Oleh: Ma’ruf, Mahasiswa Studi Islam Interdisipliner Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

Selimut yang tak akan kulupakan

akankah meraba manisnya benih terakhir yang kau besarkan?

Rintih hujan bersuara derita

Mentari terbit sebagai beban

penuh ketidaksempurnaan

Namun

karena kenakalanku

tak jua kau rasakan buahnya

Raut wajah yang kian senja

tak jua menjadi pagar bagi prosesku

Di tempat suci, kau berucap dalam gelap

Mengalir bagai zamzam dalam tulusnya ikhlas

Dalam selimut yang Tuhan ciptakan

aku tumbuh dan berkembang

Harapan dalam diamku

hanya angan dalam naungan ego

Wajahmu yang aku kiblatkan

bayangmu yang sanggup kulontarkan

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA