Oleh: Ari, Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

Hujan mengguyur pelan di luar jendela, menyapu jalanan dengan ritme yang nyaris menenangkan. Namun, di dalam kamar sempit itu, keheningan justru menggema lebih nyaring daripada suara hujan. Reza duduk terpaku di atas tempat tidur, matanya menatap kosong pada secarik surat yang sudah lusuh di tangannya. Jemarinya yang gemetar dengan hati-hati menyusuri setiap lekukan tinta yang telah mulai memudar. Tulisan itu milik seseorang yang pernah menjadi dunianya.

“Reza, jika suatu saat kau membaca ini, berarti aku sudah terlalu jauh untuk kau kejar. Tapi ketahuilah, aku tak pernah pergi karena ingin…. Aku pergi karena terpaksa.”

Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh tanpa izin, tanpa mampu diseka. Rasa di hatinya yang ia sebut rindu tak pernah benar-benar kosong, meski bertahun-tahun telah berlalu. Dinding kamar ini dipenuhi foto-foto lama, aroma samar yang dulu mengingatkannya pada Aluna, semuanya masih terasa begitu nyata, seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak maju.

Empat Tahun Sebelumnya, mereka pertama kali bertemu di taman kecil dekat stasiun kereta. Saat itu, Reza tengah duduk di bangku kayu yang sedikit lapuk, menunggu kereta terakhir yang akan membawanya pulang. Udara dingin menusuk kulitnya. Namun tiba-tiba, seseorang datang dan menyodorkan secangkir kopi hangat kepadanya.

“Kayaknya butuh ini,” kata gadis itu dengan senyum yang begitu hangat, Reza mengangkat alis, menoleh sedikit heran.

“Buat aku?” Aluna mengangguk.

“Aku selalu beli dua, tapi aku nggak suka minum kopi sendirian.”

Dan sejak hari itu, Reza dan Aluna menjadi dua manusia yang tak terpisahkan. Mereka berbicara tentang impian, bertukar cerita tentang hal-hal sederhana, bahkan tertawa karena alasan yang terkadang tak masuk akal. Setiap pertemuan di taman itu menjadi bagian dari rutinitas mereka, sesuatu yang tanpa sadar aktifitas itu mulai Reza tunggu setiap harinya.

Suatu sore, saat langit berubah jingga, Aluna bertanya dengan suara lirih,

“Reza, kamu percaya nggak kalau setiap orang punya ruang rindu di hatinya?” Reza menatapnya, lalu tersenyum.

“Aku percaya. Tapi, ruang rinduku cuma ada satu orang, dan itu kamu.” Aluna tersenyum, tapi tidak dengan matanya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan sendunya, sesuatu yang Reza tak sadari saat itu.

“Janji, ya?” Bisik Aluna. “Kalau suatu saat aku nggak ada, kamu tetap jaga ruang itu.”

“Jangan ngomong kayak gitu,” sahut Reza. “Aku nggak akan biarin kamu pergi.” Aluna hanya diam. Suasana hening seketika, dan Reza tidak pernah bertanya lebih jauh.

Hari-hari mereka dipenuhi kebahagiaan sederhana, menikmati matahari terbenam, berbagi mimpi, mengeluh tentang pekerjaan, hingga saling mengejek karena hal-hal sepele. Semua terasa begitu nyata, begitu abadi. Hingga akhirnya, semuanya berubah.

***

Reza mengingat bahwa Aluna pernah memberikannya sesuatu, kemudian dia membuka kotak kecil yang tersembunyi di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya, ada gelang kain biru yang pernah Aluna hadiahkan pada ulang tahunnya.

“Jangan pernah lepasin ini, ya. Kalau aku nggak ada, biar gelang ini yang jadi pengingat kalau aku pernah ada buat kamu.”

Kini, gelang itu sudah usang, warnanya memudar. Namun, bagi Reza, gelang itu lebih berharga daripada apapun. Setiap kali ia menyentuhnya, rasanya seolah Aluna masih ada di sana, tersenyum seperti dulu.

“Reza, aku harus pergi.” Suara Aluna terdengar lirih.

“Kenapa? Aku janji, apapun masalahnya, kita bisa hadapi bareng-bareng.” Hening sejenak. Reza menggenggam tangan Aluna dengan erat dan menatap matanya.

“Kadang, cinta memang nggak cukup untuk melawan takdir, Za….”

“Tapi aku mau nemenin kamu, Na! Bagaimanapun itu!”

“Maaf… jaga dirimu, ya. Aku… aku sayang kamu.”

Reza sontak terbangun dari  mimpinya dan menatap layar ponselnya dengan mata kosong. Dia melihat foto kenangannya bersama Aluna. Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidupnya, karena setelahnya suara Aluna tak pernah terdengar lagi.

