Oleh Mohammad Ikhsan, Mahasiswa Informatika Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Malam itu, langit terlihat seperti kanvas yang lupa dilukis oleh pemiliknya. Tak ada bintang, tak ada bulan—hanya angin yang menderu pelan di antara genteng-genteng tua rumahku. Di kampung ini, hal-hal aneh bukanlah sesuatu yang baru, tapi juga bukan sesuatu yang dibicarakan. Kami lebih suka memeluk rahasia dalam diam, seperti bagaimana aku tahu ada sesuatu yang hidup di balik dinding kamarku … sejak malam itu.

Malam kedua, suara yang sama kembali terdengar di telingaku. Bukan suara keras. Hanya desir—seperti suara daun yang disentuh hujan ragu-ragu. Tapi itu bukan hujan. Karena langit malam itu pun tak berubah. Masih gelap. Masih kosong. Masih seperti menyimpan sesuatu yang belum siap ditunjukkan pada dunia.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap dinding di sebelah lemari tua warisan kakek. Dinding yang tak pernah kupedulikan sebelumnya. Tapi sejak malam pertama itu, ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Ia seperti… bernapas.

sesuatu yang membuatnya berbeda. Ia seperti… bernapas.

Tangan kananku gemetar saat menyentuh permukaannya. Kayu itu hangat. Bukan hangat karena matahari, tapi hangat seperti tubuh seseorang yang sedang menunggu. Lalu—seolah mengerti keinginanku—lemari itu berderit sendiri. Perlahan. Pelan. Memberi jalan pada celah kecil di belakangnya.

Ada cahaya di sana. Cahaya ungu yang berdenyut seperti jantung. Tak menyilaukan, tapi cukup untuk membuat detak jantungku berpacu.

Aku mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Lalu jongkok. Di balik celah itu, aku melihat sebuah jalan setapak dari batu, memanjang ke hutan yang belum pernah kulihat selama ini di belakang rumah. Kabut melayang rendah. Di ujung jalan, ada sosok… seperti manusia. Tapi terlalu tinggi. Dan matanya memancarkan cahaya.

“Raka….” Aku tersentak. Sosok itu memanggil namaku. Tanpa suara. Tanpa bibir bergerak. Tapi namaku bergema di kepalaku, seperti doa yang belum pernah kupanjatkan.

Aku ingin mundur, tapi kaki kiriku sudah melangkah lebih dulu. Dan dunia di seberang celah itu menelanku, tanpa sempat kuucapkan satu pun kata perpisahan.

Angin pertama yang menyambutku di dunia itu bukan dingin. Ia hangat. Tapi bukan hangat yang menenangkan—melainkan hangat yang membuatmu merasa seperti sedang dipanggil pulang oleh kenangan yang tak kau ingat pernah kau miliki.

Langkahku menyusuri jalan batu itu seperti melangkah di antara waktu. Langit di atas bukan biru, melainkan ungu pucat, seperti senja yang malu-malu datang terlalu awal. Di kanan-kiri jalan, pepohonan menjulang tinggi. Tapi tak satu pun daun yang gugur. Semuanya diam. Seperti menahan napas.

Di ujung jalan, sosok itu masih berdiri. Tubuhnya tinggi, jubahnya berkilau seperti air yang memantulkan cahaya bintang. Tapi wajahnya tak pernah benar-benar terlihat. Ia seperti bayangan yang diambil dari cermin buram.

“Kamu sudah datang lebih cepat dari yang kami perkirakan,” katanya. Suaranya tak terdengar, tapi terasa—langsung masuk ke tulang belakangku.

Aku tidak menjawab. Karena entah kenapa, mulutku seperti tak punya hak untuk bicara di dunia ini.

“Kamu adalah Pewaris Kunci Rumah Tua. Dan hanya kamu yang bisa membuka ingatan yang selama ini dikunci oleh waktu.”

“Apa maksudmu?” Suaraku akhirnya keluar, pelan, nyaris tenggelam oleh desir kabut.

Sosok itu melambaikan tangan. Kabut terbuka. Dan aku melihat … rumahku. Tapi bukan seperti sekarang. Rumahku, dengan halaman penuh bunga, dan di terasnya—ada Ibu. Muda. Tersenyum. Menemani anak kecilnya bermain. Anak kecil itu… aku.

“Tempat ini menyimpan apa yang telah dilupakan. Dan setiap orang yang masuk akan menemukan bagian dari dirinya yang pernah hilang.”

Hatiku bergetar. Ada sesuatu yang hangat mengalir di balik mata. Aku belum mengerti, tapi aku tahu… aku harus terus berjalan.

Langkahku makin pelan. Jalan di depan perlahan berubah. Tak lagi dari batu, tapi dari potongan-potongan gambar. Foto-foto. Kenangan.

Aku melangkah di atasnya, melihat potongan masa kecil yang bahkan tak kuingat pernah terjadi. Aku—berlari di tengah hujan, tertawa bersama seseorang yang wajahnya buram, menyimpan sesuatu dalam kotak kayu kecil di bawah lantai kamarku.

“Manusia kadang terlalu cepat dewasa. Terlalu cepat melupakan, hanya karena dunia memintanya kuat.”

“Jadi ini semua nyata?”

“Lebih nyata dari luka yang kau sembunyikan.”

Aku diam. Karena ada benarnya. Sejak Ayah pergi—atau lebih tepatnya menghilang saat aku berusia sepuluh tahun—rumah itu berubah sunyi. Ibu berhenti menyanyi saat memasak. Aku berhenti bertanya.

“Kotak itu… yang kau sembunyikan di bawah lantai. Ingatanmu telah menguburnya rapat.”

Mataku terbelalak. Aku mengangguk perlahan. Kakiku melangkah sendiri, dan jalan kenangan itu kini membawaku kembali ke kamarku—versi dunia ini. Tapi warnanya lebih hangat. Tak ada debu. Tak ada bunyi tikus. Hanya cahaya lembut dari lampu gantung yang tak pernah kupunya.

Di bawah lantai kayu, aku berjongkok. Tanganku menyentuh celah kecil. Dan ya, di sana… sebuah kotak kecil, berdebu, berukir nama: “Raka & Ayah”.

Tanganku gemetar saat membukanya. Di dalamnya ada mainan mobil-mobilan, surat bergambar stickman, dan—foto. Aku dan Ayah, duduk di teras rumah, tertawa. Di balik foto itu ada tulisan tangan: “Kalau suatu hari Ayah hilang, temukan Ayah di tempat kenangan. Rumah ini menyimpan pintunya.”

Hatiku ambruk. Segala pertanyaan bertahun-tahun tumbuh menjadi jawaban yang pahit dan manis di saat yang sama.

“Kini kau tahu. Dunia ini bukan hanya fantasi. Ia jembatan. Antara kehilangan dan penerimaan. Antara pertanyaan dan keberanian.”

Aku menarik napas dalam. Lalu menatap cahaya yang muncul di tengah ruangan. Pintu berbentuk gerbang lengkung, berukir nama Ayah.

“Siap?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dan langkahku melanjutkan cerita—yang tertunda terlalu lama.

Gerbang itu tak berderit. Ia terbuka begitu saja, seolah tahu bahwa waktunya telah tiba. Cahaya dari dalamnya tidak menyilaukan, justru menenangkan. Seperti mentari pagi di beranda rumah, yang datang tanpa diminta tapi selalu dinanti.

Aku melangkah masuk. Dan di sana, ia berdiri.

Ayah.

Tidak lebih muda, tidak lebih tua. Seperti terakhir kali kulihat, saat ia memelukku di hari ulang tahunku yang kesepuluh. Aku ingin berlari. Ingin memeluk. Tapi kakiku seperti tertahan oleh sesuatu yang lebih kuat dari rindu: kesadaran.

“Maafkan Ayah,” katanya. Suaranya parau, tapi hangat. “Ayah tidak pernah benar-benar pergi. Hanya tersembunyi di balik luka-luka yang tak pernah kau izinkan sembuh.”

Aku menunduk. Ada air di mataku, dan kali ini aku tak menahannya.

“Aku cuma… kangen, Yah. Tapi aku takut mengingat, karena setiap kenanganmu selalu membuat dada ini sesak.”

“Sekarang, kau sudah cukup kuat untuk menyimpannya tanpa terluka.” Ayah mendekat, menyentuh bahuku. “Dan kau harus pulang.”

Aku mengangguk. Dalam dunia ini, pelukan tidak selalu berbentuk tangan. Kadang ia cukup lewat cahaya. Lewat kata yang tak diucapkan, tapi terasa. Dan saat kami saling menatap untuk terakhir kalinya, aku tahu… aku sudah melepaskan.

Cahaya dari gerbang itu meredup. Aku kembali berdiri di kamarku. Malam belum berlalu. Tapi rasanya aku telah menempuh perjalanan sejauh hidup itu sendiri.

Lemari tua tetap di tempatnya. Dinding tetap utuh. Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang berubah.

Pagi menjelang, Ibu mengetuk pintu. Dengan suara lembut yang selalu menyambut pagiku dengan ramah.

“Raka, kamu bangun? Sarapan udah siap.”

Aku tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum.

“Iya, Bu. Hari ini aku mau cerita banyak.”

*Kadang, rumah bukan hanya tempat tinggal. Ia adalah penjaga ingatan. Penjaga luka. Dan jika kau cukup berani menengok ke dalam, mungkin… kau akan menemukan seseorang yang selama ini kau cari: dirimu sendiri.*

Yogyakarta, 25 Juli 2025

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA