Oleh: Helmi Yahya, Program Studi Hukum Universitas Ahamad Dahlan Yogyakarta.
Berbicara perihal Quarter Life Qrisis atau krisis seperempat usia merupakan tahap ketidak nyamanan emosional dan pencarian makna hidup yang sering kali dialami seseorang pada usia 20 hingga awal 30-an, di mana seseorang mulai mempertanyakan arah hidup, tujuan, hingga identitas dirinya. Masa ini ditandai dengan ketidak nyamanan emosional, perasaan cemas terhadap masa depan, serta tekanan dari lingkungan sosial dan harapan diri sendiri.
Di zaman sekarang, masalah ini semakin mencekam di kalangan Gen Z; generasi yang berkembang di tengah kemajuan teknologi yang pesat. Paparan terhadap standar hidup yang tinggi di media sosial, serta tuntutan untuk “sukses di usia muda” membuat tekanan mental pada generasi ini kian kompleks dan rentan. Dalam hal ini, Erikson menuliskan dalam analisisnya, bahwasa periode dewasa muda seharusnya menjadi waktu untuk membangun identitas dan ikatan yang erat tetapi malah menjadi suatu kondisi yang dipenuhi dengan kebingungan dan setres.
Seseorang yang mengalami Quarter Life Crisis akan mengalami perubahan emosional pada dirinya; seperti mempertanyakan terkait masa depannya, juga rasa cemas akan karir, pasangan dan teman. Perubahan emosional ini ditandai dengan perasaan sedih, terisolasi, keraguan, kecemasan dan merasa bingung terhadap diri sendiri.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan Generasi Z itu mengalami QLC, salah satunya adalah pengaruh tekanan eksternal — keluarga, teman, dan masyarakat, di mana hal itu memicu ketidak seimbangan mental seseorang. Misalnya Syahdan lulusan Teknik Industri, ingin berkarier di bidang kreatif seperti desain grafis, tapi orang tuanya mendesak agar ia jadi PNS atau kerja kantoran demi membantu keluarga. Karena keinginannya berbeda, ia sering dibandingkan dengan sepupu atau tetangga yang dianggap “lebih sukses,” membuatnya merasa tertekan dan tidak cukup baik.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z mengalami tantangan mental yang lebih kompleks, di mana Generasi Z hidup dalam perkembangan teknologi, khususnya penggunaan media sosial juga menjadi salah satu faktor Quarter Life Crisis yang dialami Gen Z. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi menimbulkan perasaan seseorang sering membandingkan dirinya dengan orang lain, yang menimbulkan ketidak puasan akan dirinya sendiri. Dikutip dari Yani (2022), penggunaan media sosial berkontribusi sebesar 21.4 persen terhadap Quarter Life Crisis.
Sebagaimana juga menurut Santrock (Karpika & Segel, 2021) peer group atau teman sebaya juga tak kalah menjadi faktor seseorang atau Gen Z mengalami Quarter Life Crisis. Dimana seseorang sering kali tidak percaya atas dirinya sendiri ketika melihat teman-teman sebaya sudah mempunyai suatu pencapaian, seperti sudah bekerja atau mendapatkan uang sendiri. Rasa tidak percaya diri itu menimbulkan seseorang membandingkan diri dengan orang lain, dan tidak fokus pada dirinya, karena sering melihat pencapaian orang lain. Seperti halnya Alvara Research Center (2023), menyatakan bahwa 31 persen Gen Z mengalami tekanan psikologis akibat terus membandingkan pencapaian diri dengan teman sebaya.
Quarter life crisis biasanya melalui empat tahapan. Pertama, Locked in, di mana seseorang merasa terjebak dalam rutinitas yang monoton. Kedua, Separation, yaitu perasaan sedih dan bingung karena masa depan terasa tidak pasti. Ketiga, Exploration, di mana mulai muncul keberanian untuk mencoba hal baru dan mencari solusi. Terakhir, Rebuilding, saat seseorang mulai menyusun ulang hidup dan tujuan dengan cara yang lebih berarti. Proses ini, meskipun penuh tantangan, seringkali membawa pemahaman yang lebih mendalam tentang diri dan arah hidup.
oleh karena itu, dalam menghadapi Quarter Life Crisis perlu sekiranya kita memulai dengan membangun kesadaran diri dan kemampuan mengelola emosi secara sehat. Penelitian Simanjuntak & Ambarita (2021) menunjukkan bahwa penerapan self-compassion dan penguatan Kecerdasan emosional mampu membantu individu meredakan kecemasan serta tekanan akibat perbandingan sosial. Dukungan dari lingkungan sekitar, terutama dari teman sebaya dan keluarga yang tidak menghakimi, juga berperan penting dalam proses pemulihan dan pencarian arah hidup. Pendekatan ini membantu Gen Z untuk lebih fokus pada pertumbuhan pribadi, bukan pada pencapaian orang lain.
Dengan demikian, permasalahn ini bukan sekadar fase kebingungan sesaat, tetapi potret nyata dari pergulatan batin Generasi Z dalam menghadapi harapan, tekanan, dan realita hidup yang terus berubah. Gen Z tumbuh dalam arus deras teknologi dan standar sosial yang tinggi, menghadapi tantangan yang tak dialami generasi sebelumnya. Ketika ekspektasi orang tua, pencapaian teman sebaya, dan ilusi kesuksesan di media sosial saling bertabrakan, tak sedikit yang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Namun, justru dari proses inilah lahir kesadaran baru, bahwa mencari arah hidup bukan soal mengikuti peta orang lain, melainkan menemukan jalur sendiri—meski harus ditempuh dengan langkah yang ragu.