Category Archives: Puisi

Paras dari Utara

Oleh: Taufiq Hidayat, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebujur paras wanita dari penjuru utaraseputih kelopak wangi pada pelipis pagi.Lekuk ayu terbaring tanpa bahteradi keabadian waktu berlabuh diri tanpa pergi. Pelaut mabuk berlari menggunjing tawaKepada kelembutan di pelabuhan besar sana.Armada perompak terlelap di laut YogyakartaDengan raut berseri mengibarkan bendera.

Bisik yang Menolak Padam

Oleh: Mohammmad Fawaid Ali, Mahasiswa Informatika Universitas PGRI Yogyakarta Aku terbaring di halaman waktu,seperti bayang jatuh ke pangkuan senja,biarlah raga larut jadi debu,diterbangkan angin, dilenyapkan hujan.Namun jiwa tetap bernafas pelan—seperti sebutir debu yang enggan lenyap,menjadi suara tak tersapu zaman. Mahkota diri boleh runtuh di ribaan waktu,pilar ragaku bisa retak digerus musim,namun bisik yang menembus kabut,tetap

Read More

Negeri Tanpa Puisi

Oleh: Maisaroh, Mahasiswa Manajemen Dakwah Universitas UIN Sunan Kalijaga Kita sibuk memahat menara di langit Jakarta.tapi lupa, sumur-sumur di timur mengering perlahan.Hutan digadaikan untuk pesta devisa,sementara anak-anak menelan asap sebagai sarapan. Di layar kaca, para pembesar bersajak tentang kemajuan.tapi di sudut gelap, rakyat masih mengeja lapar.Kita terlena dalam angka pertumbuhan,lupa bahwa kemiskinan bukan data—melainkan luka.

Read More

Samar Hampa

Oleh: Taufiq Hidayat Diri ini kerap melantunkan namamu dalam bentuk paling sopan dari kamus hidupku tak lain sebagai rindu, dan bahkan penyesalan, tetapi ikhlas. Satu kata terus kurajut untuk menyelimuti hatiku yang tak henti menggigil oleh bayang senyummu. Aku biarkan dunia menceritakan lantangnya tawaku, bahwa tapak kakimu telah lenyap dari Kompas hidupku, padahal sesungguhnya, aku

Read More