Oleh: Pria Bertopi
Pada malam, renungan
berselimut ke ubun-ubun,
sinar lampu terhalang pohon sabu
jiwa rimpuh ingin terus mengabdi.
Bersemayam pada citra, yang
tersimpan rapi di galeri.
Sekali saja aku katakan
tidak akan lagi bersungut-sungut
jujur pada masa, meski tak akan hinggap.
Pada malam senantiasa,
berdo’a di keheningan bersama kertas suci,
dan menggarap tubuhmu.
Biarlah aku di penjara dosa-dosa,
meliang di pinggir sungai, rerumputan.
Terguyur sesaat menggali setelahnya,
menjamah tubuhmu,
merengkuh hingga tersimpuh,
merawat ke dalam bak mandi
“Kita telah membuat benih”.
Pada malam hari nanti
Kau tak akan lagi suci,
dan aku tak akan lagi mau mengabdi.
Pada suatu malam nanti, kita akan terpisah
dari tempat tidur bawah.
Pagi ke sawah,
sore ke ladang,
kamu saja berdandan,
persiapan malam selanjutnya.
Cerita pada malam,
bahwa bersenggamaku, ilusi, fiksi, dan halusinasi.