Oleh: pria mati suri

Dalam beberapa waktu terakhir kawan-kawan IMABA Yogyakarta seperti sedang keranjingan menulis. Tidak tanggung-tanggung, tulisan-tulisan itu beredar luas di laman publik dan jadi bahan bacaan banyak orang. Judulnya pun menggoda: “IMABA Yogyakarta Melarat Literasi”, “Wahai Senior yang Agung dan Wahai Junior yang Lemah”, hingga “Bagaimana Kaderisasi Mati Suri?”. semua berasal dari tangan Geertz Joe yang memang gemar mengusik pikiran. Sekilas tulisan-tulisan itu seperti alarm yang menyadarkan kita bahwa ada banyak hal yang belum selesai di tubuh organisasi. Namun pertanyaannya, apakah tepat kalau segala kegalauan internal kita langsung dipublikasikan di muka umum? Apakah dapur rumah tangga organisasi memang seharusnya dijadikan tontonan?

Mari kita lihat bersama-sama.

Kritik itu sehat, Tanpa kritik, organisasi akan jalan di tempat  bahkan bisa jadi mati suri. Namun, kritik yang baik adalah yang ditujukan ke dalam terlebih dahulu sebelum diumbar keluar. Kalau analoginya rumah tangga, kritik publik ibarat pasangan yang bertengkar lalu live di TikTok. Memang seru bagi penonton tapi apakah masalahnya selesai? Yang ada, jadi bahan ghibah berjamaah. IMABA ini kan bukan infotainment. Kita organisasi mahasiswa. Kalau kaderisasi lemah, literasi seret, atau relasi senior-junior timpang, semestinya kita duduk bersama bukan justru bikin tulisan yang memperuncing jarak. Alih-alih membangun jalan keluar publikasi macam itu lebih mirip mempertebal stigma “Oh, IMABA itu gitu ya, berantakan.” Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Masih banyak kader yang bergerak, masih banyak kegiatan yang berjalan, masih banyak niat baik yang tertanam. Sayangnya, sisi itu tenggelam di balik narasi yang terlalu fokus pada “krisis”.

Lucu juga membaca diksi “senior agung” dan “junior lemah”. Seolah-olah ada kerajaan di dalam organisasi. yang tua dipuja dan yang muda hanya bisa menunduk. Memang fakta di lapangan sering terasa demikian senior sibuk dengan urusan masing-masing, sementara junior kebingungan mencari teladan. Tapi mari kita jujur. siapa sih yang bisa langsung kuat tanpa pernah lemah? Junior wajar kalau masih gagap, masih butuh arahan. Senior pun wajar kalau tidak selalu hadir, karena hidup mereka makin rumit. Yang salah bukan pada labelnya melainkan pada cara kita merajut hubungan. Bayangkan kalau analoginya grup WhatsApp keluarga, senior adalah para orang tua yang kadang sibuk kirim pesan “pagi anak-anak, jangan lupa sarapan”, tapi tidak sempat mampir ke kos. Junior adalah bocah-bocah yang sering spam stiker random. Kalau dua kubu ini tidak belajar sabar, chat grup bisa penuh drama. Nah, IMABA jangan sampai berubah jadi grup WA toxic.

Kaderisasi memang jadi isu klasik. Ada masa ketika kegiatan berjalan kencang, ada pula masa ketika semangat redup. Tapi menyebutnya “mati suri” terdengar agak berlebihan. Kalau mati suri berarti sudah koma, tinggal menunggu takdir. Padahal IMABA masih punya denyut hanya saja mungkin butuh vitamin, bukan vonis. Vitamin itu bisa berupa pendampingan yang konsisten program yang relevan dengan kebutuhan kader, dan ruang kreatif yang memberi kesempatan junior untuk berkembang. Bukannya menuntut mereka jadi hebat seketika, tapi memberi jalan agar mereka bisa belajar dengan tenang. Kalau senior dianggap agung, jadilah agung yang memeluk, bukan hanya memberi instruksi dari kejauhan.

Tulisan Geertz Joe soal “melarat literasi” memang menggigit. Tapi jangan salah kaprah. literasi bukan cuma soal berapa banyak tulisan yang kita hasilkan. Literasi juga soal cara kita membaca situasi, cara kita mendengar kawan, cara kita menafsir pengalaman. Kalau semua energi literasi hanya diarahkan untuk mengkritik kelemahan internal, bukankah kita justru mempersempit makna literasi itu sendiri? Bukankah lebih keren kalau literasi kita dipakai untuk membangun narasi positif tentang kontribusi kader di masyarakat, tentang program kreatif yang lahir dari IMABA, atau bahkan tentang humor-humor khas Batak di tanah Jawa yang selalu berhasil mencairkan suasana.

Kritik publik itu ibarat membuka dapur. Orang luar akan lihat panci gosong, minyak tumpah, bawang gosok sana-sini. Padahal yang seharusnya ditampilkan adalah hidangan matang di meja makan. Bukan berarti kita menutupi masalah, tapi kita memilih ruang yang tepat untuk membahasnya. Kalau dapur sedang berantakan, ayo kita bereskan bersama-sama. Jangan sibuk menunjuk siapa yang malas cuci piring, siapa yang salah potong sayur. Karena ujungnya, semua ingin makan enak.

IMABA Jogja bukan sekadar kumpulan mahasiswa, tapi rumah kedua. Kalau rumah ini retak kita perbaiki bukan kita robohkan. Kalau ada luka kita obati bukan kita umbar. Tulisan-tulisan yang sudah tersebar biarlah jadi pengingat. Namun ke depan, mari kita sepakat kritik itu perlu, tapi solusi lebih perlu. Literasi itu penting, tapi jangan berhenti di keluhan. Senior itu agung kalau mau membimbing, junior itu kuat kalau mau belajar. Jadi  ayo sama-sama berjuang. Jangan sibuk membuka dapur di depan khalayak. Lebih baik kita masak bersama, lalu menghidangkan makanan yang pantas dibanggakan. Dan siapa tahu suatu hari nanti justru tulisan-tulisan kita akan berjudul: “IMABA Yogyakarta, Gudangnya Kreasi dan Inspirasi.”

Tempat Informasi IMABA YOGYAKARTA