Oleh: Tuan X
“sayang kamu di mana?”
“sama siapa?”
“duduknya sama siapa?”
“kapan pulangnya?”
“kenapa kamu gak beri tahu aku, kalo kamu sedang melakukan itu”
Yah kedengarannya sedikit alay di telinga. Mungkin itu gambaran isi chat seseorang yang sudah memiliki pasangan. Terkadang komunikasi seperti itu kita anggap sebagai bentuk bahwa kitabsangat dicintai oleh pasangan. Namun, di sisi lain, kita juga bisa merasa dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Memberi kabar memang penting dalam sebuah hubungan, karena kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan melalui keterbukaan terhadap aktivitas yang kita lakukan. Keterbukaan dapat menjadi salah satu cara untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan dalam hubungan. Pentingnya kepercayaan dalam hubungan romantis juga terlihat dalam penelitian Grace, Pratiwi, dan Indrawati (2018) yang menemukan adanya hubungan negatif yang signifikan antara rasa percaya dalam hubungan romantis dan kekerasan dalam pacaran pada perempuan dewasa muda di Jakarta.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan merupakan bagian penting dalam hubungan romantis. Namun, keterbukaan bukan berarti pasangan kita memiliki hak kontrol penuh terhadap aktivitas yang kita lakukan melalui pertanyaan-pertanyaan yang mendetail hingga ke akar-akarnya, apalagi sampai masuk ke ranah privasi. Privasi dalam hubungan bukan berarti menjadi ruang untuk menyembunyikan pengkhianatan, tetapi tetap menjadi bagian dari diri seseorang yang perlu dihormati.
Keterbukaan dalam hubungan memang penting, namun kita harus membatasi pada ranah apa dan di mana keterbukaan perlu diberikan kepada pasangan. Keterbukaan dalam sebuah hubungan bisa diberikan melalui beberapa aktivitas yang memang berkaitan dengan hubungan. Artinya, kita cukup memberikan kabar mengenai aktivitas yang sedang dilakukan dan mempercayai hal tersebut tanpa harus melontarkan pertanyaan secara mendetail hingga ke akar-akarnya.
Tuntutan pemberian kabar dari pasangan yang menimbulkan ketidakpercayaan terkadang lahir dari masa lalu yang buruk dan sulitnya membangun kembali kepercayaan. Dalam kondisi Ketika kepercayaan mengalami krisis, Batoebara (2018) menjelaskan bahwa kepercayaan dapat dibangun melalui komunikasi interpersonal yang efektif, termasuk keterbukaan, kemauan untuk mendengarkan, saling mendukung, menjaga keintiman, dan saling percaya. Hal ini menunjukkan bahwa membangun kembali kepercayaan membutuhkan proses komunikasi dari kedua belah pihak.
Karena itu, saya dapat memahami jika seseorang yang pernah mengalami penghianatan membutuhkan kepastian lebih dari pasangan barunya. Namun, pengalaman tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengontrol seluruh aktivitas pasangan. Kepercayaan dalam hubungan dapat dibangun melalui konsistensi dan komitmen dalam perilaku yang kita berikan terhadap pasangan. Salah satunya dengan memberikan kabar terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kekhawatiran. Di sisi lain, pasangan yang telah diberikan kabar juga perlu menghargai dan mempercayai hal tersebut dengan tidak menanyakan hal-hal yang sudah menyentuh ranah privasi.
Cinta yang dewasa adalah cinta yang dibangun dengan saling menghormati. Kita perlu memahami pasangan, terlebih Ketika ia memiliki pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya, seperti pernah mengalami penghianatan. Kita dapat menghargainya dengan memberikan kepastian melalui kebiasaan memberi kabar dan menyadarkannya bahwa ia kini sedang menjalin hubungan dengan orang yang berbeda. Di sisi lain, pasangan yang menerima kabar juga perlu menghormati privasi pasangannya dengan tidak mempertanyakan aktivitas yang dilakukan setiap saat secara mendetail, sehingga dapat membedakan antara aktivitas yang berkaitan dengan hubungan dan ruang privasi masing-masing.
“Sayang, aku lagi meeting, nanti kalo sudah selesai aku kabarin, ya”
“Foto”
“oke, semangat, ya. Nanti kabarin kalau sudah selesai”
Pada akhirnya, menjalin sebuah hubungan yang dewasa bukan tentang seberapa sering kita memberikan kabar atau seberapa jauh kita mengetahui seluruh aktivitas pasangan hingga menghilangkan ruang pribadinya. Cinta yang dewasa adalah bagaimana kita mampu memberikan kepercayaan dan keterbukaan Ketika pasangan membutuhkannya. Sebab, mencintai seseorang bukan berarti harus mengetahui seluruh hidupnya, melainkan belajar percaya bahwa di tengah ruang yang kita berikan, ia tetap memilih untuk menjaga hubungan.
Tinggalkan Balasan