Oleh: Aida Alfiya, Mahasiswi Prrogram Studi Gizi Universitas PGRI Yogyakarta.

Mentari merebut mahkota sang penguara
pergi tanpa jejak, tanpa kata.
Yang kunanti, bayang yang terjanji
terkubur di ujung senja yang membisu.

Rembulan hanya diam
menyimpan rahasia dalam selimut kelam.
Tak ada gema, tak ada isyarat
hanya angin yang membisikkan keraguan.

Gelisah merajut benangnya sendiri
memintal tanya dalam ruang sunyi.
Setiap jawaban adalah kabut
setiap harap adalah noktah yang menguap.

Semesta Runtuh dalam Secawan Racun

Segala sesuatu hancur sebelum mencapai keabadian
dan kata-kata berusaha menggapai waktu yang tak ada ujung.
Tak ada akhir yang bisa dilihat oleh pandangan fana
seperti meraba sesuatu yang samar dan tak nyata.

Mimpi hanyalah labirin dan topeng yang tak berujung
menjauhkan kita dari cahaya kebenaran.
Di bawah langit, semua permainan nasib akan terkubur
bersama dosa dari segala yang sia-sia kita cintai.

Tak ada alat untuk mengukur panjangnya takdir
seperti tangan yang mencoba memegang benang yang terus ditenun.
Harapan terjerat dalam ilusi sampai akhir
sementara kita terus meneguk dunia bagaikan racun.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA