Oleh: Anshori

Di utara peta yang tak pernah digambar manusia, berdiri sebuah negeri bernama Lunara. Negeri itu terhimpit antara kabut dan waktu, diapit hutan perak dan sungai yang tak pernah membeku. Malamnya panjang, siangnya pucat, dan langitnya selalu berwarna biru kelabu, seolah dunia sedang menahan tangis.

Di sanalah Ferand Hartono dilahirkan. Ia bukan pangeran, tetapi kekuasaannya bahkan membuat para bangsawan menundukkan kepala. Kekayaannya mengalir dari tambang-tambang tua, pelabuhan dagang, dan menara perdagangan yang menjulang di pusat kota. Orang-orang Lunara mengenalnya sebagai Tuan Muda yang Tak Pernah Kalah. Mereka hanya tidak tahu bahwa di balik mantel mahal dan senyum dinginnya, tubuh Ferand menyimpan penyakit yang tak mampu dijelaskan siapa pun.

Penyakit itu datang seperti bayangan. Kadang berupa nyeri yang menusuk dada. Kadang berupa mimpi buruk ketika jantungnya berhenti berdetak, lalu kembali hidup dengan rasa sakit yang berlipat-lipat.

Suatu malam, setelah terbangun dari mimpi buruk, Ferand menatap langit-langit kamarnya. “Aku bisa membeli seluruh negeri ini,” bisiknya, “tetapi kenapa aku tak bisa membeli satu hari lagi untuk bernapas tanpa rasa sakit?”

Ia telah mendatangi tabib terbaik di seluruh penjuru Lunara. Ramuan dari akar bulan, darah naga kecil, hingga doa-doa tua yang hanya dihafal para pendeta purba telah dicobanya. Tidak ada yang berhasil.

Pada suatu senja, ketika lonceng kota berdentang seperti lagu kematian, Ferand mendatangi satu-satunya tempat yang belum pernah ia datangi: pondok seorang guru tua di tepi Hutan Liris. Guru itu sudah sangat tua. Rambutnya putih seperti abu doa yang padam. Matanya hitam dan tenang seperti danau tanpa dasar.

“Guru, aku kehabisan jalan,” ucap Ferand.

Guru itu menatapnya lama, seolah membaca seluruh hidup Ferand dalam satu tarikan napas. “Penyakitmu bukan berasal dari tubuh.”

Ferand mengerutkan kening. “Lalu dari mana?”

“Dari keseimbangan hidup yang timpang.”

“Aku tak butuh filsafat. Aku butuh hidup.”

Guru itu berdiri dan mengambil tongkatnya. “Kalau begitu, dengarkan ini baik-baik. Ada satu cara yang lebih tua daripada ilmu dan lebih kejam daripada takdir.”

Ferand memilih diam.

“Kau harus menikahi seorang perempuan berhati dingin tetapi lembut. Ia harus lahir dengan tanda merah di lengannya. Tanda itu adalah tanda jiwa penyeimbang.”

“Lalu?”

Guru itu menghela napas. “Pada malam pergantian tahun, penyakitmu akan berpindah. Tetapi keseimbangan menuntut harga. Jika penyakit itu hendak benar-benar berakhir, salah satu dari kalian harus mati.”

Kata mati jatuh seperti batu ke dada Ferand. Cinta yang menyelamatkan dengan membunuh; apa bedanya dengan kutukan?

Tak lama kemudian, penyakit Ferand kambuh hebat. Ia dibawa ke Rumah Penyembuhan Silverfall, sebuah bangunan putih yang berdiri di tepi sungai cahaya. Dalam kabur antara sadar dan tidak, Ferand mendengar suara.

“Tuan… tolong jangan tidur dulu.”

Suara itu lembut. Tidak memerintah dan tidak memaksa. Saat membuka mata, Ferand melihat seorang perawat muda. Gaunnya sederhana, wajahnya pucat tetapi hangat dan matanya seperti menyimpan musim semi yang tertunda.

“Namaku Naura,” katanya.

Ferand ingin berpaling, tetapi sesuatu menahannya. Lalu ia melihat tanda merah di lengan kiri Naura, seperti bunga darah yang mekar diam-diam. Jantung Ferand berdetak kacau.

Jadi, inikah wajah takdirku? Mengapa ia terlihat begitu rapuh?

Hari-hari berikutnya, Naura menjadi orang yang paling sering berada di sisinya. Ia tidak pernah bertanya tentang kekayaan Ferand. Ia tidak kagum, tetapi juga tidak takut.

Pada suatu malam, Ferand mendengar suara tangis dari lorong.

“Aku dipaksa menikah dengan lelaki tua,” kata Naura kepada salah seorang perawat. “Orang tuaku membutuhkan uang.”

