kita untuk berani menata ulang sistem, sehingga individu yang bertanggung jawab menjadi penjaga gawang literasi benar-benar dilandasi oleh kesadaran keilmuan dan keteladanan nyata, bukan hanya oleh daftar nama dalam struktur organisasi yang dipampang didinding yang entah terlalu membosankan untuk dipandang?