oleh: Pria Mati suri
Setiap organisasi punya dapur. yaitu tempat ide direbus, ego digoreng, dan kadang rasa asin diperbanyak oleh tangan-tangan yang katanya ahli bumbu. Tapi dalam tulisan “Waduh, Bagaimana Jikalau Pintu Dapur Tertutup Rapat?” karya Geertz Joe, suasana dapur itu berubah jadi semacam film thriller organisasi gelap, penuh misteri, dan tentu saja disertai narasi heroik untuk mengguncang pintu yang tertutup. Lucunya dalam semangat membongkar pintu dapur, sang penulis tampak lebih menikmati pertunjukan retorika ketimbang menyiapkan resep solusi. Ajakan untuk meneriakkan dari luar membuka jendela dapur atau menulis di diary yang tak sengaja terbaca publik memang terdengar revolusioner. tapi kalau dipikir-pikir, hasil akhirnya sering kali bukan perubahan, melainkan piring pecah dan aroma gosong di mana-mana. Karena, seperti yang kita tahu teriakan jarang membuat nasi matang lebih cepat. Padahal, kalau kita benar-benar ingin membenahi dapur organisasi, maka yang kita butuhkan bukan panci megafon, tapi sendok kolaborasi. Kritik yang solutif jauh lebih bergizi dibanding kritik yang hanya viral. Kritik yang dilakukan dengan tujuan mempermalukan, membangun simpati eksternal, atau menggiring opini, justru berpotensi melemahkan tubuh organisasi itu sendiri. Kalau dapur kita bocor menjerit di luar rumah tak akan memperbaikinya, paling banter hanya memanggil tetangga yang penasaran.
Joe menuduh bahwa ajakan untuk “membangun narasi positif” adalah bentuk pengkhianatan terhadap hakikat literasi. Menurutnya, literasi bukan sekadar menjaga citra tapi alat pembebasan seperti yang diungkap Paulo Freire dan dikritisi oleh Herbert Marcuse. Setuju, Tapi jangan lupa Freire tidak berhenti pada tahap marah. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menekankan bahwa kesadaran kritis harus diikuti tindakan reflektif bukan sekadar menulis esai yang penuh api, tapi juga ikut membersihkan dapur yang kotor. Kalau hanya bisa menyorot lampu ke arah kekacauan tanpa ikut beresin, kita bukan sedang berjuang, tapi sedang nge-vlog penderitaan organisasi. Begitu juga dengan Marcuse. Ia memang khawatir masyarakat modern membungkam pikiran kritis lewat bahasa teknokratis. Tapi beliau juga tidak pernah menyarankan agar setiap konflik internal diumbar di publik seperti sinetron organisasi. Kalau Marcuse hidup di zaman sekarang, mungkin ia akan menulis buku baru berjudul: “One Dimensional Twitter”, tentang aktivis yang lebih suka bikin thread daripada bikin solusi.
Joe bertanya?, “Apa gunanya duduk bersama kalau hanya ada monolog senior?” Pertanyaan yang bagus. Tapi jawaban yang lebih penting adalah jangan cuma duduk, ngobrol dong. Kalau meja rapat hanya penuh instruksi dan bukan diskusi, itu bukan forum, tapi podcast satu arah. Masalah kita memang bukan sekadar pintu tertutup tapi komunikasi yang beku. Dalam teori komunikasi organisasi Karl Weick organisasi dipahami sebagai sensemaking system tempat setiap individu membangun makna bersama. Nah, di banyak organisasi proses membangun makna ini sering gagal karena setiap orang sibuk membangun pembenaran masing-masing. Akibatnya, suara junior tenggelam, dan suara senior menggema seperti mic yang terlalu dekat dengan speaker. Tapi solusinya bukan berteriak dari luar jendela dapur. Karena teriakan dari luar, sekeras apa pun tetap tidak akan terdengar oleh orang yang sedang sibuk menumis ego di dalam. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk masuk dan bicara dengan cara yang cerdas bukan keras.
Joe menganggap kritik publik sebagai bentuk perlawanan ketika ruang internal gagal. Tapi kalau kita meminjam kacamata Jurgen Habermas, ruang publik yang sehat bukanlah panggung emosional, melainkan arena dialog rasional. Kritik publik yang tanpa arah dan tanpa etika hanya melahirkan public noise bukan public reason. Kritik yang baik itu seperti ventilasi menyalurkan udara tanpa menimbulkan badai, Tapi kalau ventilasi dijebol pakai palu demi transparansi, jangan kaget kalau rumahnya roboh. Organisasi bukan berarti harus steril dari kritik. Tapi kritik yang bijak tahu kapan harus disampaikan, di mana harus ditempatkan dan kepada siapa diarahkan. Kalau semua orang merasa berhak bicara tapi tak ada yang mau mendengar, maka rapat akan berubah jadi festival monolog bukan musyawarah. Dan di sinilah humor penting. Karena kadang, hal paling serius bisa diselesaikan dengan sedikit tawa. Kalau organisasi terlalu tegang bahkan wajan pun takut dipakai. Kalau tiap kritik dianggap serangan pribadi, lama-lama dapur berubah jadi medan perang antar chef.
Mari turun ke dapur sebentar, karena teori saja tidak cukup mengenyangkan. Kita butuh resep bukan sekadar bumbu kata-kata.
1. Cuci tangan sebelum mengkritik. Pastikan niatmu bersih. Kritik bukan balas dendam intelektual atau ajang unjuk pintar, tapi dorongan memperbaiki keadaan.
2. Masak bareng, jangan rebutan kompor. Kolaborasi jauh lebih produktif daripada saling tuding. Kritik kolaboratif menumbuhkan empati dan memancing solusi nyata.
3. Jangan jadikan publik sebagai wasit. Kalau setiap perbedaan langsung diumbar di luar, organisasi akan terlihat sibuk bertengkar daripada bekerja. Rakyat ( anggota ) cuma ingin makan, bukan menonton debat dapur.
4. Gunakan humor sebagai penyedap. Sedikit tawa bisa menurunkan ego yang mendidih. Ingat, kadang masalah bukan soal ideologi cuma karena nasi gosong dan semua orang lapar.
Kritik memang penting tapi kalau setiap kritik diucapkan dengan wajah cemberut siapa yang mau mendengarkan? Organisasi bukan panti asuhan ideologi, tapi tempat belajar jadi manusia yang mau mendengar dan mau salah. Kadang yang kita butuh bukan revolusi tapi kopi panas dan obrolan jujur di teras sekretariat. Jadi, wahai para pejuang literasi kritis, sebelum menulis esai baru dengan nada api coba tengok dulu, Apakah kamu sedang memperjuangkan perubahan atau hanya sedang bosan jadi penonton dan ingin panggung sendiri?. Karena sejatinya, literasi kritis tanpa etika kolektif hanyalah kebisingan dengan grammar rapi. Dan organisasi tanpa ruang dialog adalah dapur tanpa garam. ya hambar, cepat basi, dan tak layak disajikan di meja publik.
Tulisan ini bukan untuk menambah bara, tapi untuk menyalakan lampu. Biar jelas siapa yang benar-benar ingin memperbaiki dapur, dan siapa yang cuma ingin tampil di depan kamera sambil bilang, lihat aku paling peduli. Dan kalau ini harus jadi tulisan terakhir dalam sesi balas-balasan, maka biarlah begitu. Karena kalau benar tulisan Joe dibaca dengan hati yang tenang, dan tulisan ini pun dicermati dengan niat baik, pasti sama-sama paham, yang kita cari sebenarnya bukan sensasi tapi solusi. Jadi, mari kita matikan kompor debat, buka jendela, dan duduk di meja makan bersama. Bukan untuk saling serang, tapi untuk saling suap ide pelan-pelan, biar tidak tersedak ego. Karena di akhir hari, organisasi bukan soal siapa yang paling nyinyir tapi siapa yang paling sabar menunggu masakan matang tanpa meninggalkan dapur.