oleh: Geertz Joe
Tulisan “Ketika Dapur Jadi Studio Drama Organisasi” mencoba terlihat si paling bijaksana dengan segala bumbu humor, kutipan teoritis, dan aroma kebijaksanaan. Tapi, setelah dicermati, si pria mati suri justru mengungkapkan ironi yang disayangkan dan yah… terasa bahwa masakan ini bukan sajian kritis sebagaihalnya yang ia lolongkan — melainkan resep basi dan busuk dengan saus moral tinggi yang menyelimuti rasa hambar argumennya. Penulis ingin tampak moderat, padahal hanya sedang menyiapkan santapan bagi para penakut perubahan; hangat di lidah, tapi dingin di hati.
Ia memulai dengan metafora indah dapur — ide direbus, ego digoreng, kritik disajikan — seolah sedang mengundang pembaca makan bersama-sama, begitulah mulia beliau yang satu ini! Tapi segera setelah itu, beliau menegaskan bahwa yang masak-masak di luar dapur tidak boleh melantangkan suaranya. Yang lucunya, karena di saat yang sama ia menulis esai publik untuk… mengkritik tulisan publik. Bukankah itu seperti melarang orang teriak sambil menjerit lewat megafon sendiri? Ironi ini seharusnya beliau masak lebih matang bukan malah di redam dan bahkan tidak ada lain argumennya hanya seruan moral, namun apa itu moral? biar tidak termakan oleh argumennya sendiri, yang akhirnya setengah gosong antara “kolaborasi” dan “pengendalian kritik, yang katanya mengotori baju sang suci”.
Penulis tampaknya alergi gatal terhadap “teriakan dari luar”, seakan semua bentuk kritik publik hanyalah pentas drama. Ia menyebutnya “piring pecah dan aroma gosong”. Tapi anehnya, sang beliau ini lupa bahwa terkadang piring memang harus pecah agar orang sadar bahwa dapurnya kotor. Tidak semua teriakan destruktif; beberapa justru membangunkan mereka yang terlalu nyaman berilusi di ruang rapat. Kalau setiap kritik eksternal dicap gosong, mungkin organisasi yang ia bela itu terlalu rapuh: takut api, padahal hidup di dapur dengan bara api untuk masak-masak, atau mungkin, apinya tidak pernah menyala yang pada akhirnya masakannya tidak pernah tersajikan? Oh entahlah sang pria mati suri.
Kata “sendok kolaborasi” yang ia agungkan terdengar indah bak layaknya bunga Rafflesia — bunga langka yang berbau busuk. Kolaborasi macam apa yang bisa tumbuh di dapur di mana kompor hanya boleh dinyalakan oleh orang tertentu saja? Ia menuduh Geertz Joe menikmati “pertunjukan retorika”, tetapi sepanjang tulisannya sendiri, yang dipertontonkan justru adalah retorika tuduhan itu sendiri. Sungguh malangnya, ia sibuk membuat satire, menyusun metafora, mengutip Freire dan Habermas untuk mengesahkan pendapatnya — persis seperti orang yang menolak vlog kritik tapi malah bikin vlog tandingan dengan filter moral. Jika Freire bicara soal kesadaran kritis, maka tulisan ini justru menidurkan kesadaran itu di balik selimut “etika kolektif” yang mulia, katanya.
Menarik banget kedengarannya ketika penulis berkata bahwa kritik tanpa tawaran solusi hanyalah gosip intelektual. Padahal lucunya, ia pun tidak menawarkan solusi struktural selain “ayo kolaborasi,” masih mending menawarkan refleksi hingga sang peria mati suri pun juga ikut nih terpancing diskusi — kalimat klise yang biasanya diucapkan setelah semua orang kehabisan ide. Kolaborasi tidak dilahirkan dari seruan moral, tapi dari efektifitas pengendalian struktural. Jika ruang bicara anggota tertutup, siapa yang membuka pintunya? Ia hanya berkata “masuklah dengan cara cerdas, bukan keras.” Pertanyaannya: siapa yang menentukan definisi “cerdas”? atau mungkin sang beliau udah mau jadi hakim di sini? Bisa jadi, mereka yang sudah nyaman di dapur menentukan bahwa yang keras itu bodoh dan yang diam itu bijak.
Penulis mengutip Habermas untuk menolak “public noise”. Tapi ia lupa: ruang publik yang sehat tidak lahir dari ketertiban semu, melainkan dari kebisingan yang terus menggema, bukan malah dibungkam. Habermas bicara tentang rational discourse, bukan silent consensus. manyambut kritik publik sebagai ancaman hanya menegaskan satu hal: ia lebih takut reputasi organisasi hancur daripada substansi masalah terungkap. Apakah ini yang dimaksud dengan etika kolektif — atau sebenarnya manajemen citra?
Empat “resep dapur” di akhir tulisan tampak seperti upaya menciptakan kesan praktis, tapi sesungguhnya hanyalah nasihat moral yang bisa ditemukan di poster-poster motivasi pinggiran jalan. Dengan lantang berteriak mengatakan; bersihkan niat, kerja sama, jangan ribut di luar, dan gunakan humor. Semua tampak bijak banget, sampai kita sadar bahwa kalimat-kalimat itu layaknya hanya bekerja di organisasi yang sudah sehat. Di tempat yang masih menyalahgunakan moral untuk meredam terbongkarnya substansi persoalan? “cuci tangan sebelum mengkritik” malah jadi dalih untuk tidak menyentuh masalah. “Masak bareng” terdengar ideal, tapi bagaimana kalau kompor cuma satu dan yang pegang korek selalu orang yang sama?
Dan humor — oh, humor. Penulis berharap masalah organisasi bisa diselesaikan dengan tawa. Betul, humor bisa menurunkan ego, tapi juga bisa jadi cara menghindar dari kenyataan yang sesungguhnya. Kadang, tawa bukan tanda kedewasaan, melainkan mekanisme bertahan dari frustrasi. Dan kalimat penutupnya yang berbunyi “duduk bersama, bukan untuk saling serang tapi untuk saling suap ide pelan-pelan” terdengar manis, sampai kita ingat: di dapur organisasi, sering yang terjadi bukan saling suap, tapi saling telan.
Pada akhirnya, tulisan ini memang “nyala lampu”, tapi bukan untuk menerangi dapur — melainkan untuk memastikan bayangannya sendiri tetap tampak gagah di dinding. Ia menegur Geertz Joe karena terlalu dramatis, tapi ia pun sedang menulis naskah drama moralnya sendiri. Mungkin dapur organisasi memang berantakan. Tapi yang lebih berbahaya bukan yang berani menjerit dari luar, melainkan mereka yang sibuk merapikan meja supaya tampak bersih saat kamera datang.
Dan kalau benar, seperti katanya, organisasi bukan soal siapa yang paling nyinyir, maka mari jujur: kadang yang paling sabar menunggu masakan matang justru yang paling malas ikut memasak. Mereka yang diam di pojok dapur, mengeluh tentang suara ribut, padahal tak pernah ikut cuci piring.
Jadi, sebelum kita matikan kompor debat seperti yang ia sarankan, mungkin sebaiknya kita periksa dulu: kompornya benar-benar panas — atau memang dari awal belum pernah dinyalakan?