Oleh : Hasanuddin

Pada era yang serba teknologi ini, terdapat beberapa fenomena yang tidak luput dari konsekuensi-konsekuensi yang telah ada, sebagaimana yang telah kita rasakan dan jalani, mulai dari hal-hal yang sifatnya positif seperti, peningkatan produktifitas, kemudahan komunikasi dan yang negatif seperti, penyebaran informasi palsu, kecanduan dan kesehatan mental. Hubunganya dengan manusia sebagai pusat kontrol alam beserta isinya yang kemudian merembet pada suatu yang di dinginkan melalui pemanfaatan sumber daya yang ada. Mulai dari hal-hal yang sifatnya makro, seperti ekonomi, ekologi, dan infrastruktur, serta mikro layaknya pemenuhan praksis dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa disiplin ilmu terdapat banyak pendefinisian tentang manusia; salah satunya yang sering kita kenal dengan istilah homo faber—istilah tersebut merujuk pada kemampuan manusia sebagai makhluk yang menciptakan, mengembangkan atau menghasilkan sesuatu. Hal tersebut melalui proses bagaimana manusia diciptakan sebagai makhluk yang berbeda-beda, Bagaimana tidak, manusia dibekali kemampuan  dalam berpikir dan juga diberikan akal untuk  bisa berpikir menghadapi segala hal-ihwal kehidupan yang dialami. Sehingga dalam kedudukanya manusia lebih unggul dari spesies yang lainya. Jadi tidak heran jika manusia di sebut sebagai homo faber melalui keunggulan akal dan intelektualnya kemudian bisa melahirkan ilmu dan teknologi sebagai hasil dari daya pengembangan intelektual penggunaan akal budi.

Salah satu bentuk yang dihasilkan oleh manusia melalui pemberdayaan akal adalah teknologi yang mampu mengakomodir hampir dari segala kebutuhan manusia (humans need’s), seperti yang kita rasakan saat ini. Tentunya hal itu ditujukan bagaimana manusia kemudian medapatkan aksesibilitas yang berhubungan dengan aspek pemenuhan kebutuhan hidup praktis, ini sangat membantu manusia dalam proses mencapai sesuatu yang ia tuju. Terlepas dari itu terdapat persoalan yang kita perlu urai secara bersama, yaitu bagaimana teknologi dan penggunaanya berpengaruh pada sisi kehidupan manusia modern.

Untuk menjawab hal itu, menarik sekali jika kita memulainya dengan bagaimana pada mulanya teknologi diciptakan. yaitu Teknologi diciptakan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai tugas dan masalah, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, komunikasi, pekerjaan, dan akses informasi. Secara umum, teknologi bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia serta meningkatkan kualitas hidup. Hal ini bisa kita rasakan bagaimana teknologi memberikan kemudahan praksis bagi manusia. Namun disisi lain kurangnya pemahaman masyarakat terkait penggunaan teknologi menjadikan teknologi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, seperti penyebaran informasi yang tidak akurat dan penyalahgunaan media sosial.

Modernisasi dan industri menyebabkan perubahan-perubahan sosial yang tidak dapat dielakkan lagi. Ketergantungan pada teknologi sering kali menggantikan interaksi sosial langsung. Hal ini dapat mengurangi rasa empati dan keterhubungan emosional dalam interaksi sosial. TIK (teknologi informasi dan komunikasi) memungkinkan informasi menyebar dengan cepat, termasuk informasi yang tidak valid (hoaks). Hal ini dapat memicu konflik sosial, misinformasi, dan polarisasi dalam masyarakat. Penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan kecanduan, khususnya pada remaja. Gejala seperti isolasi sosial, penurunan produktivitas, dan masalah kesehatan mental sering ditemukan pada pengguna aktif media sosial. Terlepas dari maraknya implikasi teknologi, menarik jika hal tersebut dikaitkan dengan pandangan Hans Jonas mengenai etika masa depan yang menjelaskan manusia untuk bertanggung jawab terhadap alam. Hans jonas adalah seorang Filsuf Amerika Latin yang meneliti dasar tanggung jawab untuk generasi mendatang. Dalam bukunya yang berjudul “Imperative of Responsibility” (1979), Jonas memperingatkan bahaya peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi serta meletakkan dasar bagi tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Menurutnya teknologi secara tidak sadar telah mendistorsi esensi manusia yang pada dasarnya bersifat alamiah atau bagian dari alam. Teknologi kemudian menjadi ancaman tidak hanya pada potensi yang merusak alam tetapi juga bagaimana ia dapat mendistorsi esensi manusia. Sebab ketercabutan ini menurut Jonas pada akhirnya hanya akan membuat manusia menderita dan sengsara. Dengan kata lain implikasinya kemudian menuju pada permasalahan eksistensi manusia dalam teknologi. Teknologi dalam pemikiranya bersifat non-neutural, artinya tidak bebas nilai dan akan selalu berinteraksi dengan nilai-nilai manusia.

Oleh karena itu Hans Jonas menekankan pada faktisitas manusia yakni bagaimana manusia memiliki kesadaran akan lingkungan di sekitar nya, dengan hal itu manusia diharapkan mencapai eksistensinya yaitu tanggung jawab. Tak hanya itu saja ia juga menyampaikan bahwa heuristic of fear (keasadaran;rasa takut) akan menyadarkan manusia akan adanya bahaya laten dari teknologi. Dengan demikian faktisitas dan heuristic of fear manusia dengan sendirinya menimbulkan tanggung jawab sekaligus menjadi dasar dari eksistentinya.

Maka dari itu diperlukan proses keadaran manusia terkait penggunaan teknologi yang akhir-akhir ini telah menghegemoni nilai-nilai kehidupan. Sebagaimana alternatif dalam pandangan Hans Jonas etika tanggung jawab merupakan kunci bagi manusia guna merespon fenomena teknologi yang dirasa menyimpang dari nilai-nilai kehidupan. Melalui analisis inilah sesungguhnya etika tanggung jawab merupakan suatu jawaban terhadap krisis eksistensi manusia modern.

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA