Oleh Ansori, Mahasiswa Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Angin sepoi-sepoi sore itu membawa aroma melati dari halaman pondok, menyusup masuk melalui jendela kamar Anisa. Cahaya jingga matahari terbenam memulas dinding, menciptakan siluet pohon kelapa yang melambai di kejauhan. Madura, dengan segala kekhasan budayanya, telah menjadi rumah bagi Anisa. ia memutuskan untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Muba yang megah. Namun, keindahan itu seringkali pudar di mata Anisa, tergantikan oleh bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

Sejak lahir, hidup Anisa sudah diwarnai mendung. Ayahnya, seorang pria dengan tatapan mata dingin, tak pernah mau mengakui keberadaannya.

 “Dia bukan anakku,” kalimat itu meski tak pernah Anisa dengar langsung di masa kecilnya, terasa seperti tato yang teruk di hatinya dari cerita sang ibu. Padahal setiap orang yang melihat mereka pasti akan berseru, “Anisa mirip sekali dengan ayahnya!”

Ibunya Kartika, adalah perempuan tangguh yang harus berjuang sendirian. Saat Anisa baru berusia enam bulan Kartika terpaksa merantau ke Malaysia. “Untuk membeli susu saja sulit, Nak,” bisiknya suatu malam saat Anisa kecil demam. suaranya parau menahan tangis. Ayahnya? Tak ada respons, Acuh tak acuh, seolah hidup mereka adalah selembar kertas yang tak berarti baginya.

Tumbuh besar  Anisa sering menjadi saksi bisu pertengkaran kedua orang tuanya. Suara-suara keras, kata-kata tajam yang mengiris hati selalu berujung pada satu hal ketidakpedulian sang ayah. Setiap kali itu terjadi bara api amarah akan menyala di dada Anisa. Ia membenci ketidakadilan itu membenci bagaimana ibunya harus menanggung beban sendirian sementara ayahnya hidup seolah tanpa dosa.

Di pondok Muba, di antara lantunan ayat suci dan hiruk pikuk kehidupan santri. Anisa sering termenung, Ia merindukan ibunya, merindukan dekapan hangat yang selalu menenangkan badai di hatinya. Setiap senja, saat adzan berkumandang ia akan mengingat wajah lelah ibunya. tangan-tangan yang kasar karena kerja keras, dan mata yang selalu memancarkan kasih sayang tak terbatas.

 “Ibu adalah pahlawanku,” bisiknya lirih, air mata menetes di pipi. Betapa tidak. Meskipun ia punya seorang ayah, kasih sayang darinya adalah kemewahan yang tak pernah ia rasakan. Bahkan, ketika Anisa membutuhkan uang untuk keperluan sekolah, ayahnya selalu menyuruhnya meminta kepada ibunya.

 “Minta saja sama ibumu, dia kan yang punya uang,” katanya suatu kali dengan nada datar, seolah mengusir lalat. Sepanjang hidupnya, Anisa hanya pernah menerima uang sebesar seratus ribu rupiah dari ayahnya. Seratus ribu rupiah untuk seluruh masa kecil dan remajanya. Sebuah angka yang menyakitkan.

Suatu malam, setelah shalat Isya, Anisa berbicara dengan Katua asrama. “Saya ingin sekali kuliah di Jogja Mbak,” kata Anisa suaranya bergetar.

 “Tapi saya kasihan sekali sama Ibu. Beliau sudah jadi tulang punggung keluarga sendirian. Rasanya, sayalah yang malah jadi kepala rumah tangga…”

Ketua Asrama tersenyum lembut. “Nisa niatmu sungguh mulia. Tapi jangan pernah lupakan satu hal orang tua yang baik akan selalu mendukung impian anaknya. Ibumu pasti bahagia melihatmu meraih cita-cita.”

Kata-kata Katua Asrama sedikit menenangkan hatinya. namun beban di pundaknya tak lantas hilang. Seringkali saat sepi melanda Anisa menangis. Ia takut membebani ibunya lebih jauh. Ia takut mengecewakan. Namun, ibunya tak pernah menyerah. Setiap telepon dari Malaysia, suara Kartika selalu penuh semangat. “Nak, jangan khawatirkan Ibu. Belajarlah yang rajin. Raihlah mimpimu. Ibu akan selalu mendukungmu.”

Mendengar itu tekad Anisa semakin bulat. Ia harus pergi ke Jogja. Ia harus berhasil, Ia harus membahagiakan ibunya, Janji itu terukir kuat di hatinya.

Tibalah hari itu Setelah perpisahan yang haru dengan teman-teman di pondok, Anisa berangkat menuju Jogja, kota impiannya. Di sana ia disambut oleh Rio, teman yang dikenalnya dari forum online. Rio adalah sosok yang periang, selalu bisa membuat Anisa tersenyum di tengah kegundahan. Mereka berjuang bersama dari nol. berburu beasiswa hingga menjejaki setiap sudut kampus.

“Nisa..! ingat yakita harus sukses. Demi orang tua kita!” seru Rio suatu sore saat mereka berdua belajar di taman kampus. Anisa mengangguk matanya menerawang, Mengingat ibunya selalu.

Tiga tahun berlalu. Anisa tumbuh menjadi mahasiswi berprestasi. Ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh, mengurangi beban ibunya secara signifikan. Namun, kabar buruk datang dari kampung. Ayahnya sakit keras.

“Nisa Bapakmu…” suara ibunya di telepon terdengar parau, Anisa merasakan darahnya berdesir dingin Ia tahu, ia harus pulang.

Setibanya di rumah pemandangan di depannya menghantamnya seperti gelombang. Ayahnya yang selama ini selalu kokoh dan acuh tak acuh, terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung, dan napasnya terdengar memberat. Ibunya duduk di samping ranjang memegang tangan ayahnya sesekali menyeka keringat di dahinya.

Anisa berdiri kaku di ambang pintu perasaan campur aduk meliputi dirinya. Marah, benci, sedih, dan entah mengapa sedikit rasa iba. Ia melihat ibunya yang selama ini selalu tegar kini terlihat sangat rapuh. Ia melihat ayahnya yang selama ini selalu mengabaikannya kini tak berdaya.

Ibunya menyadari kehadirannya. “Nisa kemarilah Nak,” panggil Kartika suaranya lemah.

Anisa melangkah mendekat. Ayahnya membuka mata perlahan. Tatapannya kosong, namun ketika melihat Anisa ada sedikit cahaya yang terpancar.

“Nisa…” suaranya serak nyaris tak terdengar. “Maafkan Bapak… Bapak… Bapak berdosa padamu Nak…”

Anisa membeku. Kalimat itu adalah kalimat yang tak pernah ia dengar sepanjang hidupnya kini terucap di bibir ayahnya yang sekarat.

Air mata Anisa mulai tumpah deras. Bukan air mata benci, melainkan air mata yang membebaskan. Beban yang selama ini menindih dadanya seolah terangkat. Ia memegang tangan ayahnya yang dingin, tangannya yang selama ini tak pernah menyentuhnya dengan kasih sayang.

“Bapak… jangan bicara begitu…” Anisa berusaha menahan isak tangisnya.

“Ibu… Bapak sangat menyesal…” Ayahnya memalingkan wajah ke arah Kartika. Kartika hanya mengangguk air mata juga mengalir di pipinya. Ia memegang erat tangan suaminya.

Di momen itu, di tengah hening yang memilukan, Anisa melihat kilasan masa lalu. Ibunya yang berjuang sendirian ia yang merasa tak dianggap pertengkaran yang menyayat hati. Namun, di samping itu semua, ada satu hal yang tak pernah pudar kasih sayang ibunya yang tak terbatas.

Ayahnya menarik napas panjang, sangat panjang seolah mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. “Nisa… kamu… kamu anak Bapak… Bapak tahu… kamu mirip Bapak…”

Dan di kalimat terakhirnya, di tengah rintihan isak tangis Anisa dan Kartika ayahnya menghembuskan napas terakhir. Genggaman tangannya melemah.

Ruangan itu dipenuhi keheningan yang menyesakkan hanya terdengar isak tangis dua perempuan yang kini kehilangan. Anisa jatuh berlutut di samping ranjang, memeluk ibunya erat-erat. Ia tak tahu harus merasakan apa. Kesedihan? Keterlambatan penyesalan? Atau mungkin hanya sebuah kelegaan pahit bahwa akhirnya kebenaran itu terucap, meskipun di ujung waktu.

Pemakaman berlangsung sederhana. Di bawah terik matahari Anisa memandangi gundukan tanah yang menutupi jasad ayahnya. Ia melihat ibunya yang kini terlihat lebih tegar, meski matanya masih menyiratkan kesedihan mendalam.

Rio yang ikut datang ke pemakaman menepuk bahu Anisa. “Nisa ini bukan akhir, Ini adalah awal yang baru.”

Anisa menatap Rio lalu beralih ke ibunya. Ya Rio benar Ini bukan akhir Perjalanan hidupnya, perjuangannya, tak akan berhenti di sini. Janjinya untuk membahagiakan ibunya kini terasa semakin kuat.

Malam harinya, di bawah langit yang bertabur bintang di kampung halaman, Anisa duduk berdua dengan ibunya.

“Ibu,” kata Anisa pelan, “Maafkan Nisa kalau selama ini sering menyusahkan Ibu.”

Kartika menggeleng, mengusap lembut rambut putrinya. “Tidak Nak. Kamu tidak pernah menyusahkan Ibu. Kamu adalah kebahagiaan Ibu.”

Anisa memeluk ibunya erat, merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari seorang ayah. Di pelukan ibunya, ia merasakan kekuatan cinta tanpa syarat dan harapan.

Setahun kemudian, Anisa berdiri di atas panggung wisuda mengenakan toga dan selempang kebanggaan. Senyumnya merekah, matanya berkaca-kaca saat melihat Kartika duduk di barisan depan, matanya penuh kebanggaan. Di samping ibunya ada Rio yang tersenyum lebar mengacungkan jempolnya.

Anisa ingat setiap tetes keringat ibunya, setiap air mata yang ia tumpahkan setiap rintangan yang ia hadapi. Perjalanan panjang dari Madura dari sebuah keluarga yang patah kini berbuah manis. Anisa tahu, ini adalah permulaan. Permulaan untuk membalas semua kebaikan ibunya untuk membangun masa depan yang cerah, dan untuk membuktikan bahwa dari luka bisa tumbuh kekuatan.

Ketika ia turun dari panggung, Kartika langsung memeluknya erat. “Selamat Nak, Ibu bangga padamu.”

“Terima kasih Bu. Ini semua untuk Ibu,” bisik Anisa. air matanya tumpah lagi,tapi kali ini adalah air mata kebahagiaan yang murni.

Di Jogja, di kota yang indah ini Anisa telah menemukan bukan hanya ilmu, tetapi juga sebuah keluarga yang sesungguhnya. Bersama ibunya dan teman-teman seperti Rio, ia siap melangkah maju memeluk masa depan dengan keyakinan dan mengenang setiap inci perjalanan pahit yang kini telah menjadi fondasi kokoh bagi kehidupannya. Bayangan sang ayah, yang dulu selalu menghantui kini berganti dengan bayangan senyum ibunya, yang selalu menjadi sumber kekuatan dan inspirasi. Anisa tahu ia tak lagi sendiri.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA