Oleh: Moh. Shafwan Mughrobi
Judul: ADA SERIGALA BETINA DALAM DIRI SETIAP PEREMPUAN
Penulis: Ester Lianawati
Penerbit: Buku Mojok Group
Cetakan: ke-18, April 2026
Ada salah satu kutipan yang terus membayang dalam benak saya setelah menutup halaman terakhir:
“Perempuan tidak pernah dididik untuk mengambil keputusan, untuk bertanya kepada dirinya apa yang sesungguhnya ia inginkan. Perempuan kehilangan kemampuannya untuk mendengarkan suara hati karena tidak pernah diberi kesempatan untuk menelisik ke dalam diri.”
Kalimat ini tidak menyerang. Ia tidak membentak, tidak pula menuduh. Ia hanya duduk di sudut kesadaran, diam-diam mengunyah, dan perlahan-lahan membuka sebuah pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang sebenarnya hilang dari diri seorang perempuan ketika ia tidak pernah diajari mendengarkan suara hatinya sendiri?
Ester Lianawati, psikolog feminis yang lama menetap di Prancis, menamai “sesuatu” yang hilang itu dengan metafora unik: serigala betina. Bukan serigala yang mengaum di hutan, melainkan serigala yang tertidur di dalam diri—yang dibungkam oleh tuntutan untuk menjadi “perempuan baik-baik”. Serigala itu tidak mati. Ia hanya menunggu dibangunkan.
Buku ini hadir ketika angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia tidak pernah benar-benar turun. Komnas Perempuan mencatat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun lalu, namun angka itu diyakini jauh di bawah kenyataan karena banyak korban memilih diam. Mereka diam bukan karena tidak tahu bahwa mereka disakiti, melainkan karena—seperti ditulis Ester Lianawati—tidak pernah diajari untuk mempercayai penilaian mereka sendiri.
Buku ini bergerak dari satu pertanyaan dasar: mengapa perempuan kehilangan kemampuan mendengarkan suara hatinya? Bagian pertama, Psikologi Feminisme: Apa dan Bagaimana, membedah akar psikologisnya dengan mengkritik Freud, Erikson, dan Jung yang dianggap misoginis. Bagian kedua, Semesta yang Tak Terlihat, menawarkan metafora serigala betina sebagai alternatif—representasi intuisi dan keberanian yang selama ini ditekan. Bagian ketiga, Mari Kita Bicarakan Kekerasan terhadap Perempuan, menghadapi konsekuensi paling brutal dari hilangnya suara hati itu: kekerasan seksual, trauma, dan proses pemulihan yang tidak instan.
Ester Lianawati tidak pernah menyebut istilah split consciousness. Namun ia menggambarkannya dengan cara yang membuat saya merasa ia sedang menulis tentang saya. Perempuan yang tumbuh dalam patriarki belajar memisahkan diri dari perasaannya sendiri. Ada “diri yang ditampilkan” dan ada “diri yang disembunyikan”. Dari perpecahan itu lahir chronic self-doubt—perempuan yang secara objektif kompeten tetap merasa sebagai “penipu” yang akan segera terbongkar. Ester menulis bahwa “perempuan tidak harus merasa cantik untuk bisa mencintai diri sendiri”. Kalimat sederhana itu menyentuh akar keraguan kronis tadi: perempuan diajari bahwa nilai dirinya bergantung pada penilaian orang lain. Sayangnya, Ester berhenti di diagnosis. Ia menggambarkan luka ini dengan gamblang, tapi tidak benar-benar menunjukkan bagaimana perempuan bisa keluar dari sana.
Ada ironi pahit dalam cara patriarki mempertahankan dirinya: ia tidak perlu bekerja sendiri. Ester Lianawati menyebut fenomena ini sebagai “validasi terhadap emosi terlarang”—ketika sesama perempuan saling mengecam mereka yang berani melenceng dari norma. Dalam budaya siber Indonesia, ini menjadi semacam kemenangan sistem: perempuan menjadi garda terdepan yang saling menjatuhkan, dari body shaming hingga penghakiman moral. Buku klasik Phyllis Chesler, Woman’s Inhumanity to Woman, mengungkap bahwa perempuan secara tidak sadar mengadopsi pesan misoginis yang meresap dalam budaya. Di Indonesia, fenomena ini terlihat dalam dinamika seperti “mompetition” dan pelabelan “pelakor”. Ester menulis bahwa “sejak bayi dia tidak pernah ditanya, didengarkan, dan dihargai pendapatnya”—dan ketika perempuan dewasa saling menghakimi, sistem tidak perlu repot bekerja. Perempuan telah menjadi algojo bagi sesamanya. Ester tajam dalam mendiagnosis, tapi ketika sampai pada pertanyaan bagaimana solidaritas antarperempuan bisa dibangun kembali, ia tampak kehabisan kata.
Pada akhirnya, semua lapisan tadi bermuara pada satu pertanyaan: siapa yang berhak atas tubuh dan hidup seorang perempuan? Ester Lianawati menjawabnya dengan konsep “otoritas tubuh”—gagasan bahwa perempuan harus memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri, bukan hanya secara hukum, tetapi secara psikologis dan kultural. Dalam konteks digital Indonesia, perempuan terus diawasi dan dinilai publik—sebuah kondisi panoptik digital di mana norma gender mendisiplinkan mereka secara halus. Di media sosial, perempuan berusaha menetapkan batas dengan cara mereka sendiri. Frasa seperti “selain donatur, dilarang ngatur” bisa dibaca sebagai upaya simbolik perempuan menetapkan batas, meski masih mengandung logika kapitalistik. Ester menolak logika bahwa tubuh perempuan adalah objek yang bisa dikontrol. Ia menawarkan pembebasan yang dimulai dari kemampuan mendengarkan suara hati—dan dalam setiap perempuan, ada serigala betina yang menunggu dibangunkan.
Kelebihan: Buku ini berhasil menjembatani teori psikologi feminis yang berat dengan bahasa yang mengalir. Ester Lianawati adalah salah satu penulis Indonesia yang berani mengkritik Freud secara terbuka—dan ia melakukannya tanpa terjebak jargon akademis. Ia menjelaskan konsep penis envy dengan cara yang bisa dipahami pembaca awam, tanpa mengurangi kedalaman kritiknya. Metafora “serigala betina” adalah salah satu metafora paling kuat dalam literatur feminis Indonesia kontemporer—ia tidak menakutkan, tetapi membebaskan.
Kekurangan: Namun, buku ini bisa terasa terlalu fokus pada pengalaman perempuan urban dan terdidik. Bagian tentang “perempuan penyihir” misalnya, lebih relevan bagi pembaca yang akrab dengan teori feminis Barat. Pembaca dari kalangan buruh, perempuan desa, atau mereka yang terjebak dalam kekerasan struktural yang lebih keras mungkin merasa buku ini belum sepenuhnya mewakili kompleksitas pengalaman mereka. Selain itu, beberapa bagian terasa repetitif—gagasan yang sama diulang dengan kalimat berbeda, yang bisa membuat pembaca kehilangan momentum.
Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan bukan buku yang bisa dibaca sekali lalu selesai. Ia buku yang mengendap, yang menunggu untuk dibaca ulang ketika seseorang mulai lupa lagi cara mendengar suara hati—baik suara hati perempuan maupun suara hati siapa saja yang pernah dibungkam oleh tuntutan untuk menjadi “baik”.
Buku ini cocok untuk mahasiswa yang sedang belajar memahami feminisme—bukan sebagai ideologi yang menakutkan, tetapi sebagai alat untuk membaca luka dan mencari jalan keluar. Cocok untuk perempuan yang lelah menjadi “baik” dan ingin belajar menjadi utuh. Cocok pula untuk pembaca mana pun yang percaya bahwa pembebasan dimulai dari kemampuan mendengarkan diri sendiri.
Buku ini untuk siapa saja yang pernah merasa suaranya tidak cukup penting untuk didengar. Untuk perempuan yang lelah menjadi “baik”. Untuk laki-laki yang ingin memahami mengapa perempuan di sekitarnya begitu sering merasa tidak cukup. Ester Lianawati tidak menawarkan solusi instan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga: izin untuk mendengarkan suara hati yang selama ini dibungkam. Dan kadang-kadang, izin itu adalah langkah pertama yang paling sulit.
Sebagai penutup, berikut profil singkat buku ini.
Profil Singkat Penulis
Ester Lianawati adalah psikolog lulusan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta yang menyelesaikan program S-2 pada Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia. Menetap di Prancis sejak 2012, ia aktif melakukan penelitian di Hypatia, pusat kajian psikologi dan feminisme, serta mendampingi perempuan korban KDRT dan perempuan migran. Pengalaman inilah yang membentuk perspektifnya bahwa setiap perempuan menyimpan “serigala betina” yang menunggu dibangunkan—dan membuat bukunya tidak terjebak pada teori, melainkan berbicara dari luka yang nyata.
Tinggalkan Balasan