Oleh: Fitri Anisya
aku tiba di pelukan pasirmu
membawa bising yang tak kunjung reda di kepala.
Namun, di sini, di hadapan birumu
detak jantungku mendadak melambat menjelma reda.
Rasa senang ini membuncah begitu nyata
menyaksikan megahmu yang tak pernah meminta apa- apa.
Ada damai yang menyusup di antara jemari kaki
mengisi ruang -ruang hampa yang lama sunyi.
Lalu, mengapa mataku mulai menghangat?
Ada air yang mendesak runtuh di pipi.
Bukan karena benci,
tapi karna samuderamu terlalu mengerti
betapa lelahnya berpura-pura kuat selama ini.
Angin kencang menghantam tubuhku
seolah ia menerbangkan semua beban yang menggelayut.
Suara ombakmu terdengar tiada henti
kini sabana baros menjadi saksi
aku yang remuk menemukan tenangnya sendiri.