Ferand mendengar semuanya. Untuk pertama kalinya, kemarahan tumbuh di dalam dirinya bukan karena kepentingannya sendiri. Beberapa hari kemudian, ia datang menemui keluarga Naura dan membatalkan pernikahan yang telah dipaksakan kepadanya.

“Aku akan menikahimu,” kata Ferand kepada Naura.

Naura menatapnya lama. “Apa aku hanya jalan keluar bagimu?”

Ferand terdiam. Ia ingin mengatakan tidak, tetapi ia tidak sanggup berbohong.

Naura akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Bukan karena cinta, melainkan karena ia terlalu lelah untuk terus melawan dunia.

Mereka kemudian tinggal di Istana Arvendell. Rumah batu itu besar, dengan jendela-jendela tinggi dan lorong panjang. Megah, tetapi dingin.

Ferand mengira pernikahan itu hanya akan menjadi kesepakatan. Ia membutuhkan Naura untuk menyelamatkan hidupnya. Naura membutuhkan Ferand untuk melarikan diri dari pernikahan yang dipaksakan. Tidak lebih. Setidaknya, itulah yang ia yakini. Namun, hari-hari perlahan mengubah sesuatu.

Suatu malam, Ferand melihat Naura duduk di dekat perapian. Perempuan itu sedang merajut sepotong kain tebal.

“Apa yang kau buat?”

“Jaket.”

“Untuk siapa?”

Naura menunjuknya. “Untukmu.”

Ferand tertawa kecil. “Aku punya puluhan mantel.”

“Tidak semuanya bisa menghangatkanmu.” Naura menyerahkan jaket itu. Jahitannya tidak sempurna. Benangnya kasar. Bahkan beberapa bagian tampak bernoda darah karena jari Naura terluka saat merajut.

“Kenapa repot-repot?” tanya Ferand.

Naura tersenyum kecil. “Karena dingin yang kau sembunyikan lebih menyakitkan daripada dingin udara.”

Kalimat itu menusuk Ferand lebih dalam daripada penyakitnya. Sejak kapan ada seseorang yang melihatnya seperti ini? Bukan sebagai nama, bukan sebagai harta, melainkan sebagai manusia yang kedinginan.

Malam-malam berikutnya, Ferand mulai menunggu suara langkah Naura di lorong. Ia mulai hafal cara perempuan itu tertawa, dan Ia mulai menyimpan cangkir yang pernah disentuhnya. Tanpa disadarinya, kesepakatan berubah menjadi cinta.

Justru karena itulah, malam tahun baru terasa seperti pisau yang semakin dekat ke leher.

Ferand kembali menemui gurunya. “Pasti ada cara lain. Aku mohon.”

Guru itu terdiam lama. “Ada satu obat terakhir,” katanya akhirnya. “Tetapi obat itu hanya memindahkan penyakit dari satu tubuh ke tubuh lain. Ia tidak menyembuhkan.”

“Lalu bagaimana caranya agar Naura hidup?”

“Pada akhirnya, seseorang tetap harus menerima penyakit itu sepenuhnya,” Ujar Guru  menatap Ferand.

Ferand menggenggam tongkat gurunya. “Kalau begitu, biarkan aku.”

Namun sebelum obat itu sempat digunakan, seseorang mengetahui rahasia tersebut. Namanya Cika.

Cika telah mengenal Ferand jauh sebelum Lunara mengenalnya sebagai orang besar. Mereka tumbuh di musim yang sama, berjalan di jalan batu yang sama, dan melihat matahari yang sama. Tetapi hidup memilih Ferand dan membiarkan Cika berdiri di pinggir, menunggu sesuatu yang tak pernah datang.

Cika mencintai Ferand dengan cara yang sunyi. Terlalu sunyi. Ia mencintai Ferand seperti seseorang mencintai matahari, bukan karena matahari menjanjikan kehangatan, melainkan karena ia takut hidupnya terlalu gelap tanpa cahaya itu. Namun Ferand tidak pernah menoleh. Setiap kali Cika mendekat, Ferand bersikap sopan. Terlalu sopan untuk disebut peduli. Tidak dingin, tetapi juga tidak hangat, dan bagi Cika, sikap itu lebih menyakitkan daripada penolakan.

Kalau kau membenciku, setidaknya aku tahu di mana posisiku. Tetapi kau bahkan tidak cukup membenciku. Batin Cika

Ketika Ferand menikahi Naura, sesuatu dalam diri Cika runtuh. Ia tidak melihat pernikahan itu sebagai cinta, melainkan sebagai penggantian. Seolah bertahun-tahun yang ia habiskan untuk menunggu tidak pernah berarti.

Dari seorang pembantu tua di rumah Ferand, Cika mengetahui tentang obat terakhir sang Guru. Ia juga mengetahui bahwa penyakit Ferand dapat dipindahkan kepada Naura.

Malam itu, Cika duduk sendirian di kamar. “Aku tidak bisa kehilangan Ferand,” bisiknya dengan tangan gemetar. “Bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan orang lain.”

Ia menyuruh seseorang menukar obat tersebut. Bukan dengan racun, melainkan dengan ramuan pemindah penyakit. Cika tahu Ferand akan selamatm, dan ia juga tahu Naura mungkin tidak. Untuk pertama kalinya, ia memilih cinta yang ia inginkan daripada manusia yang dicintainya.

Malam tahun baru tiba. Kembang api memenuhi langit Lunara. Ferand meminum obat itu tanpa curiga, tertidur dengan satu keyakinan sederhana: jika dirinya harus mati, setidaknya Naura akan hidup.

Namun pagi berikutnya, Ferand terbangun tanpa rasa sakit. Jantungnya berdetak tenang; penyakitnya telah pergi.

Di kamar lain, Naura ambruk. Dadanya sesak, napasnya tersendat dan tubuhnya menggigil. Ferand berlari mencarinya, tetapi ia terlambat. Naura tidak mati, namun penyakit Ferand kini tinggal di dalam tubuhnya.

Cika melihat semuanya dari kejauhan. Ketakutan muncul di matanya, tetapi tidak cukup besar untuk mengalahkan egonya. Ia menyuruh orang-orangnya membawa Naura keluar dari istana, membuangnya ke pinggir Lunara, dan menyebarkan kabar bahwa Naura telah meninggal.

Malam itu, Naura terbangun sendirian, dingin dan kesakitan. Di tengah penderitaan itu, ia baru mengetahui bahwa di dalam tubuhnya tumbuh kehidupan lain; anak Ferand.

Tujuh tahun berlalu. Ferand hidup seperti bayangan. Ia berjalan, makan, berbicara, dan bekerja, tetapi tidak pernah benar-benar hadir. Ia percaya Naura telah mati. Anehnya, hidup tanpa penyakit justru terasa seperti hukuman.

Sementara itu, Naura bertahan bukan karena ingin hidup, melainkan karena seorang anak kecil yang belum berdosa membutuhkan ibunya. Anak itu bernama Arven.

Suatu malam, Arven bertanya, “Ibu, ayahku di mana?”

Naura terdiam lama. “Ayahmu pernah ada.”

“Apakah dia orang baik?”

Naura menatap wajah anaknya. “Entahlah. Tetapi ia pernah sangat mencintai kita.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika penyakit Naura semakin parah, Arven menemukan sebuah gelang perak dan alamat yang terselip di antara barang-barang ibunya. Ia pergi mencari ayahnya, bukan karena rindu, melainkan karena takut kehilangan satu-satunya dunia yang ia punya.

Ketika akhirnya Arven berdiri di hadapan Ferand, lelaki itu langsung mengenali gelang tersebut. Gelang yang pernah ia berikan kepada Naura.

“Siapa ibumu?” tanya Ferand dengan suara bergetar.

“Naura.”

Lutut Ferand melemah. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia menangis. Bukan karena menemukan anaknya, tetapi karena menyadari bahwa hidup telah berjalan tanpa dirinya.

Ferand mengikuti Arven ke sebuah rumah penyembuhan di pinggir kota. Di sana, Naura terbaring di sebuah kamar bercahaya redup. Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus, namun napasnya masih berjuang.

Ferand berdiri di ambang pintu seperti orang asing di dalam hidup yang pernah ia tinggalkan. Ia mendekat perlahan, menggenggam tangan Naura yang dulu hangat, kini dingin, tetapi masih nyata.

“Aku terlambat,” bisiknya. “Tujuh tahun terlalu lama untuk meminta maaf.”

Naura tidak menjawab, namun jemarinya bergerak sedikit seolah mengenali suara yang pernah ia cintai.

Ferand duduk di samping ranjang. Ia bercerita tentang hari-hari kosongnya, tentang penyesalan yang tidak pernah tidur, dan tentang cinta yang ternyata tidak pernah benar-benar mati.

“Kalau kau bangun,” katanya lirih, “aku tidak akan pergi lagi.”

Malam itu, Guru dari Hutan Liris datang membawa sebuah pil. Ferand menatapnya. “Ini obat terakhir?”

Guru mengangguk. “Penyakit itu tidak dapat dimusnahkan. Ia hanya dapat dipindahkan.”

“Ke siapa?” Guru menatap Ferand.

“Orang yang bersedia menerimanya.” Ferand memandang Naura.

“Dan jika seseorang menerimanya?”

