Oleh: Moh. Rofi’ieh

Di sebuah desa yang tenang, berdiri sebuah gubuk kecil dari kayu tua, dikelilingi sawah yang hijau milik para petani. Desiran angin menyapu lembut hamparan padi, membuatnya menari diiringi merdunya kicauan burung. Di sanalah tinggal seorang pemuda pemulung bernama Andre, bersama ibunya, dan adik perempuannya, Defika.

Suatu hari, saat sedang memulung di pinggir desa, Andre secara tak sengaja menemukan brosur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UIN Sunan Kalijaga. Saat melihat brosur itu, kenangan dan impian lamanya untuk kuliah kembali terlintas dalam pikirannya. Namun, seketika hatinya dipenuhi rasa pesimis. Bagaimana mungkin dia seorang pemulung dengan penghasilan pas-pasan bisa kuliah di perguruan tinggi?

Sesampainya di rumah, Andre meletakkan brosur itu di atas lemari kayu mungil peninggalan almarhum ayahnya, lalu tidur dengan pikiran yang gelisah. Tanpa sepengetahuannya, ibunya, Bu Mega. Yang hendak ke halaman depan sempat melihat selembar kertas di atas lemari Andre. Karena penasaran, Bu Mega masuk ke kamar kecil Andre dan membaca brosur itu. Seketika matanya berkaca-kaca. Ia merasa pilu menyadari bahwa anaknya selama ini menyimpan keinginan besar untuk kuliah, namun tak pernah Andre ceritakan kepadanya.

Dengan hati yang terenyuh, Bu Mega mengambil sebagian tabungan yang selama ini ia kumpulkan untuk berangkat umrah. Ia meletakkan uang itu di atas brosur, berharap anaknya bisa mencoba mendaftar.

Keesokan paginya, Andre bangun dan melihat uang di atas brosur miliknya.

“Bu, siapa yang naruh uang 300 ribu di atas lemari?” Tanya Andre. “Pakai saja, Nak. Buat daftar kuliahmu. Siapa tahu kamu bisa lolos beasiswa KIP,”

jawab ibunya lembut sembari mengelus pundaknya meyakinkan.

“Tapi uang ini dari mana, Bu?”
“Itu dari sebagian tabungan ibu.”
“Nggak usah, Bu. Itu kan buat Ibu umrah,” kata Andre menunduk haru.
“Nggak apa-apa, Nak. Nanti ibu bisa nabung lagi. Yang penting kamu coba dulu daftar. Ibu yakin kamu bisa.”

Mendengar kata-kata ibunya, Andre tak kuasa menyeka air mata. Ia langsung memeluk ibunya erat-erat.

“Terima kasih ya, Bu. Andre janji akan berusaha semaksimal mungkin supaya bisa diterima di UIN Sunan Kalijaga dan bikin Ibu bangga.”
“Ibu yakin kamu bisa, Nak. Ibu selalu mendoakanmu setiap saat.”
“Tapi nanti, kalau Andre sukses, jangan lupa ya … kuliahkan juga Defika,” ucap ibunya lembut sambil mengelus kepala Andre.

 Defika saat itu sedang sekolah di tempat yang tidak memungut biaya, karena Bu Mega tidak mampu menyekolahkannya di tempat dengan fasilitas lengkap dan biaya SPP. Maka harapan itu disematkan kepada Andre, sang sulung.

Hari-hari berikutnya, Andre semakin bersemangat. Dia tetap bekerja memulung sambil menyisihkan sedikit demi sedikit untuk biaya tambahan. Suatu hari, dia pergi ke WARNET untuk mendaftar kuliah di UIN Sunan Kalijaga dan mengajukan beasiswa KIP.


Hari pengumuman pun tiba. Dengan jantung berdegup kencang, Andre kembali ke warnet. Saat membuka situs resmi, matanya membesar — namanya tercantum sebagai mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga. Kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa KIP Kuliah. Andre berlari pulang secepat mungkin.

“Bu! Dek! Andre diterima! Andre kuliah, Bu! Andre kuliah!” Teriaknya dengan napas tersengal-sengal, namun wajahnya bersinar penuh kebahagiaan.

Tangis haru pun pecah. Mereka bertiga berpelukan erat. Tak ada kata lain yang terucap selain rasa syukur yang tak terhingga.

Hari-hari baru Andre sebagai mahasiswa dimulai. Ia tinggal di kosan sederhana dekat kampus dan berjalan kaki setiap hari untuk berkuliah. Meski tidak mudah, ia tak pernah menyerah. Berbekal dana dari beasiswa, Andre membuka angkringan kecil di dekat kampus. Dari sana, ia mulai menambah penghasilan—membeli ponsel untuk dirinya dan ibunya agar tetap bisa saling berkomunikasi, bahkan menyisihkan sebagian untuk ditabung.


Tahun demi tahun berlalu. Andre berhasil lulus dengan predikat cumlaude dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Pada hari wisuda, suasana haru kembali menyelimuti keluarga kecil mereka. Ibu dan Defika hadir mengenakan pakaian couple sederhana yang dirancang dan dipesan khusus oleh Andre sendiri.

Pakaian itu dijahit oleh seorang penjahit profesional, menggunakan uang hasil jerih payah Andre. Baginya, itu bukan sekadar pakaian—melainkan simbol cinta dan penghargaan yang tulus untuk ibu dan adik tercinta, sebagai wujud terima kasih atas doa, dukungan, dan kasih sayang yang tak pernah putus selama perjuangannya.

Usai prosesi wisuda, Andre turun dari panggung dengan toga dan senyum lebar. Di pelataran gedung, ibu dan adiknya telah menantinya sambil membawa seikat buket bunga sederhana.

“Selamat ya, Mas Andre! Sekarang kamu jadi sarjana dan bos muda!” seru Defika riang sambil melompat memeluk kakaknya.

“Iya, Nak. Ibu bangga sekali padamu. Kamu sudah membuktikan bahwa mimpi bisa diraih asal disertai usaha dan doa,” ucap Bu Mega dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk Andre erat.

“Terima kasih, Bu. Dek… Semua ini karena doa dan cinta kalian. Sekarang giliranku membahagiakan kalian,” jawab Andre dengan suara penuh haru.

Tak lama kemudian, angkringan kecil itu berkembang menjadi warung makan yang cukup populer di Yogyakarta. Andre pun berhasil menyekolahkan Defika hingga ke universitas ternama, dan yang paling membahagiakan—ia dapat memberangkatkan ibunya menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk syukur dan balas budi.

Kini, Andre telah menjadi sosok yang sukses. Namun, ia tetap hidup dengan kesederhanaan dan rendah hati. Ia percaya bahwa doa seorang ibu adalah kekuatan terbesar yang mengantarkannya menuju gerbang kesuksesan. Ia pun berjanji, akan selalu menjaga dan membahagiakan ibu serta adiknya—selamanya.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA