Oleh: Muhammad Ulul Albab (CO Riset Pengembangan Kajian dan Kepenulisan)

Di beberapa organisasi, khususnya organisasi mahasiswa-santri IMABA Yogyakarta, ada masalah yang sering luput dari sorotan: sebagian pengurus memilih diam ketika divisi lain mengalami kesulitan. Sikap ini muncul bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena merasa hal tersebut bukan tugas dan tanggung jawabnya. Beragam alasan pun dilontarkan; ada yang membawa masalah personal ke ranah organisasi, mengeluh karena beban kerja internal divisinya yang belum tuntas dan berbagai alasan lain yang terkesan tidak profesional.

Sebagai contoh konkret yang kerap terjadi akhir-akhir ini, sering kali kita melihat fenomena di mana divisi A atau salah satu anggota bersikap acuh tak acuh ketika divisi B sedang menjalankan program kerja yang membutuhkan kehadiran semua anggota. Karena merasa “itu bukan ranah kerja divisinya atau apalah itu alasannya,” divisi A enggan membantu atau salah satu anggota tidak memiliki rasa antusias untuk mendukung kemaksimalanya. Akibatnya sangat bisa ditebak, berlangsungnya kegiatan menjadi kurang efektif, dan kegiatan tersebut berujung tidak maksimal. Pada akhirnya, program kerja tersebut gagal memenuhi indikator keberhasilan yang sebenarnya telah disepakati bersama sejak awal.

Lambat laun, sikap ini bukan lagi menjadi anomali, justru menjadi pola berulang yang dapat membentuk kultur baru organisasi IMABA Yogyakarta. Ketika apatisme ini sudah menjadi kebiasaan yang dinormalisasikan, organisasi tidak lagi bergerak sebagai satu kesatuan, melainkan menjadi kumpulan-kumpulan kecil yang terfragmentasi. Persoalan ini bukan bersumber dari buruknya karakter setiap individu, melainkan kegagalan sistem dalam membentuk kesadaran kolektif bahwa kekompakan menjadi hal yang sangat vital untuk menentukan arah gerak organisasi.

Ketika ego antarindividu atau sektoral divisi mulai berbenturan, satu hal yang perlu ditegaskan: para pengurus sebenarnya paham akan tujuan bersama, tetapi memilih abai karena lebih memprioritaskan ego di atas tanggung jawab kolektif organisasi. Membiarkan kondisi ini berlarut-larut tentu akan membawa dampak fatal, mulai dari terhambatnya perwujudan visi dan misi organisasi, hingga runtuhnya solidaritas yang telah dibangun dengan susah payah. Maka dari itu, persoalan tersebut tidak bisa lagi direduksi sekadar urusan personal, melainkan sudah menjalar menjadi krisis sistemik yang secara perlahan menggerogoti pondasi utama organisasi dari dalam.

Apabila krisis sistemik dan ego sektoral ini terus dibiarkan, konsekuensinya akan jauh lebih parah dari sebelumnya. Ibarat luka yang dibiarkan tanpa pengobatan, ia akan memicu infeksi yang mengancam nyawa. Rantai dampaknya pun sangat jelas: ketika solidaritas retak maka kepercayaan tidak menemukan tempat berpijak.  Akibatnya, anggota yang merasa terasingkan perlahan akan memilih pergi, dan pada akhirnya organisasi bukan hanya kehilangan semangat, melainkan kehilangan orang-orang penggeraknya.

Sebagai langkah awal, solusinya harus dimulai oleh pemimpin yang bertanggung jawab penuh menginisiasi ruang dialog antardivisi. Pemimpin harus berani menghadapi dan mengurai krisis ini, bukan justru menghindarinya. Lebih dari itu, tolok ukur keberhasilan organisasi harus dirumuskan sebagai capaian bersama, bukan malah dinilai berdasarkan performa per divisi secara terpisah. Prinsip dasarnya sangat lugas: nasib satu divisi adalah nasib seluruh tubuh organisasi. Dalam konteks ini, kepedulian tidak lagi sekadar imbauan moral, melainkan sebuah keniscayaan sistem. Hingga akhirnya, identitas kolektif harus dibangun dan dirawat secara sadar, bukan dibiarkan sebagai asumsi yang diharapkan tumbuh dengan sendirinya.

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa organisasi bukan sekadar kerumunan individu atau divisi, melainkan satu tubuh yang utuh. Hubungan di dalamnya bersifat sangat organik; layaknya anatomi tubuh, ketika satu bagian sakit, seluruh bagian lainnya akan ikut merasakan dampak tersebut. Oleh karena itu, keberlanjutan dan kesehatan organisasi tidak bisa dipertahankan jika masing-masing pihak masih bersembunyi di balik sekat divisinya. Kini, pilihan mutlak ada di tangan setiap anggota: mau terus terkurung dalam ego sektoral dan berjalan sendiri-sendiri, atau mulai bergerak selaras demi memulihkan dan memajukan tubuh yang sama.