Oleh: Geertz Joe

Siapa kini yang kian sudi membaca Banner terpampang? Kecuali bila kita tak sengaja? Terbentang di samping pintu masuk kita, melintang hiruk pikuk pintu yang memungkinkan masuk atau keluarnya orang, desain bagus bertuliskan sejumlah kata itu entah apa gunanya. SEKRETARIAT DEWAN PENGURUS WILAYAH (DPW) IKATAN MAHASISWA BATA-BATA (IMABA) YOGYAKARTA. Mereka hanya sekadar hadir di sana, sudah gitu saja.

Rasanya kita membiayai jasa pembuatan Banner, waktu pendesain-nan, sejumlah tenaga, dan memesan kalimat-kalimat tertentu yang dari dulu telah dibanggakan—tapi tidak teramat peduli dan bahkan dipikirkan, apakah kata-kata itu bakal dihiraukan atau tidak. Hingga akhirnya Banner hanya sebatas hiasan, dalam rangka suatu perencanaan atau dengan adanya niatan biar seseorang tahu “oh… ini sekretarian organisasi IMABA, yang katanya…”. Kata hiasan pun mungkin terasa kurang tepat. Banner itu bahkan mungkin menghalangi cahaya matahari yang menyinari di pagi hari. Bahkan benda itu terentang, yang mempertahankan diri pada kalimat-kalimat itu saja, tak pernah lebih indah ketimbang puluhan papan iklan lainnya yang kini memberi warna dan nuansa—menyebalkan atau tidak—terpampang di titik fokus halaman.

Tapi sebagaimana halnya iklan, Banner itu juga bisa mencerminkan sesuatu tentang identitas yang diharapkan. Ia bisa bercerita tentang siapa kita kini dengan kata-kata, dan di saat itu juga, tentang hubungan kita dengan orang banyak. Dari kata-kata yang tertera di sana bisa terlihat bahwa mungkin si pembuat tak menyadari lagi bahwa kalimat-kalimatnya sudah amat membosankan. Bahwa hal itu tidak lagi dapat memantik kesadaran para anggota akan identitasnya. Bahwa ia tak bisa lagi menggugah. Mungkin refleksi memang tak penting baginya. Sebab mungkin yang utama baginya hanya ini: “Saya telah menjalankan instruksi, yakni membuat Banner, titik. Gak ada lagi”.

Artinya, ia tak begitu repot memikirkan efektivitas kata bagi para anggotanya. yakni, ia mungkin hanya penyangga suatu penamaan yang dibanggakan, tanpa lagi direnungkan bahwa nama itu sebagai jati diri kita bersama, yang dunia sintaksisnya terbatas pada nama kebesaran dan sebuah identitas yang tidak jelas nilai kebanggaannya. Dari situ ia tak berani menyimpang. Ia ingin patuh. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang menarik perhatian orang di luar. Ia takut mengatakan bahwa popularitas, usaha menarik fokus orang banyak, adalah sesuatu yang kurang wajar. Meski ia memang bukan orang politik, yang hidupnya terangsang oleh pergulatan dan pergaulan dengan khalayak, di mimbar atau di panggung-panggung kewibawaan.

Maka Banner yang dibikinnya, anjuran-anjuran yang dimaklumkannya, mungkin memang tak dimaksudkan menggerakkan hati para anggota yang ada. Banner itu mungkin cuma membuktikan suatu perintah, dengan suatu anggaran, untuk suatu kewajiban—supaya kak senior ini mengangguk-angguk, oke, oke. Ah… sejenak kita perlu berpikir, bukan kah lebih baik kini kita sembunyikan dahulu identitas kebesaran ini, di saat para kader yang tak lagi mempunyai kesadaran akan jati dirinya berada di organisasi?  Bukan kan kita lebih baik memikirkan bagaimana kultur yang kian hari hanya mengarah pada hedonis yang gak ada gunanya ini? Bukan kah kita lebih baik memikirkan bagaimana keadaan yang amburadul ini?

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA

1 Komentar pada “Ada Apa di Sebelah Pintu Masuk IMABA Yogyakarta?”

Komentar ditutup.