Oleh: Susi Astika Sari

Di sini kutunaikan sujud yang tak pernah selesai jadi suci,

di antara bau tai dan kencing yang enggan jadi kasturi,

tempat firman-firman luruh menjadi ampas empedu,

memanggil Tuhan dari liang porselen yang retak dikunyah peradaban usus.

 

Gema amin ku bersetubuh dengan jamur dinding,

melahirkan nabi-nabi dari rahim kecoa yang merayapkan wahyu di atas lumut.

Kran meneteskan air mata raksa, menderaskan wudu dari dosa-dosa pencernaan,

kukiblatkan kening pada pipa paralon yang tersumbat keserakahan karnivora,

sementara malaikat-malaikat tersedak amonia,

lupa cara mencatat pahala yang tak dibungkus sutra.

 

Kukulum zikir dari sisa sekresi biologis,

merapal syahadat pada lalat hijau yang khusyuk bertawaf di altar bangkai.

Dogma menjelma secarik tisu basah di telapak tanganku,

sekali usap menyeka najis ontologis,

lalu dicampakkan ke pusaran septik bersama janji-janji nirwana yang gagal diurai bakteri.

Tiap tarikan tuas kloset adalah simulasi sangkakala,

membilas tuhan-tuhan kecil yang baru saja diproduksi enzim lambung.

 

Lihatlah liturgi kehinaanku yang paling purba!

Aku memeluk pesing, mengamini koloni E.

coli yang menelanjangi kepalsuan ruh,

sebab di luar ambang pintu ini, manusia-manusia beraroma dupa dan parfum mahal

bertarung memperebutkan kaveling surga sembari memamah biak tulang rusuk saudaranya sendiri.

 

Di pojok bilik ini, aku moksa.

Kefanaan dan kemunafikan terburai lebur bersama feses,

dan rapalan tak perlu lagi merias diri menjadi mawar,

di hadapan takdir langit yang muntah, dan semesta yang tengah diare parah.