“Tubuhnya akan menjadi wadah terakhir. Penyakit itu akan menghabiskan hidupnya.” Ferand diam.

“Berarti hanya ada satu cara agar Naura hidup.”

Guru tidak menjawab.

Ferand memandang Naura. Ia sudah tahu jawabannya.

Dua hari berlalu. Naura membuka mata. Tidak ada sesak, tidak ada rasa sakit. Jantungnya berdetak tenang dan kuat. Cahaya pagi masuk melalui jendela, hangat, seolah dunia sedang berbaik hati kepadanya.

“Ferand…” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban.

Naura menoleh. Sisi ranjang kosong, seprai rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang semalam duduk menunggu hidup dan mati. Pintu kamar terbuka.

Bukan Ferand yang masuk, melainkan Guru dari Hutan Liris. Naura menatapnya.

“Guru… Ferand ke mana?” tanya Naura

Guru berdiri lama di ambang pintu. Tongkatnya menyentuh lantai perlahan. “Anak itu tidak akan datang.”

Naura tersenyum kecil. “Dia pasti kelelahan. Biasanya begitu.”

Guru memejamkan mata. Suaranya bergetar. “Naura…. kau hidup karena Ferand memilih mati.”

Senyum Naura lenyap. “Apa maksud Guru?”

Guru mendekat dan duduk di samping ranjang. “Penyakit itu tidak hilang.”

Naura menggeleng. “Tidak.”

“Ia hanya berpindah.”

Naura menatap dadanya sendiri, jantungnya berdetak terlalu stabil, terlalu kuat.

“Ferand meminum pil terakhir,” lanjut Guru. “Ia menerima penyakit itu kembali ke dalam tubuhnya.”

Napas Naura tercekat. “Jadi… jantung ini…”

Guru mengangguk. “Ia hidup karena Ferand tidak lagi menggunakannya.”

Naura menutup mulutnya. Tangis tidak langsung keluar, yang datang lebih dulu adalah penyesalan.

“Kenapa dia tidak bilang?” Suaranya pecah. “Kenapa dia tidak memintaku memilih?”

Guru menunduk. “Karena Ferand tahu. Jika kau diminta memilih, kau akan memilih mati.”

Naura teringat wajah Ferand. Tatapannya yang selalu tertahan, senyumnya yang terlalu tenang dan cara ia menggenggam tangannya seperti seseorang yang sedang berpamitan. “Aku tidak mau hidup seperti ini.”

Guru berdiri. “Kadang hidup bukan hadiah,” katanya lirih. “Ia adalah hukuman bagi orang yang ditinggalkan.”

Naura bangkit dari ranjang, kakinya gemetar. Bersama Arven, ia pergi ke tempat yang disebut Guru sebagai Makam Avelien. Di sana, di bawah pohon tua, terdapat sebuah makam tanpa nama. Dengan tanah yang masih basah.

Naura berlutut dan tangannya menyentuh tanah dengan gemetar. “Ferand…” Angin bergerak pelan. “Aku hidup.” Air matanya jatuh. “Aku hidup, dan kau mati.” Ia menundukkan kepala. “Aku seharusnya mati bersamamu.”

Arven berdiri di belakangnya, menangis tanpa mengerti sepenuhnya bagaimana kehilangan bisa terasa begitu berat.

Naura menempelkan dahinya ke tanah. Kalau cinta adalah pengorbanan, mengapa orang yang ditinggalkan harus menanggungnya sendirian?

Ia menangis sampai tubuhnya lelah.

Hari itu Naura menyadari sesuatu yang paling kejam dari cinta: orang yang mati mungkin hanya merasakan kematian sekali, tetapi orang yang ditinggalkan harus belajar hidup dengannya setiap hari.

Sejak saat itu, Naura tetap hidup. Ia bernapas dengan jantung yang dibayar oleh nyawa orang lain. Ia tersenyum demi anaknya dan berjalan meski sebagian dirinya tertinggal di sebuah makam tanpa nama.

Setiap malam sebelum tidur, ketika Lunara kembali diselimuti langit biru kelabu, Naura selalu berbisik kepada kesunyian, “Ferand… aku hidup karena kau mati. Dan itu adalah luka yang tidak akan pernah sembuh.”

Naura memejamkan mata tersenyum getir. “Kau mati sekali, Ferand. Aku harus menanggungnya seumur hidup.”

Ia menarik napas panjang. “Pergilah dengan tenang.” Air mata mengalir di pipinya. “Aku akan tinggal.” Ia menatap langit. “Dan itu jauh lebih menyakitkan.” “Selamat jalan, Ferand.” Naura terdiam lama. “Terima kasih sudah mati agar aku bisa bernapas.”