Oleh: Hasanuddin

Coba perhatikan percakapan kita sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Kata-kata yang dahulu dianggap tidak pantas diucapkan di hadapan orang tua atau di ruang publik kini semakin sering terdengar, bahkan dalam diskusi santai maupun forum yang lebih formal. Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan pergaulan, tetapi juga dalam berbagai konten digital yang kita konsumsi setiap hari. Dalam sebagian konteks, gaya bahasa yang kasar justru dipersepsikan sebagai sesuatu yang lebih jujur, spontan, dan apa adanya. Bahkan, tidak jarang kritik terhadap tokoh publik disampaikan dengan kata-kata yang menghina, seolah-olah bahasa yang keras menjadi syarat keberanian dalam menyampaikan pendapat.

Fenomena tersebut tidak muncul begitu saja. Perubahan cara berkomunikasi, khususnya di kalangan generasi muda, dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya media sosial. Banyak kreator konten, influencer, maupun pembawa acara podcast menggunakan bahasa yang kasar atau provokatif untuk membangun kedekatan dengan audiens dan menarik perhatian. Lambat laun, gaya komunikasi seperti ini mulai dianggap wajar, bahkan dinilai lebih menarik daripada bahasa yang santun. Pergeseran tersebut sering dibenarkan dengan alasan bahwa itu hanyalah gaya bahasa atau bentuk ekspresi pribadi. Padahal, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan juga mencerminkan sikap, nilai, dan penghormatan terhadap lawan bicara.

Ketika penggunaan bahasa kasar semakin sering ditemui di berbagai ruang publik, batas antara komunikasi informal dan komunikasi yang menuntut etika pun menjadi semakin kabur. Akibatnya, sebagian orang berisiko kehilangan kepekaan terhadap konteks penggunaan bahasa sehingga sulit membedakan kapan suatu ungkapan layak digunakan dan kapan diperlukan pilihan kata yang lebih santun. Padahal, kemampuan menyesuaikan bahasa dengan situasi merupakan bagian penting dari kecerdasan sosial sekaligus cerminan kedewasaan dalam berkomunikasi.

Sudah saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah masyarakat benar-benar semakin terbuka, atau justru mulai kehilangan kepekaan terhadap bahasa yang digunakan? Kebebasan berbicara memang merupakan hak setiap orang, tetapi kebebasan tersebut tetap harus disertai tanggung jawab. Menjaga etika berbahasa bukan berarti membatasi kritik atau menghambat kebebasan berekspresi, melainkan memastikan bahwa perbedaan pendapat dapat disampaikan secara tegas tanpa mengorbankan rasa hormat kepada orang lain. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, kemampuan memilih kata yang tepat bukan hanya menunjukkan kecerdasan berbahasa, tetapi juga kedewasaan dalam berdemokrasi.