Oleh: Geertz Joe

Kalian melukis tuhan di atas kanvas kotor

yang terbuat dari kulit-kulit babi.

Berkoar tentang transendensi

padahal sujud hanyalah eufemisme dari onani spiritual yang banal.

 

Sajadah-sajadah direndam dalam kencing kemunafikan

sementara dari lisan yang bau bangkai itu

ayat-ayat suci dikunyah layaknya permen karet murahan

lalu diludahkan ke trotoar nista.

 

Religiusitas macam apa yang kalian ejawantahkan, bangsat?!

Hanya seonggok dogma jumud yang membusuk di pelataran afasia

tak ada ruh, tak ada eskatologi!

Kalian lacurkan kesucian teologis

demi eksistensi taik kucing di hadapan hiruk-pikuk kosmos yang menertawakan.

 

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

 

Lalu di mana altar kejayaan akal yang kalian agungkan itu?

Akademisi?

 

Otak-otak kalian telah lama diinfiltrasi belatung-belatung keparat

merangkak gontai di dalam tengkorak yang sedari awal memang kopong.

 

Buku-buku tebal hanya menjadi ornamen masturbasi intelektual di sudut kamar

kalian kulum wacana-wacana berat

tapi yang mengucur dari mulut kalian hanya lendir ketololan yang pekat.

 

Mahasiswa-santri?

Menggonggongkan dialektika utopis di warung kopi berselimut asap nikotin

tapi nyatanya lumpuh, buta aksara dalam meraba realitas

terjebak dalam labirin liminalitas tanpa jalan keluar

menjadi budak-budak kertas yang membebek pada sistem biadab.

 

Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.

la haula wala quwwata illa billah.

 

Maka runtuhlah sudah pilar ketiga

hancur lebur dihantam apatisme sundal kalian yang tak tertolong.

Transformatif yang kalian banggakan itu

tak lebih dari bunyi kentut di tengah badai topan.

 

Kalian memilih sembunyi di balik selimut hedonisme asu

menenggak arak ketidakpedulian

sementara rahim peradaban ini mengalami pendarahan.

 

IMABA! Sebuah entitas agung yang kini

kalian ubah menjadi lokalisasi murahan bagi para pelacur perjuangan!

Kalian hisap habis sumsum TriKhidmah

lalu kerangkanya yang rapuh kalian tendang ke selokan sejarah busuk.

 

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Walillahilham.

 

Teruslah tertidur, bangkai-bangkai bernyawa!

Tenggelamlah dalam dekadensi moral kalian yang amat menjijikkan.

Peluklah apatisme itu erat-erat

jadikan ia istri sah dari kemandulan jiwa yang kronis.

 

TriKhidmah kini hanyalah mitologi usang

yang menangisi dirinya sendiri di batu nisan para pendahulu

dan kalian, tak lebih dari generasi babi buta

menari-nari penuh kebanggaan di atas kuburan almamater kalian sendiri.