Oleh: Andre Andika

Kalangan anak muda dan dewasa kini tidak lepas dari sebuah hubungan batin yang disebut pacaran. KBBI mengartikan pacaran sebagai teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih yang belum terikat perkawinan. Hubungan batin ini terjadi ketika seseorang sudah saling mengenal dan beraktivitas bersama, sehingga pada tahap pembentukan batin inilah lahir sebuah ikatan pacaran. Menurut DeGenova & Rice (2005), pacaran merupakan pertemuan antara laki-laki dan perempuan untuk melakukan serangkaian aktivitas bersama guna mengenal sikap satu sama lain. Dalam proses mengenal sikap tersebut, suatu hubungan tidak lepas dari sebuah keyakinan, yaitu tidak takut pada kehidupan. Hal ini mencerminkan sebuah keteguhan dan ketabahan. Bagaimana ketika dunia mengatakan “ya”, kedua belah pihak justru mampu mengatakan “tidak”. Dengan ketabahan inilah, kedua belah pihak dapat dikatakan sebagai manusia yang utuh dan berkembang. Namun, dalam perjalanannya, hubungan batin ini kerap diperhadapkan pada dua sisi problematika utama, yaitu kekecewaan dan kebosanan.

Problematika pertama yang dapat menghancurkan hubungan batin tersebut adalah munculnya kekecewaan. Kekecewaan dalam pacaran biasanya merupakan akibat dari tindakan salah satu pihak yang melanggar apa yang sudah disepakati, bahkan setelah adanya diskusi yang mendalam. Namun, seberapa sering pun seseorang melakukan pembicaraan dengan pasangannya, jika orang tersebut bukanlah orang yang tepat, maka mustahil untuk mewujudkan perubahan tersebut. Pada tahap inilah terjadi sebuah paradoks dan watak harapan. Di mana pihak yang melanggar kesepakatan mengalami kebingungan di dalam dirinya; antara berubah sesuai dengan kemauan hatinya sendiri, atau baru berubah ketika nanti mendapatkan orang yang tepat (harapan pasif). Padahal, sebuah revolusi dalam diri sejati terjadi ketika seseorang memiliki kesadaran untuk bergerak sendiri tanpa menunggu orang lain. Jika dikaitkan dengan cerita Franz Kafka yang berjudul “The Trial”, seseorang yang menggantungkan harapan untuk berubah karena menunggu orang lain sebenarnya sedang melakukan bentuk pengunduran diri dan terjebak dalam ideologi belaka. Jenis harapan pasif ini berhubungan erat dengan waktu, di mana waktu dan masa depan menjadi sentralnya. Akibatnya, tidak ada harapan yang diwujudkan pada masa kini, melainkan hanya ditunda pada masa berikutnya, hari berikutnya, hingga tahun berikutnya sampai ia menemukan orang yang tepat untuk mengubah hidupnya.

Problematika kedua di dalam hubungan batin adalah munculnya kebosanan untuk melanjutkan hubungan tersebut. Teori makna dan tujuan (meaning and purpose theories) dari tokoh seperti van Tilburg dan Igou (2012) mendefinisikan kebosanan sebagai sinyal bagi individu bahwa aktivitas yang dilakukannya tidak lagi memberikan makna dan tujuan. Kebosanan dalam hubungan batin merupakan suatu keadaan di mana salah satu pihak, baik laki-laki maupun perempuan, tidak menemukan relevansi dan nilai dalam apa yang mereka jalani bersama. Pihak tersebut kehilangan kemampuan untuk terlibat secara mendalam, yang kemudian memicu datangnya kebosanan. Dalam pandangan ini, kebosanan menjadi sebuah “nada dering eksistensial” yang mendorong seseorang untuk mencari aktivitas atau tujuan baru yang lebih selaras dengan nilai-nilai mereka. Dengan kata lain, salah satu pihak belum bisa menemukan hal paling istimewa yang patut dikagumi atau dipuji dari pasangannya. Secara bersamaan, kondisi ini memicu keinginan untuk berpindah kepada seseorang yang dianggap lebih bernilai, istimewa, atau bahkan sosok yang menjadi public figure dalam menjalani kehidupannya.

Berdasarkan pemaparan di atas, hubungan batin di dalam pacaran tidak lepas dari dua problematika utama yang saling berkaitan. Ketika kekecewaan muncul karena adanya harapan pasif—di mana salah satu pihak menunda perubahan dirinya demi menunggu orang yang tepat seperti dalam cerita Franz Kafka—maka hubungan tersebut sebenarnya sedang berjalan di atas ideologi belaka dan bentuk pengunduran diri terhadap masa kini. Di sisi lain, ketika kebosanan hadir, hal ini menjadi nada dering eksistensial yang menandakan bahwa hubungan tersebut telah kehilangan relevansi, makna, dan nilai-nilai pentingnya. Pada tahap ini, kedua belah pihak ditantang untuk melihat kembali ke dalam diri mereka masing-masing. Menghadapi dua problematika ini tentu membutuhkan keyakinan, keteguhan, dan ketabahan yang nyata. Karena pada akhirnya, sebuah hubungan batin akan bermakna ketika kedua belah pihak mampu menghadapi tantangan tersebut, bukan dengan cara pasif menunggu waktu atau berpindah pada orang lain, melainkan dengan bersama-sama menemukan kembali hal istimewa yang patut dikagumi agar mereka dapat tumbuh menjadi manusia yang utuh dan berkembang.