Oleh: Taufiq Hidayat
Judul Buku : Orientalism
Penulis : Edward W. Said
Penerbit : Vintage Books (Random House), New York
Tebal. : 368 Halaman
Setelah saya tahu dan baca buku karangan Edward Said ini yang bertajuk Orientalism, saya baru sadar bahwa belajar mengenai konteks pembahasan orientalisme dari buku yang bagus dapat merubah cara pandang saya mengenai bagaimana dunia Barat memandang kita (Timur). Saya sangat menikmati buku ini, meskipun belum paham sepenuhnya, Said menyajikannya dengan sangat menantang untuk sekelas diri saya yang masih belum banyak mempelajari persoalan orientalisme. Ia menulis buku ini, tergambar dalam pikiran saya, seperti orang berargumen sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerja – di satu bagian membahas mengenai seorang penyair dari Prancis hingga ke pejamabat Inggris di Mesir, namun di sisi lain tiba-tiba ia membahas ahli bahasa abad ke-19 – yang ia bingkai dalam satu pertanyaan “bagaimana Eropa membangun gambaran tentang Timur dan untuk apa gambaran itu dipakai?”.
Edward Wadie Said dan Tiga Makna Orientalisme
Edward Said atau yang lumrah dikenal dengan panggilan Said, ia lahir di Yarusalem bertepatan pada 1 November 1935, Said menggambarkan masa kecilnya seperti “hidup di antara dua dunia” (Kairo dan Yarusalem). Jenjang Pendidikannya, Said terdaftar di sekolah St. George di Yarusalem, sebuah sekolah khusus laki-laki keturunan Inggris yang dikelola oleh keuskupan Anglika setempat, tetapi ia berhenti sekolah setelah meningkatnya kekerasan antara komunitas Arab Palestina dengan Yahudi Palestina membuatnya terlalu bahaya untuk terus melanjutkan sekolah, sehingga keluarganya meninggalkan Yarusalem pada awal perang Palestina 1947 -1949. Selanjutnya pada tahun 1940-an, Said terdaftar di Victoria Collage sebagai cabang Kairo, namun pada akhirnya ia dikeluarkan karena perilaku yang merepotkan, meskipun prestasi akademiknya tinggi. Kemudian, setelah pindah ke Amerika Serikat, said melanjutkan sekolahnya di Northfield Mount Hermon School di Massachusetts – sekolah berasrama persiapan perguruan tinggi elit sosial di mana ia berjuang dengan keterasingan sosial selama setahun. Meskipun demikian, ia berprestasi secara akademis dan meraih peringkat. Hingga demikian Said dikenal khalayak umum sebagai salah satu tokoh kritikus sastra paling terkemuka di Universitas Columbia.
Di bagian pendahuluan Said dengan terang-terangan menyebut dirinya sebagai Oriental yang dididik dalam sistem Pendidikan Barat, dan dari pengalaman itulah yang kemudian turut melatarbelakangi lahirnya buku ini. Buku ini sebagian besar selesai ditulis sekitar tahun tahun 1975 hingga 1976, ketika ia menjadi peneliti tamu di Stanford, dan ketika konflik Arab-Israel, krisis minyak, dan perang saudara Lebanon buku ini akhirnya diterbitkan. Dalam pembukaannya Said langsung menghadapkan saya dengan sebuah anekdot kecil. Ada seorang jurnalis Prancis melakukan kunjungan ke Beirut yang pada saat itu hancur akibat perang menulis dengan nada yang sangat menyesal bahwa pusat ibu kota itu dahulunya nampak seperti bagian dari Timur-nya Chateaubriand dan Nerval. Tetapi yang menarik bagi Said bukan seperti apa penyesalan jurnalis tersebut, melainkan apa yang tidak terlintas di pikirannya, bahwa orang-orang Timur sendiri punya kepentingan dan sedang menderita. Yang kabur di matanya adalah sebuah representasi Eropa tentang Timur. Di titik inilah Said mengungkapkan kalimat yang kemudian lumrah dikutip, “Timur nyaris merupakan temuan Barat”.
Berangkat dari hal tersebut, Said selanjutnya mengklasifikasikan tiga pengertian orientalisme yang menurutnya satu sama lain saling bertautan. Pengertian pertama yang menurut saya paling mudah untuk diterima, yakni Orientalisme merupakan sebuah sebutan akademik. Jadi, barang siapa pun yang mengajar, menulis, atau bahkan meneliti Timur, baik menggunakan sudut pandang sebagai filolog, sejarawan, antropolog, maupun sosiolog, adalah seorang Oriental, dan apa yang mereka upayakan merupakan Orientalisme. Dalam pengertian kedua, sebagai pengertian yang menurut saya lebih luas, Orientalisme sebagai sebuah cara berpikir yang berpijak pada perbedaan karakteristik ontologis dan epistimologis antara Timur dan Barat. Di sinilah para penyair, novelis, filsuf, hingga politikus ikut masuk dalam lingkaran tersebut, karena mereka sama-sama menggunakan perbedaan itu sebagai landasan pacu untuk mengkaji dan menulis tentang Timur. Pengertian yang paling tajam dan terasa bau-bau politisnya menurut saya ada di pengertian ke tiga ini. Orientalisme, sejak akhir adad ke-18 telah merekonstruksi dirinya sebagai sebuah institusi korporat yang mengurus mengenai kepentingan Timur, yakni merangkai pertanyaan-pertanyaan tentangnya, mengesahkan pandangan tertentu, memberikan gambaran, mengajarkan, memposisikan orang di sana, bahkan memerintahnya. Singkat penulis, menurut Said, Orientalisme merupakan setrategi Barat untuk mendominasi, menyususn ulang, dan menegaskan otoritasnya atas Timur.
Guna menjelsakan secara lugas atas pertanyaan “bagaimana semua itu dapat berjalan?”, Said meminjam dua pimikiran. Gagasan seputar “wacana” ia meminjam pemikiran Michel Foulcault, bahwa tanpa dengan upaya serius kita meneliti Orientalisme sebagai wacana, kita akan kesulitan memahami bagaimana budaya Eropa bisa mengelola dan bahkan memproduksi Timur secara politis, sosiologis, meliter, ideologis, ilmiah, dan imajinatif setelah pencerahan. Dari Antonio Gramsci, Said membedakan dominasi dengan menggunakan cara pemaksaan dan hegemoni melalui kesepakatan budaya. Dengan menggunakan pemikiran Gramsci, Said berani mengatakan bahwa hegemoni inilah yang membuat Orientalisme memiliki daya tahan. Ide-ide Barat tentang Timur kemudian dianggap hal yang wajar, bukan sebagai sebuah paksaan.
Dalam buku ini, ada satu hal yang bagi saya terasa sering kali diabaikan ketika kita tidak membaca secara tuntas dan penuh kehati-hatian. Said bahkan berkali-kali menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengatakan eksistensi Timur yang asli yang selelalu dipalsukan oleh Barat. Ia tidak sedang berusaha membela Timur yang sebenarnya, dan ia sendiri bahkan masih skeptis bahwa kategori semacam Timur dan Barat memiliki kestabilan ontologis. Yang ia sendiri soroti sebenarnya sejauh mana konsistensi internal wacana, artinya, bagaimana Orientalisme dengan terus-menerus dapat memproduksi pertanyaan yang saling mendukung atau menguatkan meskipun hubungannya dengan kenyataan di lapangan sering kali tipis. Oleh karena itu, dalam bacaan saya, Orientalisme terasa lebih banyak berbicara tentang Barat tinimbang konteks Timur.
Mengenai pembahasan metode apa yang digunnakan oleh Said? Ia mengaku menggunakan dua strategi. Ia sendiri menyebutnya Lokasi strategi dan formasi strategi. Yang pertama berkaitan erat dengan materi Timur yang ia tulis, sedangkan yang kedua menyangkut persoalan bagaimana kelompok teks, citra, dan genre saling mengutip hingga membentuk bangunan masa yang menumbuhkan kekuatan sendiri dari dalam. Said mengakui, ia tidak sedang menulis Sejarah Orientalisme secara komprehensif. Ia sebatas memilih sampel-sampel yang dianggapnya paling berpengaruh, oleh karenya ia fokus pada bagaimana tradisi Inggris, Prancis, dan belakangan Amerika, terutama dengan kaitannya dunia Arab dan Islam.
Ruang Lingkup Orientalisme
Dalam proses membaca dan memahami Bab 1 dalam buku ini, saya mengakui sangat kesulitan. Di sisi saya kurang dalam membaca pembahasan Orientalisme, bab 1 ini merupakan bab yang paling Panjang dan bisa dibaca sebagai fondasi utama dalam peroses memahami dua bab selanjutnya. Pembahasannya dibuka dengan dengan pidato Arthur James Balfour di hadapan Majelis Rendahan Inggris pada Juni 1910. Saat itu Balfour membela kekuasaan Inggris di Mesir, ia berargumen bahwa orang Inggris mengenali dan memahami budaya Mesir dan memiliki hak, bahkan wajib, mengatur negeri itu. Menurut dia, bagsa-bangsa Timur tidak mampu mengurus pemerintan diri sendiri, dan pengetahuan serta pemahaman Inggris lebih baik daripada pengetahuan mereka sendiri. Said mengkaji naskah pidato ini bukan sebagai kehilafan seorang politikus, melainkan sebagai contoh murni mengenai bagaimana pengetahuan dan kekuasaan saling mengikat. Memahami Timur sama artinya dengan bisa menguasai Timur, dan menguasainya sungguh dibenarkan karena pengetahuan itu sendiri.
Penguasa de facto Inggris di Mesir, dia adalah Cromer, berdiri di atas podium sebagai pasangan Balfour. Dalam tulisannya, Cromer menggeneralisasi doktrin bahwa orang Timur sebagai makhluk yang cara berpikirnya jauh dari kata logis, suka berbelit-belit, dan jauh berbeda secara mendasar dengan orang Eropa. Said menunjukkan secara gamblang kedua sosok ini lagi merbicara tentang orang Mesir, India, dan orang Arab seolah-olah mereka diposisikan sebagai satu kategori Tunggal yang bisa diperlakukan sama. Namun ini penting karena memang inilah kerja inti Orientalisme. Melebur keragaman yang sangat besar ke dalam satu jenis tungku manusia yang statis, bisa dengan mudah diprediksi, dan tentu saja perlu atau bahkan wajib diatur.
Pada bagian ke dua, yang menurut saya lebih mudah dipahamu daripada bagian pertama dan bagian ini yang terasa paling imajinatif. Said dalam usaha menjelaskan tentang batas antara “kita” dan “mereka”, ia menggunakan istilah geografi imajinatif, antara dunia dunia yang akrab dan yang asing, dan Batasan itu seringkali ditentukan oleh bayangan tinimbang oleh peta. Said menelusurinya secara geneologis hingga keakar-akarnya di zaman Yunani. Dalam drma Aeschylus, Persia dan Asia digambarkan sebagai wilayah yang berbeda secara moral dan budaya dari Yunani, sedangkan Euripides dalam Bacchae memperlihatkan Asia sebagai asal dari sesuatu yang mengancam sekaligus memikat. Berabad-abad kemudian, Dante meletakkan Muhammad dalam neraka dalam Inferno. Bagi sososk Said, Timur bagi mereka diposisikan sebagai panggung, seperti teater ruang di mana Eropa meletakkan hal-hal yang menakutkan atau ingin dipahami. Timur dibingkai dan dipertunjukkan bukan seharusnya didengar.
Di bagian inilah Said menyentuh gagasan yang kemudian menjadi salah satu inti dari bukunya, yaitu bahwa Islam bagi Eropa klasik hamper selalu menjadi ancaman yang sekaligus dekat. Islam dekat secara geografis dan teologis, akan tetapi tetap dijaga sebagai yang lain. Said mengungkapkannya dengan ungkapan memperlakukan Timur menjadi Timur (Orientalizing the Oriental). Artinya, mereka memberikan ciri-ciri tertentu yang sudah disiapkan, kemudian mereka mengakui ciri-ciri tersebut sebagai sebuah temuan.
