Dilakecil, 2012

Aku lahir di tengah keluarga yang kata orang cukup berada. Namun, jika kau bertanya padaku, yang kurasakan justru sebaliknya: aku tumbuh di dalam rumah yang miskin kasih sayang.

Sejak kecil, aku tinggal bersama nenekku yang kami panggil Mbuk Nai. Kedua orang tuaku merantau jauh ke Malaysia, memeras keringat demi masa depan anak yang bahkan belum cukup umur untuk mengerti apa arti perpisahan. Maka, aku pun tumbuh tanpa kehadiran mereka; tanpa rengkuhan ibu di pagi hari, tanpa punggung ayah yang bisa kupanjat.

Di usia semuda itu, aku sudah belajar satu kenyataan pahit: menganggap diriku sebagai anak paling tidak beruntung di dunia.

Setiap pagi, timbul rasa iri melihat teman-teman sebaya berangkat ke sekolah. Rambut mereka dikuncir dua rapi oleh tangan lembut sang ibu, perut mereka kenyang oleh sarapan yang hangat. Aku? Aku hanya bisa mematung, memandangi mereka dari balik jarak yang terasa begitu jauh. Jika ada rezeki dan nasi sisa semalam, kugoreng sendiri seadanya—itulah sarapanku, itulah pemandangan pagi-pagiku.

Dalam doa-doa kecilku yang belum fasih, aku kerap berbisik kepada Tuhan: “Semoga orang tuaku lekas kaya. Semoga mereka segera pulang.” Aku hanya ingin seperti anak-anak lain: diantar ayah ke sekolah dengan sepeda, dijemput ibu kala hujan deras mengguyur. Namun rupanya, Tuhan memiliki skenario yang berbeda, dan saat itu aku belum cukup dewasa untuk menerimanya dengan lapang dada.

Tahun demi tahun pun bergulir. Seiring langkahku yang membesar, tumbuh pula pengertian di dalam dada.

Aku mulai memahami bahwa dunia tidak sesederhana yang dibayangkan seorang anak kecil yang meratap di atas kasur tuanya. Mencari sesuap nasi bukanlah perkara mudah. Hidup ini keras, dan kepergian orang tuaku bukanlah tanda kurangnya kasih sayang, melainkan bukti betapa besarnya cinta mereka.

Mereka rela merantau agar aku bisa bersekolah, agar perutku tak kekurangan makanan, dan agar aku kelak memiliki masa depan yang tidak sempat mereka cecap. Sungguh, betapa agungnya cinta yang rela mengorbankan kebersamaan demi sebuah harapan.

Kini aku menginsafi bahwa Tuhan Maha Baik. Ia menitipkanku pada sepasang orang tua yang luar biasa bukan tanpa rencana: Bapak yang seteguh batu karang, dan Ibu yang sesabar air mengalir. Kebanggaanku kepada mereka melampaui apa pun yang sanggup diungkapkan oleh kata-kata.

Aku mungkin tidak sekuat Bapak, juga tidak sesabar Ibu. Namun, aku memiliki satu hal berharga yang mungkin tak pernah kalian sadari: doa tulus kalian. Doa yang terlantun di sepertiga malam kala aku terlelap pulas itulah kekuatan terbesar yang menopang langkahku hingga hari ini.

Kelak, akan kubuktikan kepada Bapak dan Ibu bahwa tetes keringat serta pengorbanan itu tidak pernah sia-sia. Anak kecil yang dulu menengadahkan tangan sendirian di pagi hari ditemani sepiring nasi sisa semalam itu, kini tumbuh dengan baik, bahkan jauh lebih kuat dari perkiraan siapa pun.

Doakan aku, ya. Aku berjanji akan membahagiakan kalian—dengan caraku sendiri.

Ditulis dengan segala ketulusan, untuk Bapak dan Ibu di perantauan.