Oleh: Taufiq Hidayat, Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Perenung dari Sampang mati di jalan
meninggalkan catatan di Bilik kontrakan.
Tubuhnya kecil memendam pergolakan
dan kuburannya diterjang penggusuran.
Memburu sepi menjumpai arah Tuhan
dan hatinya senyap merindu perempuan.
Agama di bumi dan darah bertumpahan
Melanda diri dalam riwayat kesendirian.
Deru angin pantai Madura berbau garam
tak hilang diri dari gelombang pencarian.
Tuhan yang tercinta mengajaknya pulang
sebelum khatam catatan pada lembaran.