Oleh: Syahdan, Mahasiswa Program Studi Manajemen universitas Alma Ata Yogyakarta.
Kepada Dewan Pendidikan yang Berdiri di Atas Menara.
Dengan suara yang terkikis oleh debu zaman
dengan tangan yang gemetar memegang pena dari duri
izinkan aku, budak yang terlahir dari rahim sistem yang pincang
melukiskan amarah yang tak lagi bisa dikubur dalam diam.
Aku adalah mayat hidup dari negeri yang mengira dirinya merdeka
tapi tubuhku dibelenggu oleh kurikulum-kurikulum besi
otakku dicuci oleh dogma yang mengajarkan:
“Tunduklah, sebab pertanyaan adalah pemberontakan!”
Sejak darahku masih merah muda
sejak langkah kakiku masih goyah menapaki lorong-lorong TK
aku sudah diajari untuk membungkuk.
Sekolah? Bukan. Ini adalah kandang!
Dengan pagar bernama “standar kompetensi”
dan rantai bernama “nilai akhir”.
Guru-guruku, yang katanya pahlawan tanda jasa
tapi tangannya menjahit mulutku dengan benang ketakutan.
“Jangan bertanya, ikuti saja!”
“Kalau pengawas datang, kau adalah siswa bernama ini!”
Mereka melatihku menjadi penipu kecil
bukan pemikir
bukan manusia
tapi boneka yang tersenyum patuh di atas panggung kebohongan.
Aku belajar, tapi bukan untuk memahami
Aku menghafal, tapi hanya untuk melupakan
Aku menulis, tapi bukan untuk menyuarakan
melainkan untuk mengukir batu nisan kejujuranku sendiri.
Sekolah ini bukan taman, melainkan kuburan!
Di sini, tunas-tunas moral dibunuh perlahan
digantikan oleh benih-benih korupsi yang kalian tabur dengan bangga.
Lihatlah mereka sekarang
duduk di kursi kekuasaan, tersenyum dengan ijazah palsu
sementara kami, generasi yang tercekik
hanya bisa menatap dengan mata yang mulai buta oleh keputusasaan.
Wahai dewan pendidikan yang terhormat
kalian bukan sekadar gagal.
Kalian adalah algojo yang membunuh masa depan dengan senyum!
Kalian mengira kami diam karena patuh
tapi sebenarnya, kami diam karena terluka terlalu dalam.
Dan suatu hari, luka ini akan berubah menjadi badai.
Suatu hari, rantai ini akan patah.
Dan ketika itu terjadi
jangan tanya mengapa kami membenci segala yang kalian gagaskan.