Hari demi hari berlalu, namun ruang kosong yang ditinggalkan Aluna semakin membesar. Tak ada yang bisa menghapus bayangannya dari pikiran Reza, tak ada yang bisa menggantikan keberadaannya. Hingga akhirnya, dengan sisa keberanian yang ia punya, Reza memutuskan untuk mencari kebenaran. Ia menyusuri jejak yang Aluna tinggalkan, bertanya pada teman-teman lama, mencari petunjuk dari setiap kenangan yang tersisa. Sampai sebuah alamat membawanya ke sebuah rumah tua di pinggiran kota. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu.

“Maaf, Bu. Apa benar ini rumah Aluna?” Tanyanya ragu. Wanita itu agak lama.

“Kamu Reza?” Reza mengangguk, perasaan aneh membuncah di dadanya.  Wanita itu menunduk,

“Aluna… sudah pergi. Tiga tahun lalu. Kanker itu akhirnya merenggut dia.” Suaranya gugup. Dunia Reza serasa runtuh dalam sekejap.

“Kenapa dia nggak bilang? Kenapa dia harus menanggung semuanya sendiri,Bu?”

“Dia cuma nggak mau kamu ikut terbebani dari penyakitnya, Nak,” suara wanita itu serak.

“Dia selalu bilang kamu terlalu berharga untuk merasakan sakit yang dia rasakan.” Di ruang tamu, Reza menatap album foto yang penuh dengan kenangan mereka. Lalu, matanya menangkap sebuah surat yang belum pernah ia baca sebelumnya.

“Untuk Reza,”

Maaf karena aku pergi tanpa berpamitan. Aku ingin kamu tetap bahagia, meski tanpa aku di sisimu. Jangan biarkan ruang rindumu hanya dipenuhi kesedihan, karena aku ingin kamu mengingatku dengan senyuman, bukan air mata. Aku mencintaimu. Selamanya.

“Aluna.”

******

Di makam Aluna, Reza duduk berjam-jam, menggenggam gelang biru yang kini semakin pudar. Setiap helai benang yang terurai seolah menjadi simbol waktu yang telah berlalu, tetapi tak pernah benar-benar menghapus kenangan di dalam hatinya. Hujan mulai turun perlahan, membasahi tanah, membasahi kenangan yang tak akan pernah pudar.

“Maaf, aku telat tahu alasannya. Tapi, ruang rindu ini akan selalu jadi milikmu, Na. Selamanya,” bisik Reza, suaranya nyaris tenggelam oleh rintik hujan yang jatuh dari langit mendung.

Ia memandangi nisan yang terukir dengan nama Aluna, seolah berharap gadis itu akan menjawabnya. Namun yang terdengar hanyalah suara rintik hujan dan bisikan angin. Waktu seakan berhenti di sini, di tempat di mana kenangan terakhir mereka hidup abadi. Reza menutup matanya, membiarkan hujan membasahi wajahnya, seperti air mata yang sudah terlalu sering ia tahan. Setiap tetesan hujan membawa kembali kenangan-kenangan lama senyuman Aluna yang lembut, tawa kecilnya yang ia gemari, bahkan suara lembutnya saat mengucapkan kata-kata sederhana seperti, “Aku sayang kamu.”

Hari-hari berlalu, sejak ia mengetahui kebenaran tentang kepergian Aluna. Namun, rasa sesal itu tak pernah benar-benar pergi. Ia menyesali setiap waktu yang terbuang, setiap kata yang tak sempat terucapkan, setiap pelukan yang tak pernah ia berikan. Tapi ia tahu, penyesalan itu tak akan mengubah apa pun. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menjaga ruang rindu di hatinya tetap hidup.

“Kamu tahu, Na? Aku masih sering membayangkan bagaimana hidup kita kalau kamu nggak pergi. Kita mungkin akan tinggal di rumah kecil sederhana yang penuh dengan tawa, seperti yang pernah kita impikan. Kamu akan duduk di teras, membaca buku favoritmu, dan aku akan menyeduh kopi untuk kita berdua,” Reza berbicara seolah Aluna masih mendengarnya.

Angin malam membawa keheningan yang tak terucapkan, dan hujan semakin deras. Tapi Reza tetap di sana, tak peduli dengan dingin yang menusuk tulangnya. Ia hanya ingin menghabiskan sedikit waktu lagi bersama kenangan Aluna, meski hanya dalam bisu dan hening.

“Aku akan tetap di sini, menjaga semua yang pernah kita impikan. Meski kamu sudah nggak ada, ruang rindu ini tetap ada, untuk mu. Aku nggak akan biarkan kenangan kita hilang,” lanjutnya, dengan suara gemetar.

Saat malam semakin larut, Reza akhirnya berdiri, meletakkan seikat bunga lili putih di atas pusara. Ia memandangi makam itu untuk terakhir kalinya malam ini, sebelum perlahan melangkah pergi. Namun, hatinya tetap tertinggal di sana bersama Aluna, bersama cinta yang tak pernah pudar. Langit masih mendung, tapi di dalam hatinya, ruang rindu itu tetap ada tak pernah benar-benar kosong, seakan waktu berhenti untuk mengabadikan cinta yang tak sempat selesai. Di antara hujan dan kenangan, Reza tahu, cinta mereka akan selalu hidup dalam diam.

Yogyakarta: 23, April, 2025

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA