Oleh: Tuan Y
Tuhan,

di bibirnya

Kau lukiskan garis-garis geometri

dengan satu embusan napas yang terlalu manis.

 

Warna-warna yang Kaupercikkan

dan kuas yang menjerit

mengheningkan ruang di dadaku

Srat… srat… srat…

menjadi ruang teduh yang sunyi.

 

Bagaimana mungkin aku menatap kanvas

dan melupakan Sang Pujangga Warna

yang menghembuskan napas di dalamnya?

 

Maka, jika suatu saat Engkau membongkarnya,

aku tak akan memunguti tetesannya.

Sebab. aku sadar,

kanvas itu berwarna karena Embusan-Mu.