Selanjutnya, Said mengajak kita ke ranah institusi dan proyek. Di sinilah muncul nama-nama para tokoh perintis yang fokus mempelajari Bahasa dan teks Asia serta mendorong lahirnya perkumpulan ilmiah, seperti Anquetil-Duperron dan William Jones. Lahirnya karya raksasa seperti Description de I’Egtpte dihasilkan dengan ekpedisi Napoleon ke Mesir pada tahun 1798. Said menggambarkan fenomena ini dengan sangat dramatis, karena antara ilmu pengetahuan dan meliter bekerja bersama. Mesir pada saat itu tidak hanya ditaklukkan, tetapi juga dicatatat, dipetakkan, dan dijadikan arsip. Said juga menyinggu Sejarah lebih jauh, seperti Keputusan Konsili Vienne pada tahun 1312 untuk mendirikan kursi Bahasa-bahasa Timur sebagai bagian dari Pelajaran di beberapa Universitas Eropa, yang kemudian menjadi tanda bahwa minat Eropa pada Bahasa Timur sudah lama bercampur dengan kepentingan teologis dan kepentingan untuk mengubah keyakinan.
Sebagai penutup dari bab 1 yang cukup Panjang ini dan sesuai dengan pertanyaan saya di muka, sungguh sulit dipahami. Singkat penulis, pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 Orientalisme menerima dorongen baru dari penemuan filologi, misalnya hubungan Bahasa Sanskerta dan Bahasa-bahasa Eropa,, yang memberi Kesan bahwa Eropa dan Timur punya akar yang sama. Tetapi keterampilan itu segera diarahken menjadi hearki. Timur menjadi sesuatu yang klasik, penuh dengan teks-teks agung masa lalu, dan Timur kontemporer dianggap mengalami degradasi. Orang Orientalis kemudian lebih mempercayai buku atau teks-teks tersebut daripada kehidupan dihadapannya. Ketika realiitas membingungkan, orang berlindung ke buku, dan ketika buku bertabrakan dengan realias, bukulah yang dianggap benar, nah Said dalam konteks ini menyebutnya sebagai sikap tekstual.
Struktur dan Restrukturasi Orientalisme
Kalau bab pertama menetapkan kerangka luas, bab kedua turun ke kasus-kasus yang lebih konkret dan terutama berfokus pada abad ke-19. Said mulai dengan pembahasan tentang bagaimana wacana religius disekularkan. Di sini ia memakai gagasan dari kritikus sastra M. H. Abrams tentang natural supernaturalisme, yaitu pergeseran dari kerangka agama menuju kerangka ilmiah dan budaya yang tetap mempertahankan struktur lama. Dalam konteks Orientalisme, artinya Timur tidak lagi hanya dilihat sebagai tanah Kitab Suci atau kafir, tetapi sebagai objek ilmu. Kategorinya berganti, tetapi pembagian dasar antara Eropa yang rasional dan Timur yang lain tetap bertahan.
Dua tokoh besar menjadi pusat bab ini, Silvestre de Sacy dan Ernest Renan. Sacy, orientalis Prancis yang menulis kumpulan teks Arab untuk keperluan pengajaran, dilukiskan Said sebagai bapak dari pendekatan yang mengumpulkan, mengutip, dan menyusun teks Timur menjadi semacam galeri yang rapi. Ia tidak sekadar menerjemahkan. Ia mengatur materi supaya bisa dikonsumsi pelajar Eropa, dan lewat itu ia menetapkan sebuah kanon. Said menyebut ini wacana yang hidup dari kutipan terpilih.
Direnan yang lain lagi. Said pernah menulis esai khusus tentang Renan sebelum buku ini, dan di sini ia menyatukan analisisnya. Renan memandang filologi sebagai laboratorium, tempat bahasa-bahasa Timur, terutama rumpun Semit, diuji seperti spesimen. Dalam pandangan Renan, bahasa Semit dianggap miskin, kaku, dan mencerminkan pikiran yang kurang mampu berabstraksi atau menghasilkan mitologi dan filsafat yang kompleks. Said menunjukkan bagaimana pernyataan ini lahir dari sains yang sedang bergengsi, sehingga prasangka rasial tampil dengan jubah ilmiah. Ia juga menyoroti bahwa pemikiran semacam ini sejalan dengan semangat zaman yang memuja klasifikasi, mulai dari biologi hingga ras. Di sini saya merasa Said paling meyakinkan. Ia tidak menuduh Renan sebagai orang jahat, melainkan menunjukkan betapa mudahnya seorang cendekiawan hebat menghasilkan kesimpulan merendahkan begitu kerangka dasarnya sudah menetapkan siapa yang boleh dikaji dan siapa yang mengkaji.
Lebih jauh, Said menyentuh persoalan yang menurut saya paling menarik secara manusiawi, yaitu apa yang terjadi ketika seorang sarjana benar-benar tinggal di Timur. Contoh utamanya adalah Edward William Lane, penulis Manners and Customs of the Modern Egyptians dan kamus Arab-Inggris yang monumental. Lane hidup di Kairo, berpakaian dan bergaul seperti penduduk setempat, dan fasih berbahasa Arab. Orang mungkin mengira pengalaman langsung semacam itu akan meruntuhkan stereotip. Said justru menunjukkan sebaliknya. Dalam buku Lane, orang Mesir muncul sebagai orang Mesir yang generik, dijelaskan dari luar dengan suara ilmiah yang netral, dan Lane sendiri nyaris menghilang dari teksnya padahal ia mengalami semuanya sebagai individu. Residensi tidak membuat Lane menjadi bagian dari mereka, melainkan membuatnya menjadi saksi ahli bagi pembaca Eropa. Pengalaman hidup ditransformasikan menjadi data.
Para penulis perjalanan dan sastrawan, termasuk Chateaubriand, Lamartine, Nerval, Flaubert, Kinglake, Burton, dan Disraeli. Said menunjukkan perbedaan gaya antara Prancis dan Inggris. Prancis cenderung membawa fantasi, nostalgia, dan sensualitas yang bersifat literer, sedangkan Inggris lebih sering membawa semangat praktis dan administrative yang dekat dengan kepentingan imperium. Tetapi keduanya sama dalam hal bahwa Timur tampil sebagai sesuatu yang telah dibaca sebelum dikunjungi. Para peziarah ini datang dengan teks di kepala mereka, lalu mengecek apakah dunia cocok dengan teks.
Contoh yang paling terkenal dan paling mengusik adalah Flaubert dan penari-pelacur Mesir bernama Kuchuk Hanem. Flaubert menulis tentang pertemuannya dengan perempuan itu dalam surat dan catatan perjalanannya. Said memperhatikan satu hal yang sederhana tetapi tajam. Kuchuk Hanem tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri. Yang berbicara adalah Flaubert. Dialah yang menggambarkan perempuan itu, menentukan siapa dia, dan mewakilkannya kepada pembaca. Di titik ini kita kembali ke epigraf Marx. Pada saat yang sama Said mencatat bahwa hubungan itu timpang secara kuasa, seorang lelaki Eropa dengan uang, status, dan kekuatan imperium berhadapan dengan seorang perempuan Mesir. Gambaran Timur sebagai feminin, sensual, pasif, dan tersedia bukan kebetulan, sebab Said menunjukkan bagaimana citra ini berulang dalam sastra dan wacana politik.
Orientalisme Masa Kini
Bab terakhir ini Said buka dengan sebuah tantangan bagi saya; di mana saya dihadapkan dengan dua bentuk Orientalisme. Dalam pembukaan ini otak saya dipaksa harus bisa membedakan garis tipis antara Orientalisme laten dan Orientalisme manifes. Orientalisme laten merupakan merupaka sebuah keyakinan yang nyaris tidak disadari, Timur bersikap tetap, eksotis, tertinggal, tidak rasional, dan butuh digambarkan oleh orang luar. Bagian ke dua, adalah Orientalisme manifes; sebingkai pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai masyarakat, Sejarah, Bahasa, atau politik yang sangat relatif dalam ruang dan waktunya. Namun, di balik Orientalisme manifes yang bersifat relative sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan politik ini, Said menegaskan bahwa fondasinya tetap tanpa sedikitpun bergeser. Oleh kerena itulah, Orientalisme bertahan hinngga sekarang meskipun ada di tengah-tengah banyaknya proses pergeseran paradigma.
Said mengamati dengan tajam mengenai bagaimana perkembangan Orientalisme menjadi bagian dari dunia nyata, bukan hanya sebagai tradisi kaku dalam perpustakaan. Ia menunjukkan bagaimana para ilmuan Timur dipakai pemerintah. Mereka diklasifikasikan menjadi penasihat, pegawai colonial, analis, dan bahkan keahlian-keahlian mereka digunnakan sebagai bahan baku kebijakan. Di bagian inilah Said juga memberikan catatan menarik mengenai Marx, baik dalam tulisan-tulisan Marx mengenai India, Said melihat ketegangan anatara simpati kemanusiaan pada penderitaan orang Asia dan keyakinan bahwa penghancuran masyarakat lama oleh Inggris merupakan syarat bagi revolusi sosial. Upaya Said dalam mengkaji tulisan-tulisan Marx, sama sekali ia tidak bermaksud menuduh Marx sebagai Oriental dalam arti negetif, tetapi Said hanya ingin memperlihatkan bahkan pemikir yang sangat kritis pun sulit lepas dari lingkaran kerangka romantic Orientalisme yang tersedia di zamannya.
Selanjutnya, Said mengajak kita jalan-jalan menelusuri ruang di abad ke-20. Sebagai pergesekan dialektis di abad tersebut, Said memperkenalkan dua tokoh besar kepada kita, yakni H. A. R. Gibb dari Inggris dan Louis Massignon dari Perancis. Namun, Said dengan menghadirkan dua tokoh ini bukan tanpa alasan. Ia memang menegaskan bahwa tidak ada satupun sarjana yang betul-betul mewakili tipe yang sempurna, tetapi karena Said menilai keduanya cukup mewakili kecenderungan nasional masing-masing. Bagi pandangan Said, Massignon lebih bersifat intuitif dan spiritual, sementara Gibb lebih ke ranah institusional dan terkait dengan kebijakan. Mesipun ia menegaskan bahwa hanya dua tokoh ini yang dapat mewakili, Said tidak berhenti di situ saja. Said juga menyinggung tokoh-tokoh lainnya seperti T. E. Lawrence dan Gertrude Bell, yang berusaha mengelaborasikan pertualangan pribadi, pengetahuan tentang Arab, hingga pekerjaan untuk imperium Inggris. Mereka merupakan sebuah figure yang merasa telah lebih memahami betul tentang dunia Timur tinimbang orang Timur sendiri, lalu memakai pengenalan itu untuk menentukan nasib mereka.
Said juga menyebut Snouck Hurgronje, sarjana Belanda, sebagai contoh bagaimana rasa identitas nasional seorang Orientalis tampak jelas ketika negaranya terlibat langsung dalam urusan negeri Timur tertentu. Bagi saya sebagai pembaca Indonesia, nama ini terasa dekat. Hurgronje adalah penasihat pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk urusan Islam dan Aceh, sehingga pola yang dibicarakan Said di Mesir atau Levant tidak terasa asing di Nusantara. Said sendiri tidak membahas Hindia Belanda secara panjang, tetapi tempat itu mudah dibayangkan sebagai bagian dari peta yang sama.
Oleh kerena itu, dalam pandangan Said, sekaligus yang paling terasa sebagai komentar kontemporer. Said menunjukkan bagaimana pusat kekuatan Orientalisme berpindah dari Inggris dan Prancis ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Di Amerika, Orientalisme tampil dalam bentuk studi kawasan dan ilmu sosial yang mengklaim lebih empiris dan modern. Gibb sendiri berpindah ke Harvard dan mengusulkan kerangka studi kawasan, sambil tetap menegaskan bahwa Orientalis klasik punya sesuatu yang perlu dilestarikan. Said memperhatikan bahwa meskipun bahasanya berubah menjadi lebih teknis, banyak asumsi lamanya tetap hidup, misalnya bahwa Islam adalah entitas tunggal yang menjelaskan segalanya tentang orang Muslim.
Dalam bagian ini Said juga mengkritik tulisan-tulisan para ahli Timur tengah Amerika seperti Gustave von Grunebaum dan Bernard Lewis, serta mengarahkan sorotannya pada analisis kebijakan luar negeri. Ia menyebut contoh Henry Kissinger, yang menurutnya memandang masyarakat non-Barat dengan kacamata yang mengingatkan pada Cromer, meski dengan bahasa teori hubungan internasional modern. Selain itu, Said memeriksa bagaimana media, film, dan budaya populer Amerika menggambarkan orang Arab sebagai sheik minyak, teroris, atau sosok yang licik dan fanatik. Ia menunjukkan bahwa gambar-gambar ini bukan murni karangan media. Mereka memakai kosakata yang sudah dipersiapkan oleh Orientalisme akademik selama berabad-abad. Hasilnya, orang Arab dalam wacana Amerika hampir selalu hadir sebagai masalah yang harus dikelola, bukan sebagai manusia dengan sejarah dan pilihan.
Dengan demikian, Said mengakui bahwa Orientalisme tidak sepenuhnya monolitik, dan ada ilmuwan yang berusaha keluar dari pola itu. Ia juga menekankan bahwa kritiknya bukan ajakan untuk menolak semua studi tentang Timur. Yang ia harapkan adalah pendekatan baru yang tidak lagi menganggap Timur sebagai objek pasif, dan yang mau mendengar suara-suara dari dalam wilayah itu sendiri. Ia menyebut perlunya kesadaran metodologis agar pengetahuan tentang budaya lain tidak otomatis berubah menjadi dominasi. Saya merasa nada penutup ini sedikit lebih reflektif dan lebih rendah hati dibanding nada garang di awal, walaupun Said tidak menawarkan resep yang rinci.
Apa Sebenarnya yang Saya Peroleh dari Membaca Buku ini?
Setelah selesai membaca buku, meskipun agak terburu-buru, mungkin karena hal tersebut kesan saya campur aduk. Di satu sisi saya kagum pada keluasan bacaan Said dan pada keberaniannya menyatakan sesuatu yang di zamannya masih terasa tidak sopan di lingkungan akademik. Di sisi lain, ada bagian yang membuat saya ingin menutup buku sebentar karena argumennya berputar-putar dan kadang kabur. Itu bagian dari pengalaman membaca saya, dan saya kira Said tidak keberatan dengan itu.
Yang paling saya ingat dalam buku ini adalah gagasan bahwa pengetahuan tidak pernah sepenuhnya polos. Cara kita menjelaskan kelompok lain, entah itu bangsa, agama, atau budaya, selalu membawa kepentingan, kebiasaan, dan hierarki yang kita warisi, sering tanpa kita sadari. Bagi pembaca di Indonesia, yang punya sejarah panjang sebagai objek sekaligus pelaku representasi, gagasan itu menurut saya mungkin terasa relevan. Kita bisa ikut membaca bagaimana kolonialisme membentuk cara orang luar melihat Nusantara, tetapi juga bertanya bagaimana kita sendiri kadang meniru pola yang sama ketika menggambarkan daerah lain atau kelompok lain di negeri sendiri.
Kesimpulan terakhir dari saya, bahwa buku Orientalism karya Edward W. Said bukan buku yang mudah, dan tidak semua argumennya akan diterima begitu saja, mungkin karena saya kurang memperhatikan secara mendalam dalam proses membacanya. Tetapi ia sangat layak dibaca karena menurut saya, buku ini memaksa kita memeriksa ulang siapa yang berbicara, sdan siapa yang selama ini hanya dibicarakan.
Tinggalkan Balasan