Oleh: Mohammad Fawaid Ali

Aku adalah Nahkoda bagi kapal yang compang-camping,
menantang ombak dengan kerangka kayu penuh tambalan.
Setiap inci kayu ini telah kupahat dengan doa yang hening,
namun badai selalu lebih cepat menghancurkan harapan.

Haruskah kapal serapuh ini tetap dipaksa berlayar jauh
menuju dermaga yang bahkan tak pernah menyalakan lampu?
Aku kehilangan arah hingga petunjuk kian menjauh,
namun yang kutemui hanyalah kabut dan karang yang menghadang.

Sering kali aku ingin tenggelam saja di dasar samudera,
sebab setiap pelabuhan seolah menolak jangkar yang kulemparkan.
Tubuhku penuh garam, mataku perih menatap malam yang kelam,
meratapi perjalanan yang tak pernah membawaku pada tepian.

Namun, aku akan tetap memutar kemudi menuju ujung dunia,
memperbaiki mesin dengan sisa tenaga yang masih ada di dada.
Aku percaya, kelak kapal ini akan menemukan daratan yang menjanjikan,
menjadi penguasa laut yang disambut sorak-sorai dan cinta.

Semoga esok, ombak tak lagi menghantam untuk menenggelamkan,
melainkan mendorongku menuju pelabuhan yang paling terang.
Aku ingin bersandar dengan martabat yang tak lagi dipatahkan,
sebagai pelaut yang akhirnya membawa kemenangan.