Bagaimana, Kaderisasi Mati Suri?

Oleh: Geertz Joe

Setiap organisasi pastilah menyadari satu mantra abadi: kaderisasi adalah nadi. Tanpa proses regenerasi yang betul-betul bermakna, sebuah organisasi tak lain sekadar bangunan megah berisi orang-orang yang suatu saat akan pergi dan lupa akan dirinya, meninggalkan ruang kosong yang tak lagi memberi kesan. Dalam konteks inilah, Departemen Kaderisasi di organisasi IMABA Yogyakarta memikul tugas yang begitu mulia, yah sekaligus berat kenyataannya. Mereka adalah arsitek bagi masa depan organisasi. Namun, realita seringkali tak seindah cita. Apa jadinya ketika nadi itu hanya berdenyut sekali dalam setahun – dalam sebuah ritual seremonial, lalu kembali menghilang dalam keheningan rutinitas keseharian?

IMABA Yogyakarta, seperti banyak organisasi lainnya, mungkin telah menjadikan Masa Orientasi atau Diklat Kader sebagai puncak dari proses pengkaderan. Acara tersebut dirancang dengan sematang-matangnya, penuh dengan materi keorganisasian, dinamika kelompok, dan semangat yang membara, hingga apipun kalah kobarannya. Para anggota baru pun disambut dengan kehangatan langkualan di atas panggung seremonial itu. Mereka pulang dengan segudang harapan dan pemahaman teoretis tentang ke-IMABA-an. Namun inilah momen yang “sangat memilukan,” karena di situlah letak persoalannya: harapan akan kemaksimalan justru berakhir pada sebuah proses yang terpotong dan tidak berkelanjutan. Ah… saya gak tahu mau berkata apa.

Setelah pesta usai dan Banner digulung, kehidupan organisasi kembali pada “kehidupan sosial sehari-hari” yang justru menjadi medan kaderisasi yang sesungguhnya. Lah di sini, ingat yah di disini. Tapi sayangnya, di ruang inilah kaderisasi itu kanapa mati suri. Alih-alih ada pendampingan intensif pada kader baru, sebaliknya, yang terjadi adalah jurang pemisah antara kader yang lebih dahulu dan anggota yang baru. Interaksi tidak lagi dibingkai dalam konteks mentoring atau transfer nilai, melainkan sekadar “main game semata.” Permainan sebenarnya penting untuk membangun keakraban, tetapi, ayo lah… ketika ia menjadi satu-satunya bentuk interaksi, ia kehilangan ruhnya. Kaderisasi yang sejatinya merupakan proses pembentukan karakter dan pemahaman mengenai orgaisasi, sebuah proses yang mustahil tercapai kalau hanya melalui sesi bermain Mobile Legends atau berbagai game lainya bersama.

Akar masalahnya mungkin bukan terletak pada pemahaman tentang esensi “mengkader”, saya percaya kita bersama memahaminya, tetapi persoalannya apakah kita sudah dapat mengimplementasikan pemahaman tersebut? Mengkader bukanlah sekadar menyelenggarakan acara atau memberikan modul. Ia adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang melekat pada setiap diri kader senior, setiap hari yah! Bukan setahun sekali. Ia adalah proses penyampaian nilai-nilai organisasi melalui keteladanan, percakapan ringan di warung-warung kopi, diskusi tentang masalah studi, hingga bantuan dalam menghadapi problematik kehidupan nyata di perantauan ini. Ketika seorang senior tidak terlalu dekat dengan anggota baru, atau kedekatan itu hanya bersifat superfisial, maka yang terbentuk adalah hubungan transaksional, bukan hubungan ideologis yang seharusnya kita tanamkan.

Dampaknya sangat jelas. Pertama, pemahaman organisasi yang dangkal. Anggota baru mungkin hafal falsafah atau visi-misi IMABA, tetapi apakah mereka merasakan denyutnya dalam tindakan nyata para seniornya. Kedua, lemahnya ikatan emosional dan ideologis. Loyalitas mereka kepada organisasi akan rapuh karena tidak dibangun di atas fondasi hubungan yang mendalam dan meaningful. Ketiga, ancaman terhadap regenerasi kepemimpinan. Dari mana akan lahir pemimpin masa depan jika proses penyiapan mereka berhenti setelah acara seremonial usai?

Oleh karena itu, ritual seremonial tahunan, pada akhirnya, hanyalah sebuah permulaan yang kosong tanpa diikuti oleh napas panjang komitmen sehari-hari. IMABA Yogyakarta kini berdiri di persimpangan jalan: apakah akan terus menjadi organisasi yang identitasnya hanya hidup dalam album foto kegiatan setahun sekali, atau berani bertransformasi menjadi sebuah organisasi yang nilai-nilainya meresap dalam setiap interaksi dan menjadi penuntun dalam laku keseharian?

Sebelum beranjak, mari kita ajukan beberapa pertanyaan reflektif ini ke dalam kalbu kita masing-masing, khususnya bagi kita yang menyandang status sebagai kader senior, katanya:

Bagaimana mungkin kita berharap lahir kader yang mencintai organisasinya sepenuh hati, jika kita sendiri tidak meluangkan waktu untuk benar-benar mengenal dan memahami mereka di luar panggung formal?

Sudahkah kita, sebagai anggota yang katanya lebih senior, menjadi teladan hidup dari nilai-nilai yang kita kumandangkan dalam modul kaderisasi? Atau jangan-jangan, kita hanya pandai berbicara tentang “ideologi” di ruang kelas pelatihan, tetapi absen mempraktikkannya dalam dinamika sosial sehari-hari?

Apakah arti sebuah “kedekatan” jika ia hanya dibangun di atas dasar kesenangan semu dan tidak pernah mengarah pada transfer pengetahuan, pengalaman, dan nilai? Bukankah hubungan yang sesungguhnya lahir dari proses belajar dan tumbuh bersama?

Jika esensi kaderisasi adalah membangun hubungan ideologis, lalu di manakah posisi kita saat ini? Apakah kita telah menjadi contoh yang dapat diandalkan, atau sekadar teman nongkrong yang bisa dihubungi ketika ada update game terbaru, sembari berkata “wih ini keren, cok”?

Tulisan ini bukan untuk menyudutkan abang-abang kaderisasi, melainkan untuk mengajak refleksi bersama bagi para anggota yang masih merasa bagian dari pada Organisasi IMABA Yogyakarta. Ruang kosong yang ditinggalkan oleh ketidakhadiran kita dalam proses kaderisasi yang berkelanjutan, pada akhirnya, hanya akan menjadi kuburan bagi masa depan organisasi ini. Tanggung jawab untuk mengisi ruang itu tidak hanya berada di pundak Departemen Kaderisasi ya kakak-kakak, tetapi pada setiap individu yang menyebut dirinya sebagai keluarga besar IMABA Yogyakarta yang katanya si paling istimewa.