Oleh: Mohammmad Fawaid Ali, Mahasiswa Informatika Universitas PGRI Yogyakarta

Aku terbaring di halaman waktu,
seperti bayang jatuh ke pangkuan senja,
biarlah raga larut jadi debu,
diterbangkan angin, dilenyapkan hujan.
Namun jiwa tetap bernafas pelan—
seperti sebutir debu yang enggan lenyap,
menjadi suara tak tersapu zaman.

Mahkota diri boleh runtuh di ribaan waktu,
pilar ragaku bisa retak digerus musim,
namun bisik yang menembus kabut,
tetap berpendar di relung sepi,
seperti bintang yang menolak padam,
di tengah langit yang dipenuhi badai.

Aku menjadi bisik yang menolak padam,
menjadi arus lembut yang menyusuri lorong sejarah,
meski setiap debu ragaku diterpa angin,
suara tetap menuntun jejak langkahku,
menentang kegelapan yang merayap perlahan.

Jika kelak waktu demi waktu berlalu,
jeritan rakyat masih bergema,
air mata jatuh bagai embun di ujung pagi,
maka kalian, wahai mahasiswa
jangan berpaling dari cermin waktu,
sebab darah itu pun menetes di tangan kalian.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA