Oleh: Taufiq H.

Kebutuhan akan kepastian merupakan salah satu faktor kunci dalam memahami perilaku manusia pada saat ini. Pasalnya, manusia tidak dibekali dengan serangkaian insting yang mengatur tingkah laku dan keputusannya secara kuasi-otomotis. Namun pertanyaannya, seperti apakah kepastian yang dipercayai oleh manusia pada saat ini?

Selama berabad-abad, kepastian manusia dijamin oleh kepercayaan akan konsep tentang Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Dipercayai bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, namun juga mengumumkan prinsip-prinsip yang tiada keraguan tentangnya. Oleh karena itu, Martin Luther, seorang profesor teolog berkebangsaan Jerman, menanggapi hal demikian dengan meremehkan kebebasan manusia dan peran dari perbuatan baiknya, mengajarkan bahwa satu-satunya keputusan yang harus dibuat oleh manusia adalah menyerahkan diri pada Tuhan, oleh karena itu, ia terlepas dari risiko pengambilan keputusan yang berlandaskan pengetahuan dan pengalamannya sendiri.

Sebelum itu, dalam kisah-kisah klasik seperti epik Iliad karya Homer (sekitar 700 SM), wabah yang melanda Athena digambarkan sebagai kutukan ilahi atas pelanggaran manusia terhadap kehendak para dewa. Ketika Raja Agamemnon menolak permintaan seorang pendeta untuk membebaskan putri Chryseis, para dewa menjatuhkan hukuman kepada rakyatnya. Dalam dunia ini, mitos, takdir, dan ramalan menjadi sumber kepastian—sementara kehendak manusia bersifat sekunder.

Namun, berjalannya waktu menghadirkan perubahan besar. Agama-agama humanis mulai menekankan bahwa manusia adalah subjek aktif dalam menentukan arah hidupnya. Dalam paradigma ini, keputusan harus dibuat dengan pertimbangan rasional dan moral, bukan sekadar penyerahan pada otoritas eksternal.

Transformasi besar terjadi pada era Renaisans, yang menandai kebangkitan cara pandang ilmiah. Di masa ini, manusia mulai mencari kepastian baru melalui rasionalitas dan observasi empiris. Tokoh-tokoh seperti Galileo Galilei dan Francis Bacon menjadi simbol dari keberanian untuk menantang pandangan mayoritas dan menyusun pengetahuan berdasarkan fakta yang dapat diuji. Sains muncul sebagai fondasi baru bagi kepastian.

Namun, ironi muncul ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat justru menghasilkan kompleksitas yang tidak selalu bisa dipahami oleh individu. Dalam masyarakat modern, keputusan-keputusan penting kerap dilimpahkan pada sistem komputerisasi atau algoritma yang dianggap objektif dan bebas dari bias. Fakta dan data dianggap sebagai kebenaran mutlak, dan keputusan yang dihasilkan oleh sistem ini diterima tanpa pertanyaan lebih lanjut—seolah-olah bersifat ilahiah.

Akibatnya, manusia menjadi semakin pasif dan bergantung. Mereka berhenti berpikir secara mandiri dan merelakan hati nurani pada keputusan-keputusan yang disusun oleh sistem yang tidak mereka kuasai. Seperti yang digambarkan Fyodor Dostoevsky dalam karya-karyanya, manusia bisa menjadi sosok tragis—tidak karena kekejaman dunia, melainkan karena ketidakmampuannya melihat pilihan lain.

Perkembangan media massa memperparah kondisi ini. Individu diajarkan secara pasif untuk menerima standar berpikir, merasa, dan bertindak yang dikonstruksikan oleh narasi dominan. Mereka hanya perlu bersikap reseptif terhadap sinyal media, dan dengan itu merasa yakin tidak sedang melakukan kesalahan.

Dengan upaya ini, keraguan pun menjadi terhempaskan, walaupun tidak berarti bencana sama sekali terhindari. Hingga keputusan-keputusan diambil berdasarkan fakta-fakta yang dianggap tidak lagi perlu dipertanyakan, ini sama seperti tindakan Tuhan, di mana umat manusia harus menerimanya.

Kecenderungan untuk mencari kepastian dari otoritas eksternal—baik melalui teknologi maupun media—membawa kita pada pertanyaan penting: Apa yang hilang dari manusia sebagai makhluk yang hidup, responsif, dan sadar akan tujuan?

Perencanaan adalah esensi manusia sebagai makhluk yang sadar. Meski komputer dapat membantu menyusun rencana, proses itu tetap harus dipandu oleh kesadaran dan pemahaman manusia. Kepastian sejati tidak semata berasal dari luar, melainkan juga dari dalam—melalui refleksi, keberanian berpikir, dan keseimbangan antara rasionalitas serta emosi.

Oleh karena itu, dalam mencari kepastian, manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya keputusan pada sistem yang tidak ia pahami. Ia harus kembali pada kemampuannya sendiri untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara sadar. Hanya dengan itulah, kepastian dapat menjadi kekuatan yang membebaskan, bukan penjara yang membutakan.

Sekali lagi, penting bagi kita untuk memahami bahwa kepastian tidak hanya dapat diperoleh melalui otoritas eksternal, tetapi juga melalui kesadaran dan pemahaman diri sendiri. Dalam proses perencanaan, kita harus mampu memadukan antara rasionalitas dan emosi, serta mempertimbangkan berbagai alternatif dan kemungkinan.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA